MOJOK.CO Tak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya. Badannya seperti diikat tali tak terlihat saat ketindihan, sementara matanya menangkap sesuatu yang tampak menggantung di atap.

Cerita ini datang dari seorang kawan yang baru saja berpindah rumah. Namanya Ghani, seorang laki-laki asli Purwokerto yang merantau di Yogyakarta. Selama tiga tahun, ia tinggal di sebuah kos-kosan, hingga akhirnya ayahnya membelikannya rumah untuk ditinggali.

Letaknya tidak jauh dari pusat kota, rumah itu. Hanya saja, perlu perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai ke sana karena ada banyak gang yang perlu dilewati. Ghani tidak protes karena baginya memiliki rumah sendiri adalah sesuatu yang menyenangkan. Di bayangannya, ia bisa mengajak teman-teman kelompoknya untuk berkumpul di sana setiap malam.

Aku dan beberapa kawan turut membantunya pindahan hari itu. Kami belum sempat menata semua barang ke tempat seharusnya, tapi setidaknya Ghani telah merapikan sebuah ranjang tempat tidurnya tempat beristirahat malam nanti.

Usai makan-makan dan mengobrol, kami semua pulang ke rumah. Aku sempat menawari Ghani untuk menginap di rumahku.

“Nginep tempatku dulu saja, Ghan? Besok pagi baru ke sini lagi, aku bantuin beres-beres lagi.”

“Nggak usah, Mas, malah ngerepotin,” tolaknya, “Aku tadi, kan, sudah beresin kasur. Hitung-hitung membiasakan diri di rumah. Hehe.”

Akhirnya, aku pamitan. Ghani melambai padaku saat aku menekan klakson mobilku keluar halaman.

Berikutnya, yang terjadi adalah apa yang Ghani ceritakan ulang padaku. Selepas kepulangan aku dan teman-temanku, malam sudah menunjukkan pukul 11. Kelelahan akibat pindahan seharian, Ghani langsung mencari-cari kasur.

Lalu, berbaringlah Ghani malam itu, ingin segera memejamkan matanya. Rasa kantuk tak tertahankan lagi; ia bahkan tertidur tidak dengan baju tidurnya.

Entah sudah berapa lama terlelap, badannya tiba-tiba terasa sesak. Sensasi aneh mulai terasa. Ghani seperti mendengar suara angin kencang di telinganya, sementara badannya kaku tak bergerak. Ketindihan!

Tak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya. Badannya seperti diikat tali tak terlihat, sementara matanya mendadak menangkap sesuatu yang tampak menggantung di atap kamarnya: putih-putih itu…

pocong!

[!!!!!!!!!!!!!1!!11!!]

Ghani ingin berteriak, tapi posisi ketindihan itu menjeratnya dengan telak. Ia mencoba memejamkan matanya sambil berusaha berdoa setengah mati. Nihil—rasanya susah sekali.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti 3 tahun, badannya kembali seperti semula. Ghani yakin penglihatannya soal pocong tadi hanya ilusi semata. Karena tadi tertidur dengan posisi telentang, kali ini ia berniat mengubah posisinya agar terhindar dari kejadian serupa. Maka, dimiringkannyalah badannya ke arah kanan.

Baru sebentar saja terpejam, sensasi yang sama kembali terulang. Badan Ghani kaku tak bergerak, sementara ia tak bisa bersuara. Sialnya, matanya kembali terbuka dan menangkapnya kembali: sosok pocong tadi kini tak lagi di atas atap, melainkan di dekat pintu kamarnya—tepat di seberang posisi tidurnya!

Ketakutan, Ghani berdoa keras-keras dalam hati. Sebisanya, matanya dipejamkan kembali sementara keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Beruntung, tak berapa lama, ia kembali ke keadaan semula.

Antara merasa takut dan ngantuk, Ghani memutuskan tetap kembali tidur. Kali ini, untuk menghindari bayangan aneh-aneh, ia membalikkan badannya dan tidur menghadap ke dinding. Harapannya, tentu saja: ia tak akan lagi melihat sosok mengerikan yang sedari tadi mengganggunya. Lagi pula, ia menekankan ini berkali-kali: ketindihan itu kan hanya terjadi saat tubuh kelelahan, bukan kejadian gaib!

Dipejamkan matanya setelah menggumamkan doa dengan berdebar. Tolong hamba, Tuhan, batin Ghani, Hamba ngantuk.

Memang sial nasib Ghani malam itu. Untuk ketiga kalinya, ia mengalami sensasi ketindihan kembali. Lagi-lagi, ia harus pasrah merasa badannya kaku tak bergerak, sementara matanya menangkap sesuatu yang lebih mengerikan dibanding dua momen ketindihannya yang lalu.

Tepat di depan matanya—di antara dirinya dan dinding—ada sebuah wajah mengerikan dibalut kain putih kusam di sekelilingnya.

Sosok pocong yang daritadi mengganggunya itu ada di kasur yang sama dengan dirinya.

[!!!!!!!!!!!!11!!!1!!!]

Ghani berteriak sekencang-kencangnya—tak lagi merasa kaku. Teriakannya pun bukan main; ia bertenaga luar biasa. Tetangganya yang berjarak 4 rumah dari kediamannya ikut terbangun, lalu berkumpul keheranan di depan pintu rumah Ghani. Bertanya-tanya.

Loading...



No more articles