Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Fragmen

Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
28 Januari 2026
A A
sekolah negeri, sekolah swasta.SALAM, sekolah di Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - sekolah negeri vs sekolah swasta (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sekolah negeri adalah tulang punggung pendidikan Indonesia. Sayangnya, ia kini makin kurang diminati. Orang tua mulai berbondong melirik sekolah swasta bagi anak-anak mereka.

***

Iklan

Januari 2026. Di atas kertas, ia hanyalah bulan pertama dalam kalender masehi. Namun, bagi jutaan orang tua di Indonesia, Januari adalah garis start dari perlombaan panjang bernama “berburu sekolah”. 

Meskipun tahun ajaran 2026/2027 baru akan dimulai pada pertengahan tahun, mesin pencarian Google sudah riuh dengan kata kunci “biaya masuk”, “akreditasi”, hingga “fasilitas sekolah”.

Lestari (38), misalnya. Seorang karyawan swasta di Solo ini adalah salah satu orang tua yang sudah mencuri start. Sejak minggu pertama Januari, ia sudah berburu informasi dari empat sekolah berbeda untuk anak sulungnya yang akan naik ke jenjang SMP.

“Jujur saja, kalau cuma ngandelin zonasi di sekolah negeri, hati saya nggak tenang,” ujarnya, Selasa (27/1/2026). 

Kendati demikian, ia mengaku bahwa alasan utamanya bukan cuma soal jarak. Lestari juga mempertimbangkan biaya masuk, fasilitas mumpuni, hingga jam belajar yang lebih fleksibel. Kata dia, beberapa sekolah negeri yang ia tahu, tak masuk pertimbangan itu.

“Di swasta, saya malah merasa punya kontrol lebih besar atas apa yang didapatkan anak saya dengan biaya yang saya keluarkan,” tegasnya.

Cerita Lestari hanyalah satu dari ribuan potret keluarga kelas menengah yang mulai “belok” ke arah pendidikan swasta. Sebuah tren, menurut laporan sejumlah media, memang sedang mengemuka: sekolah negeri tak lagi menjadi “harga mati”.

Lihat saja data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan berbagai lembaga riset yang menunjukkan adanya pergeseran minat. Masyarakat, kini, mulai melirik sekolah swasta. Bukan lagi sebagai pilihan cadangan, tetapi menjadi prioritas utama.

Sekolah negeri cuma jadi primadona di jenjang dasar

Secara statistik, dunia pendidikan Indonesia menunjukkan wajah yang terbelah. Data BPS mengonfirmasi bahwa sekolah negeri masih mendominasi jenjang pendidikan dasar. Sebesar 86,75 persen siswa SD masih bersekolah di lembaga plat merah. 

Namun, dominasi ini merosot tajam seiring naiknya jenjang pendidikan. Pada tingkat SMP, misalnya, angka ketergantungan pada sekolah negeri turun ke 55,86 persen. Puncaknya terjadi di pendidikan menengah: sekolah swasta mengambil alih panggung dengan menguasai 51,53 persen siswa SMA dan angka fantastis 73,65 persen di jenjang SMK.

Penurunan jumlah siswa di SD Negeri–terutama pada periode 2021 hingga 2024–menjadi alarm darurat bagi pemerintah. Memang ada faktor demografis seperti penurunan angka kelahiran, tetapi riset dari SMERU Research Institute menunjukkan variabel lain. Yakni adanya perpindahan penduduk ke wilayah perkotaan di mana variasi sekolah swasta jauh lebih melimpah dan akses transportasi lebih mendukung. Dalam hal ini, faktor kebijakan zonasi berpengaruh.

Riset SMERU menyoroti bahwa pilihan ini bukan sekadar soal selera akademik, melainkan refleksi dari kapasitas ekonomi keluarga. Kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan menengah ke atas, cenderung menganggap biaya sekolah swasta yang tinggi sebagai investasi untuk mendapatkan “nilai tambah”, seperti jaringan sosial (networking) dan fasilitas ekstrakurikuler yang lebih variatif. 

Sebaliknya, bagi keluarga berpendapatan rendah, sekolah negeri dengan berbagai subsidinya tetap menjadi satu-satunya jaring pengaman agar anak-anak mereka tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa terbebani biaya operasional.

Selain itu, SMERU menemukan bahwa konsentrasi sekolah swasta berkualitas tinggi di wilayah perkotaan menciptakan segregasi yang kian nyata. Di kota-kota besar, orang tua memiliki kemewahan untuk memilih model pendidikan yang paling cocok dengan karakter anak, didukung oleh akses transportasi yang memadai. 

Sementara di wilayah pedesaan atau pinggiran, pilihannya sangat terbatas, sehingga ketergantungan pada sekolah negeri tetap mutlak. Fenomena ini mengonfirmasi bahwa akses terhadap kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat ditentukan oleh di mana sebuah keluarga tinggal dan seberapa kuat daya beli mereka.

Mengapa mau bayar mahal buat sekolah swasta

Pertanyaan besarnya: in this economy, mengapa orang tua bersedia merogoh kocek lebih dalam untuk sekolah swasta?

Iklan

Riset berjudul “Telaah Pendidikan: Preferensi Orang Tua Memilih Sekolah Swasta daripada Sekolah Negeri” yang terbit di Jurnal Equilibrium (2023), menemukan bahwa preferensi orang tua sangat dipengaruhi oleh persepsi terhadap kualitas layanan dan fleksibilitas kurikulum.

Orang tua masa kini, terutama dari kelas menengah ke atas, cenderung melihat pendidikan sebagai investasi. Mereka mencari lingkungan belajar yang dianggap lebih kondusif dan fasilitas yang lebih modern. 

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa sekolah swasta seringkali dianggap lebih “lincah” dalam mengadopsi kebutuhan zaman. Seperti integrasi teknologi digital atau penguatan karakter keagamaan, jika dibandingkan sekolah negeri yang terikat birokrasi kaku.

Hal ini diakui sendiri oleh Lestari. Ia tak mempermasalahkan membayar biaya sekolah lebih mahal, asalkan anaknya mendapatkan “kemewahan” dalam mencari ilmu. Baginya, membangun pondasi yang kuat, dalam hal ini menyekolahkan anaknya di sekolah berkualitas, bakal mempermudah perjalanan anaknya di masa mendatang.

“Paling nggak kalau sekolah anak saya berkualitas, apa yang dia dapatkan juga berkualitas. Bersaing lebih gampang, mencari kampus setelah lulus pun juga mudah,” ungkapnya.

Jurang pemisah antara fasilitas dan kualitas guru

Kesenjangan ini diakui secara gamblang oleh para pemerhati pendidikan. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriawan Salim, menyoroti bahwa masalah di sekolah negeri bukan sekadar soal fisik gedung, tetapi juga distribusi kualitas guru dan beban administratif yang mencekik. Ia menegaskan bahwa guru di sekolah negeri seringkali terjebak dalam pusaran birokrasi.

“Guru di sekolah negeri saat ini sudah kehabisan energi hanya untuk mengurus administrasi di berbagai aplikasi. Akibatnya, waktu esensial untuk memikirkan inovasi dan kualitas pembelajaran di dalam kelas justru sering kali menjadi nomor sekian,” ujarnya, sebagaimana Mojok kutip dari AlineaID, Rabu (28/1/2026).

Kondisi inilah yang menurutnya menciptakan jurang lebar: saat sekolah negeri “terbelenggu” aturan teknis yang kaku, sekolah swasta justru memiliki keleluasaan untuk berlari kencang dengan program-program kreatif yang lebih menjawab kebutuhan personal siswa.

Senada dengan itu, pengamat pendidikan Indra Charismiadji berpendapat bahwa sistem pendidikan Indonesia masih gagap dalam menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, sekolah swasta lebih cepat menangkap peluang untuk memberikan keterampilan abad ke-21 kepada siswa. 

“Ketika sekolah negeri masih berkutat dengan standarisasi minimal, sekolah swasta sudah menawarkan diferensiasi yang menjadi daya tarik bagi orang tua yang memiliki daya beli tinggi,” ungkapnya.

Indra menekankan bahwa jika pemerintah tidak segera melakukan terobosan dalam meningkatkan efisiensi pendidikan negeri, maka segregasi atau pemisahan kelas sosial berdasarkan kualitas pendidikan akan semakin tajam.

Sekolah negeri tetap menjadi “tulang punggung” pendidikan

Menanggapi fenomena ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sekolah negeri tetap menjadi “tulang punggung” sistem pendidikan nasional. 

Menurut dia, “perannya tidak tergantikan”, terutama dalam menjamin hak pendidikan bagi masyarakat di luar wilayah perkotaan dan kelompok berpendapatan rendah.

Pemerintah menyadari adanya pergeseran ini. Kemendikdasmen, yang mengedepankan visi “Pendidikan Berkemajuan”, berupaya mereformasi sekolah negeri agar tidak hanya unggul secara kuantitas, tapi juga kualitas. 

Fokusnya, adalah pada pemerataan fasilitas dan peningkatan kompetensi guru agar sekolah negeri bisa kembali kompetitif di mata masyarakat perkotaan.

“(Sekolah) swasta itu tidak kami anggap sebagai kompetitor, tetapi kami anggap sebagai mitra dari pemerintah. Negara itu harus berdiri di atas semua kekuatan masyarakat, baik itu negeri maupun swasta,” ujarnya, dikutip dari Pikiran Rakyat, Rabu (28/1/2026).

Pada akhirnya, bagi orang tua seperti Lestari, mendaftarkan sekolah negeri atau swasta adalah pilihan. Meskipun, fenomena kiwari cukup untuk menunjukkan betapa lebarnya jurang pemisah antara kualitas pendidikan di sekolah swasta dengan sekolah negeri di Indonesia.

“Pada akhirnya, kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Alasan Orang Tua di Jogja Tidak Memasukkan Anaknya ke Sekolah Formal karena Sistem Pendidikan Indonesia Tidak Berubah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2026 oleh

Tags: kemendikdasmenSDsekolah negerisekolah negeri vs sekolah swastasekolah swastasistem zonasiSMASMKSMPzonasi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.