• 8
    Shares

Curhat

Dear Mojok,

Perkenalkan, nama saya Yanto. Saya tidak ingin curhat tentang kekasih, sebab saya memang belum punya. Saya pengin curhat tentang keluarga saya, lebih tepatnya, adik saya.

Jadi begini, Jok. Saya punya adik lelaki, Iwan namanya. Usianya dua tahun lebih muda dari saya. Iwan ini adik tapi juga kawan dekat saya. Ia juga berteman dengan banyak kawan-kawan saya.

Nah, belakangan ini, Iwan ini ikut semacam bisnis affiliate online gitu. Ia jualan ebook tentang tips dan trik masuk perguruan tinggi. Saya tentu saja tidak keberatan dengan kesibukannya tersebut. Yang kemudian menjadi agak ngganjel bagi saya adalah sekarang dia selalu nyetatus di Facebook soal seleksi masuk perguruan tinggi sambil mempromosikan produk ebooknya itu.

Promosinya sangat masif. Dulu biasanya dia bikin status Facebook paling sehari sekali, sekarang sehari bisa nyetatus sampai sepuluh kali, dan isinya jualan ebook melulu.

Saya kadang sampai malu sama kawan-kawan saya. Kalau pas nongkrong bareng gitu, ada saja yang nyeletuk, “Wah, Iwan adikmu itu kok kalau nyetatus jualan terus, sih? Sampai bosen bacanya.”

Nah, kira-kira, bagaimana ya, Jok, caranya agar adik saya itu tidak terlalu agresif nyetatus jualan di Facebook? Soalnya saya pernah menyuruh dia berhenti untuk terus-terusan nyetatus jualan, tapi dia nggak mau nurut.

~Yanto

 

Jawab

Dear Yanto. Maaf sekali, untuk perkara ini, saya mungkin tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sampeyan, sebab, saya justru mendukung Iwan adik sampeyan, bukannya mendukung sampeyan.

Begini, begini… akun Facebook itu hak dan kendali pemakaiannya ada di tangan si pemilik akun. Dia mau ngapain aja, mau promosi kek, mau jualan kek, mau nulis curhat menye-menye kek, itu urusan dia. Kita nggak berhak ikut campur. Dia sudah paham dengan konsekuensinya.

Kalau Iwan nyetatus terus-menerus soal barang dagangannya yang berupa ebook tips masuk perguruan tinggi itu, ya itu hak dia. Wong dia memang sedang jualan lewat Facebook. Wajar tho? Di Facebook, saya kenal banyak orang yang sehri-hari statusnya isinya jualaaaaaan melulu. Tapi ya saya nggak berhak melarang. Wong Facebook Facebook dia.

Begitu pula dengan soal Iwan ini, sampeyan nggak punya hak untuk melarang dia, wong Facebook juga Facebook dia.

Beda soal kalau dia jualannya sambil njelek-njelekin sampeyan. Itu baru perkara, misal Iwan menulis copywriting jualannya begini:

“Jual ebook tips tokcer lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Penting buat kamu yang pengin masuk kampus negeri, biar nggak kaya kakak saya yang goblok dan tidak bisa masuk UGM walau sudah ndaftar berkali-kali.”

Kalau copywriting-nya begitu, baru sampeyan berhak untuk marah dan melarang. Tapi kalau Iwan nulis copywriting jualannya masih dengan kalimat yang wajar dan tidak menyerang siapa pun, ya sampeyan nggak punya hak untuk mengusik.

Iwan sedang berbisnis, sedang melakukan hal yang benar, sedang melakukan hal yang bermartabat, jangan diganggu. Justru kalau sampeyan menyuruh Iwan berhenti nyetatus soal dagangannya, itu baru hal yang salah.

Kalau kawan-kawan sampeyan nyeletuk soal Iwan yang jualan melulu, jadilah bemper untuknya, misal dengan bilang “Iya, dia jualan mulu, tapi duitnya banyak, kalau cuma buat beli mulutmu, duitnya sisa”, jangan malah malu dan kemudian berusaha menyuruh dia berhenti promosi jualan.

Jujur, kalau saya jadi Iwan yang punya kakak yang wagu semperti sampeyan, saya akan cetak ebook dagangan saya itu, lalu saya gulung biar tebal, dan saya gunakan buat nggampar muka sampeyan.

Lha wong adik sendiri mau bisnis, mau cari duit, bukannya didukung, malah disalah-salahin. Benar-benar kakak yang ora mbois dan ora mutu.

Haduuh, adiknya kerja keras bagai kuda, kakaknya lembek kaya tahi kuda.

~Agus Mulyadi

  • 8
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles