Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Januari 2026
A A
ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.

Ilustrasi - Siswa SMA (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang ibu dua anak nekad kembali mendafatar SMA demi bisa meraih cita-citanya kuliah kedokteran. Salah satu motivasinya adalah untuk memutus rantai kemiskinan.

***

Iklan

Bayangkan, suasana sebuah kelas yang riuh oleh remaja berusia 15 tahun setiap pagi. Itu pemandangan yang biasa saja.

Namun, di tengah keramaian siswa kelahiran 2009 dan 2010, di ruang kelas 10A1 itu, ada sosok yang berbeda. Ia adalah Pham Thuy Kieu Huong, perempuan berusia 28 tahun yang berani menurunkan gengsi demi kembali mengenakan seragam sekolah.

Bagi ibu dua anak ini, keputusan duduk kembali di bangku SMA setelah absen satu dekade bukanlah langkah iseng. Meski lingkungan sekitar menganggap keputusannya aneh, Huong memilih tak acuh. 

Prinsipnya sederhana: begitu keputusan dibuat, ia akan mengejarnya sampai akhir tanpa mempedulikan omongan orang lain.

“Begitu saya sudah mengambil keputusan, saya tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Saya akan gigih mengejar apa yang saya inginkan sampai akhir,” ujarnya, seperti Mojok kutip dari laman Vietnam.vn, Kamis (29/1/2026).

Titik balik setelah mengalami krisis ekonomi

Perjalanan Huong kembali ke sekolah bermula dari penyesalan masa lalu. Sepuluh tahun silam, ia berhenti sekolah saat kelas 11 karena merasa kerja keras fisik saja sudah cukup untuk bertahan hidup. 

Namun, pandangan itu runtuh pada 2019, saat krisis ekonomi menghantam keluarganya.

Huong bercerita, keluarganya pernah berada di titik terendah, di mana ia dan ibunya harus mengandalkan makanan amal atau membeli nasi murah seharga 10.000 VND (sekitar Rp6.500) sekadar untuk menyambung hidup. 

Kemiskinan menyadarkannya bahwa tanpa ijazah yang layak, ia hanya akan terjebak dalam pekerjaan bergaji kecil. 

“Saya pernah mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari memperbaiki mobil, menjadi pelayan kafe, hingga berjualan teh di pinggir jalan. Semuanya memberikan hasil yang sama: ketidakpastian masa depan,” ungkapnya.

Siang jadi siswa, malam jadi ibu

Cita-cita baru Huong tumbuh saat ia merintis bisnis kacamata daring. Saat itu, ia ingin menjadi seorang ahli oftalmologi atau tenaga medis di bidang kesehatan mata. Sayangnya, impian itu mustahil diraih tanpa gelar sarjana dan ijazah SMA.

Dari pengalaman itulah, akhirnya Huong memutuskan untuk kembali masuk SMA–meski usianya jauh lebih tua daripada siswa lain.

Kini, hari-hari Huong diisi dengan rutinitas yang padat. Pukul 07.30 pagi, ia sudah di sekolah menjalankan peran sebagai siswa sekaligus ketua kelas. 

Sadar bahwa daya tangkapnya mungkin tak secepat teman sekelasnya yang masih remaja, Huong belajar dua kali lebih giat dengan rajin mengulang materi di rumah.

Begitu bel pulang berbunyi, perannya berubah total. Ia melepas status pelajar dan kembali menjadi ibu sekaligus pengusaha. Sore hingga malam harinya tersita untuk mengurus pesanan pelanggan dan mengasuh kedua buah hatinya.

Tantangan terbesar Huong bukanlah sulitnya pelajaran, melainkan rasa canggung bergaul dengan teman yang usianya terpaut sepuluh tahun. Perbedaan pola pikir sering kali menjadi hambatan saat kerja kelompok, meski dukungan guru perlahan membuatnya bisa membaur.

Iklan

Warisan untuk masa depan

Salah satu dorongan terkuat Huong untuk terus melangkah adalah anak-anaknya. Ia tidak ingin mereka melihat pendidikan sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju kemerdekaan hidup. 

Dengan kembali bersekolah, ia sedang mengirimkan pesan kepada anak-anaknya bahwa perjuangan untuk memperbaiki diri tidak mengenal batas usia.

“Hanya ketika generasi sebelumnya ditingkatkan kualitasnya, maka generasi selanjutnya dapat hidup lebih bebas,” tuturnya. Ia percaya bahwa keberhasilannya menembus universitas kelak akan menjadi fondasi yang kokoh bagi masa depan buah hatinya.

Kini, target ibu dua anak kini sangat jelas: lulus ujian dan diterima di jurusan Refraksi Oftalmik, Universitas Kedokteran Pham Ngoc Thach. Baginya, setiap hari di sekolah adalah peluang berharga untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang pernah menjeratnya.

“Saya tidak lagi belajar sekadar untuk mencari nilai, tapi belajar dengan pemahaman penuh mengapa pengetahuan itu penting bagi kelangsungan hidup,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2026 oleh

Tags: daftar smaibukuliah kedokteranSMA
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana MOJOK.CO

Pertanyaan dan Permintaan Ibu yang Bikin Saya Nelangsa dan Bersalah karena Merantau Lama, Padahal Ia Tak Banyak Menuntut

24 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.