Portugal vs Prancis: Dendam 2016 dan Usaha Menyumpal Mulut Mourinho MOJOK.CO
Portugal vs Prancis: Dendam 2016 dan Usaha Menyumpal Mulut Mourinho MOJOK.CO

Portugal vs Prancis: Dendam 2016 dan Usaha Menyumpal Mulut Mourinho

MOJOK.COEuro 2020 Grup F | Portugal vs Prancis | Partai ulangan final Euro 2016 ini punya satu narasi saja, yaitu kemenangan. Demi 1 ruang di 16 besar nanti.

Theresia Deviana: “Portugal, jangan jemawa!”

Portugal dikalahkan Jerman dengan skor 4-2. Sejauh ini pertandingan tersebut menjadi pertandingan dengan gol terbanyak Euro 2020. Meskipun kalah, Portugal masih bisa menghibur penikmat bola dengan tontonan yg menyenangkan, bukan semata pasrah dibombardir Jerman. Saking baiknya bahkan giveaway 2 gol untuk modal Jerman.

Pertandingan fase grup terakhir giliran bertemu Prancis. Tim yang tidak bisa diremehkan, lawan mereka di final sebelumnya. Prancis unggul satu poin dari Portugal setelah ditahan seri Hungaria, menjadikannya peringkat pertama Grup F dan jaminan lolos babak 16 besar.

Masih sama seperti final lalu, Perancis masih lebih diunggulkan. Skuat mereka diisi pemain-pemain top. Saya membayangkan pemain Prancis muncul dengan karakter dalam film animasi Cars.


Kylian Mbappe bisa menjadi Lighting McQueen, mobil jenis Chevrolet Corvette C5, pebalap muda yang baru memasuki arena balap dan cukup bersinar. Benzema yang pernah mengklaim dirinya sebagai mobil F1 rasanya cocok dengan karakter Francesco Bernoulli, hebat sih, tapi untuk beberapa orang cara dia memamerkan diri itu menyebalkan. Giroud si mobil gokart menurut Benzema, lebih lambat dan kalah kelas dari F1. Sayangnya tidak ada mobil gokart di film Cars, senasib dengan ketiadaannya sejauh ini di susunan pemain Prancis.

Baca juga:  Bundesliga Menjadi Tamparan Keras Untuk Jokowi dan Para Pembantunya

Pasukan Cars Perancis terlihat cukup sangar dilihat dari deretan pemainnya: kiper, bek, gelandang, sayap hingga penyerang semua sangat menjanjikan. Tapi beberapa insiden pemain sebelumnya juga membuatnya nampak ringkih, salah satu celah dari kuatnya tim Prancis ini, yang konsisten menjadi anak baik hanya N’Golo Kante.

Sementara Portugal cuma sekumpulan mas-mas biasa yang sepele untuk dibegal, kata Mas Apet. Tak apa menjadi biasa Portugal, dalam hidup yang biasa suka lebih berjodoh dengan yang cantik.

Minimal hasil seri dibutuhkan Portugal, sedangkan Prancis bisa lebih santai, kecuali mereka ambis untuk mengunci peringkat pertama ya. Seperti di gelaran sebelumnya Portugal bersama mas-mas biasa ini mungkin akan merasa cukup untuk lolos putaran berikutnya dengan nilai mepet KKM, peringkat tiga terbaik. Selanjutnya tinggal adu untung dengan yang senasib dari grup lain.

Tapi, barangkali Portugal ingin mengejutkan orang-orang dengan kekuatan transformer. Seperti mobil yang terlihat biasa dapat berubah menjadi Autobots, mas-mas Portugal ini juga bisa bertransformasi lebih gagah saat dibutuhkan. Sekumpulan Autobots yang dikomandani Optimus Prime mampu membalik hasil taruhan dengan tembakan senjatanya, mengalahkan Decepticons penjudi sekaligus pasukan Cars.

Akhirnya kembali lagi, sebagai minoritas harus tetap rendah diri hati dan tidak jemawa. Memang baiknya melihat Portugal ini tanpa harapan muluk-muluk. Fokus dari satu pertandingan ke pertandingan selanjutnya, nikmati saja, siapa tahu bisa keterusan sampai final (lagi).

Baca juga:  Soal Survei Guru Intoleran dan Serapan Kata Toleransi di Indonesia

Haris Chaebar: “Balas dendam 2016 dan bonus sumpal nyinyiran Mourinho.”

Portugal vs Prancis di Grup F adalah menu utama dari semua pertandingan fase awal Euro 2020. Kilas balik final lima tahun lalu, Prancis tampil lebih dominan (53% penguasaan bola) dan punya lebih banyak peluang berbahaya bikin gol. Ditambah, Portugal kehilangan Ronaldo sejak awal-awal laga.

Namun, gol Ederzito António Macedo Lopes pada perpanjangan waktu membunuh impian seantero publik tuan rumah menyaksikan timnas kesayangannya berpesta. Kini, laga melawan Portugal, punya arti penting bagi Prancis, yaitu vendetta.

Sebagian besar skuat Les Blues saat ini pun jadi saksi pedih kegagalan 5 tahun lalu. Motivasi Kylian Mbappe dan kawan-kawan tentu berlipat ganda untuk mengalahkan Portugal. Selain membalaskan dendam Final 2016, kemenangan adalah garansi sebuah kenyamanan.

Memuncaki Grup F membuat Prancis hanya akan melawan satu diantara Swiss, Finlandia, atau Ukraina. Jika imbang apalagi kalah dari Portugal akan memba Prancis ke jalan terjal.

Finis sebagai runner-up membuat Prancis bertemu penguasa Grup D (Inggris), sedangkan peringkat ketiga berpotensi melawan jawara Grup C, Belanda. Mengalahkan Portugal juga berarti memperkecil peluang si juara bertahan untuk lolos dari grup maut ini, apalagi jika Hungaria mampu mengalahkan Jerman.

Di luar itu, adu kuat antara jawara benua biru vs jawara dunia kali ini bermakna khusus bagi pelatih Prancis, Didier Deschamps. Maklum, jelang Euro 2020, dia di-nyinyir-in Jose Mourinho.

Baca juga:  Meksiko dan Sepak Bola Warna-Warni yang Mudah Dicintai

Mourinho mengejek timnas Prancis akan gagal dan mengorek kembali final Liga Champions 2004, ketika Monaco asuhan Deschamps dibantai 0-3 oleh Porto.

Dasar cerdik plus licik, Mourinho melempar psywar, demi coba mengoyak mental Prancis yang memang menjadi lawan terberat negaranya, Portugal di fase grup. Deschamps sudah membalas dengan menghubungkan kisah payah Mourinho di klub yang memang langganan gagal juara, Tottenham.

Tetapi, bakal teramat spesial jika Prancis benamkan Portugal, apalagi jika Hungaria menang. Balas dendam yang paripurna, dengan bonusnya; ya menyumpal mulut nyinyir Mourinho itu.


BACA JUGA Spanyol, Semua Alasan Buruknya Performamu Itu Bullshit! dan ulasan Euro 2020 lainnya.