• 118
    Shares

MOJOK.CO – Revolusi tidak melulu tentang hal-hal besar seperti mendirikan negara khilafah atau #2019GantiPresiden, kita bisa memulainya dengan hal-hal yang lebih sederhana seperti desain anak tangga atau kloset.

“Kamu harus bisa mencegah revolusi kembali terjadi di Indonesia,” pesan papa saya. Pesan yang aneh untuk seorang pemuda yang dikirim ke Jogja untuk belajar arsitektur. Kelak saya menduga-duga, besar kemungkinan papa saya itu pernah membaca ungkapan yang diucapkan Le Corbusier: “Arsitektur atau revolusi.”

Corbu percaya bahwa arsitektur bisa dipakai sebagai alat untuk mencegah terjadinya revolusi yang berbasis pertarungan kelas. Salah satu nabi arsitektur modern itu sepertinya memandang dunia dan pekerjaannya terlalu serius.

Saya tentu tidak se-lebay Corbu atau papa saya, tapi kalau revolusi diartikan sebagai perubahan mendasar dalam suatu bidang, maka arsitektur bisa menyediakan jalannya.

Saya ingat ketika salah satu dosen pengampu saya membuat repot mahasiswanya dengan menugaskan mereka untuk mengukur tempat duduk yang dibuat sendiri oleh rakyat. Seminggu penuh saya keliling Jogja hanya untuk mengukur buk bikinan warga. Sesekali mengamati juga perilaku orang di atasnya.

Saya ingat bahwa saya lupa untuk mengukur bangku kecil yang dalam Bahasa Jawa disebut dingklik. Saya ingat karena tujuan proyek itu sebenarnya adalah untuk mencari solusi dari kebiasaan orang yang suka duduk-duduk di tangga atau undak-undakan.

Ada rumusnya untuk menghitung lebar dan tinggi anak tangga itu, tapi nggak usahlah saya bagikan. Kalian, membedakan satuan panjang dan luas aja masih suka bingung. Sederhananya, lebar anak tangga minimal harus 30 cm sementara tingginya maksimal 20 cm.

Lebih dari 20 cm, tangga akan terlalu curam dan membahayakan. Tukang yang berpengalaman akan menyarankan anak tangga dengan ketinggian 17-18,5 cm karena 20 cm itu pun masih terlalu berat untuk dijalani. Terutama oleh mereka yang ditolak masuk surga karena urusan berat badan.

Celakanya, baik ukuran yang disarankan tukang maupun yang diambil berdasarkan rumus itu ternyata memang enak banget buat dipakai duduk. “Lalu berapa ukuran yang pas?” kalian mungkin bertanya. Lha rumangsamu kuliah arsitek ora mbayar?

Tapi mari kita periksa, tangga-tangga yang dibuat tanpa perencanaan yang matang itu biasanya, kalau di tempat publik, adanya di ruang servis. Ruang untuk karyawan. Kalau di rumah-rumah, kalian boleh periksa tangga untuk pembantu di rumah kalian yang menuju ruang jemur. Sudahlah curam, licin terkena air cucian pula.

Kalau Marx dan Engels berteori bahwa revolusi terjadi karena persaingan kelas antara kaum proletar, yang bekerja keras dan melakukan hampir segalanya, kemudian diperas oleh kaum borjuis, yang nyaris nggak ngapa-ngapain kecuali tanam modal, maka dari sudut pandang aristektur, revolusi bisa meletus karena kaum proletar sudah terlalu capek naik-turun tangga.

Masih nggak percaya arsitek bisa mencegah revolusi?

Kali lain dosen saya itu menugaskan mahasiswanya untuk merancang, bukan gedung pusat perbelanjaannya, tapi jalanan di sekitar mal. Isunya, jalanan di sekitar mal kerap dimanfaatkan warga sekitar, atau preman, untuk dijadikan tempat parkir liar. Dan ini bisa mengganggu kelancaran lalu lintas. Bikin macet.

Baca juga:  Yang Menang dan yang Kalah karena Kiriman Karangan Bunga

Saya ingat, sementara teman-teman saya mengajukan desain-desain yang ajaib, saya justru tidak mengumpulkan tugas. Sang dosen, yang hafal kelakuan dan pikiran saya yang suka aneh-aneh, langsung memberondong. “Kenapa kamu nggak ngumpulin tugas? Karena kamu pikir saya gak pro rakyat kecil ya? Karena kamu pikir saya ini antek kapitalis ya, yang menyediakan area drop off buat mereka yang pakai mobil tapi naruh parkir motor di basement, mana cuma dipagari pakai rafia pula?

Dicecar begitu rupa, saya cuma bisa menjawab singkat, “Kemarin sahaya ketiduran, Pak….”

Nah, kali ini, arsitek bisa mencegah pecahnya revolusi cuma gara-gara ketiduran.

Jekardah belakangan ini sedang ramai membahas soal sungai, sampah, dan bau. Soal ini juga sering dibahas di kuliah-kuliah di tempat saya menimba ilmu. Pertanyaannya, apakah sungai-sungai di Indonesia kotor—dan orang suka membuang sampah ke dalamnya—karena  rumah-rumah di sepanjang alirannya posisinya membelakangi sungai?

Dosen saya—yang usil tadi—memaksa saya seminggu penuh mengukur buk seantero Jogja dan menghubung-hubungkan tempat parkir dengan kapitalisme. Sambil menunjukkan slide sungai-sungai di Eropa, di dekat tempat kelahiran saya, yang bening dan berkilau seperti kening Siti Badriah. Rumah-rumah di sekitarnya memang menghadap ke sungai semua. Logikanya, kalau sungai adalah halaman depannya, maka orang malu untuk menumpuk sampah di situ.

Lain waktu beliau menunjukkan slide lain yang kalau dalam bahasa ibu saya istilahnya mind blowing: sungai yang tetap bersih walaupun dibelakangi oleh rumah warga. Tentu saja masih di Eropa, sekali lagi, di dekat tempat kelahiran saya. Di titik ini, mereka yang pesimis akan berkata bahwa toh arsitektur tidak bisa apa-apa. Tapi memang ketika kuliah itu dan sampai saya lumutan menekuni profesi arsitek partikelir ini, saya tidak ingat masalah itu ada solusi dari sisi arsitekturalnya.

Lalu orang mulai menuding budaya, membandingkannya dengan Jepang—negeri yang ogah saya kunjungi karena takut diajak main film sama Kakek Sugiono. Budaya, Sodara-sodara, bukan sesuatu yang tumbuh dalam satu malam. Lagian, saya kok nggak yakin kalau nyampah itu budaya kita. Di lagu sudah jelas, nenek moyang kita itu pelaut, bukan tukang nyampah.

Kalaupun kita mau memulai gerakan buang sampah sebagai budaya, saya pikir kita sudah punya perangkatnya. Di Bali, misalnya, kita bisa pakai aturan adat. Atau di belahan Indonesia yang lain, yang terkenal religius ini, kita bisa pakai dalil agama. Gubernur saja bisa rontok pakai dalil agama, apalagi cuma sampah?

Sayangnya, arsitek bukan tukang khotbah. Tapi dalam pikiran saya—tentu saja ini cuma pikiran seorang arsitek keturunan Eropa yang terjebak dalam tubuh rakyat jelata—masalah sampah itu kan sederhana. Dikumpulkan, didistribusikan, lalu diolah. Arsitek bisa membantu mulai dari pengumpulannya, dengan merancang tempat sampah tentu saja.

Supaya sedikit ilmiah, kita bisa meneliti juga dalam radius berapa orang akan membuang sampah. Dengan begitu kita bisa menentukan setiap berapa meter harus disediakan tempat sampah. Atau kalau memang nyampah itu budaya orang Indonesia, kita buat saja bak sampah sepanjang sungai dari ujung ke ujung.

Seorang teman pernah bercerita bahwa di Jepang ada sebuah pedestrian yang panjang, lurus, dan membosankan. Pemerintah daerah setempat mengakalinya dengan menempatkan kotak-kotak yang kalau dibuka aman memberi bermacam-macam kejutan dalam interval tertentu. Orang diajak untuk bermain dan hasilnya jadi ikhlas menempuh pedestrian yang membosankan itu dengan berjalan kaki.

Baca juga:  Bercita-cita Jadi Dokter Spesialis Tapi Malah Depresi Saat Jadi Residen

Tempat sampah yang dirancang dengan baik, saya kira juga bisa memicu terjadinya revolusi kebudayaan. Kalau nyampah tadi memang budaya kalian.

Ngomong-ngomong soal Jekardah dan sungainya, saya jadi ingat tulisan lama saya di Mojok soal kloset. Desain kloset, kata Slavoj Zizek, menggambarkan juga cara berpikir sebuah bangsa.

Kloset dengan lubang di belakang adalah desain Amerika. Orang Amerika tidak terlalu banyak berpikir, kecenderungannya malah bertindak dulu baru berpikir kemudian. Contoh paling gamblang adalah ketika mereka membombardir Irak kemudian baru mencari-cari alasannya. Begitu nggak ketemu, mereka pulang. Seperti klosetnya, plung-lang, nyemplung lalu ngilang.

Kloset Eropa lubangnya di depan dengan genangan air di mangkuknya. Orang Eropa suka berpikir, menimbang-nimbang, terombang-ambing seperti tokai sebelum mengambil keputusan. Saya sudah hafal ini, mengingat kelakuan tetangga-tetangga papa saya di Eropa dulu. Tapi kalau kalian mau contoh, penyatuan mata uang Eropa dan keluarnya Inggris dari Uni-Eropa yang bertele-tele adalah salah duanya.

Kloset Indonesia, kalian boleh memeriksanya di bandara atau mal-mal, lubangnya di belakang tapi tetap ada genangan airnya. Zizek sih memang tidak bilang apa-apa soal ini, tapi perkiraan saya, orang Indonesia ini kalau ada masalah sebenarnya sudah tahu solusinya tapi lebih suka berputar-putar dulu mendengarkan saran dari banyak orang.

Contohnya ya pemerintah Jekardah itu, sudah tahu sungai kotor dan bau harus dibersihkan, tapi mereka memilih untuk mengecatnya dulu, menutupnya dengan kain dulu, menyemprotnya dulu, sebelum akhirnya ya dibersihkan dan digelontor juga.

Tapi belajar dari pengalaman saya bahwa revolusi tidak melulu tentang hal-hal besar seperti mendirikan negara khilafah atau #2019GantiPresiden, kita bisa memulainya dengan hal-hal yang lebih sederhana.

Sungai yang hitam, misalnya, tujuh juta alumni 212 yang dulu berhasil membawa Pak Anies menduduki jabatannya yang sekarang bisa kembali menyerbu Jekardah untuk membantunya membersihkan Kali Item. Tidak ada lagi penista agama untuk dikirim ke penjara, tapi ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh 14 juta tangan. Agama bisa jadi rahmat, bukan hanya untuk manusia, tapi juga bagi ikan-ikan yang ada di sungai—yang artinya benar-benar berguna bagi seluruh alam semesta.

Pendukung Pak Ahok yang masih belum bisa move on juga bisa mengubah tampilan kota Jekardah secara revolusioner kalau mau. Dengan beramai-ramai mengirim tiang besi ke Balaikota Jekardah seperti dulu mereka beramai-ramai mengirim karangan bunga ke sana. Alasannya mungkin bukan untuk membantu Pak Anies, tapi untuk menyindir karena cuma bisa menyediakan tiang bambu untuk menyambut Asian Games.

Kalau revolusi di Surabaya di masa lalu diawali dengan insiden bendera di Hotel Yamato, siapa tahu Jekardah juga bisa berubah total karena insiden tiang bendera.

Salam revolusi dari arsitek partikelir blasteran Eropa yang terjebak dalam tubuh rakyat jelata.

Hasta la victoria siempre!

  • 118
    Shares


Loading...



No more articles