Spanyol, Semua Alasan Buruknya Performamu Itu Bullshit! MOJOK.CO
Spanyol, Semua Alasan Buruknya Performamu Itu Bullshit! MOJOK.CO

Spanyol, Semua Alasan Buruknya Performamu Itu Bullshit!

MOJOK.COEuro 2020 Grup E | Slovakia vs Spanyol | Spanyol berada dalam posisi sulit karena diri sendiri. Mereka nggak berusaha semakisimal mungkin, terutama Luis Enrique.

Indi Hikami: “Satu poin untuk selamanya!”

Suatu saat, padepokan wing chun milik Ip Man pernah dikomentari oleh seseorang yang berkunjung. Mengapa berlatih di ruangan sempit dan tidak pindah ke tempat yang lebih luas. Ip Man menjelaskan bahwa ruang sempit mengajari anak didiknya untuk bisa berpikir taktis, cepat, menambah daya juang, dan tidak kabur dari musuh.

Begitu juga dengan manusia ketika dihadapkan pada tekanan. Ketika opsi kabur menjadi tidak mungkin maka menghadapi dengan fighting spirit yang tinggi serta militan harus diambil. Kondisi itu sering kita alami, bukan?

Slovakia sebenarnya tidak seburuk seperti gambaran padepokan wing chun Ip Man. Mereka masih berpeluang lolos berbekal 3 poin yang diraih atas Polandia. Namun, 3 poin itu belum cukup untuk mengamankan 1 tiket ke fase gugur. Butuh setidaknya 1 poin lagi untuk bisa lolos.


Masalahnya adalah Slovakia harus menghadapi Spanyol, dengan nama besar serta kualitas pemain di atas mereka. Apalagi, Spanyol juga butuh kemenangan mengingat posisi mereka saat ini lebih tidak aman ketimbang Polandia.

Spanyol ada di peringkat 3 di bawah Slovakia dengan 2 poin. Seri di pertandingan terakhir babak grup ini saja buat mereka tidak lolos apalagi kalah. Otomatis kemenangan wajib diraih Spanyol.

Baca juga:  Euro 2020 dan Rasa Dahaga Akan Komentator Berkualitas, Spaces Twitter Memberi Kelegaan

Militansi dan daya juang dibutuhkan oleh Slovakia. Mereka harus spartan menghadapi Spanyol yang di atas kertas lebih diunggulkan. Setidaknya agar motivasi berlebih itu bisa didapatkan, Slovakia harus merujuk pada satu hal: maju ke babak perempat final Euro 2020 adalah sejarah baru.

Meski sulit, tapi saya yakin Stefan Tarkovic punya peluang untuk mewujudkannya. Memang, saat konferensi pers terakhir dia sedikit merendah dan mengatakan bahwa Slovakia membutuhkan keberuntungan untuk menang. Tapi kita sama-sama tahu bahwa Dewi Fortuna hanya berpihak pada mereka yang bekerja keras.

Marek Hamsik bisa menjadi mentor sejarah yang baik buat rekan-rekannya. Perjuanganya meloloskan Slovakia ke babak gugur di Piala Dunia 2010 lalu bisa diteladani. Kondisi waktu itu pun sebenarnya lebih rumit ketimbang sekarang.

Imbang di partai pembuka melawan Selandia Baru lalu kalah dengan dua gol tanpa balas melawan Paraguay. Namun keajaiban terjadi di laga terakhir. Menang tipis 3-2 atas Italia yang saat itu menyandang status juara bertahan Piala Dunia. Slovakia lolos, Italia tersungkur di dasar klasemen.

Jika nama besar dan harga diri Italia bisa dihancurkan saat itu, seharusnya Slovakia bisa melakukan hal yang sama kepada Spanyol! Satu Poin untuk selamanya, untuk diingat oleh rakyat Slovakia dan dicatat oleh sejarah dunia. Bisa, pasti bisa!

Ganesha Arif: “Spanyol bikin susah diri sendiri.”

Untuk Indi Hikami, boleh nggak kita tukaran aja? Jujur, sekarang rasanya lebih mudah buat saya untuk jelek-jelekin Spanyol ketimbang nulis yang bagus tentang mereka.

Baca juga:  Italia vs Austria: Anjing menggonggong, Azzurri melaju

Oke, jadi begini, Chris Martin lewat lagu Fix You bilang begini:

When you try your best, but you don’t succeed. Stuck in reverse.”

Spanyol mungkin keliatan kayak begitu. Gimana enggak? Dari 2 laga, Spanyol sukses mencatatkan xG senilai 5,83, tapi cuma bisa bikin SATU gol. Akibatnya, La Furia Roja kini masih tanpa kemenangan dan terancam enggak lolos dari grup yang terbilang mudah.

Mungkin, Spanyol lagi ngerasain hukuman yang pernah dijalani Sisyphus. Mungkin, Spanyol enggak hoki. Mungkin, Spanyol lupa sowan ke makam Generalissimo Franco sebelum hajatan Euro 2020 dimulai.

Buat saya, semua kemungkinan itu bullshit. Kenapa? Ya karena Spanyol ada di situasi kayak begini akibat ulah mereka sendiri. Mereka enggak trying the best. Tentu, sang pelatih, Luis Enrique, wajib mengemban tanggung jawab tertinggi.

Dia yang masih terus percaya sama Alvaro Morata. Oke, Morata bikin gol di laga lawan Polandia, tapi dia juga miss ceplosin bola ke gawang kosong setelah dapat rebound hasil gagalnya penalti Gerard Moreno.

Dia yang masang Marcos Llorente—gelandang yang sukses bikin 12 gol di La Liga 2020/2021—sebagai BEK KANAN. Padahal, Enrique masih punya Cesar Azpilicueta di bangku cadangan. Padahal, Spanyol keliatan banget butuh gelandang yang bisa jadi opsi di final third. Sungguh aneh.


Tapi, ya balik lagi, ini semua jadi tanggung jawab Spanyol sebagai tim. Pemain-pemain top selain Morata juga banyak kok, yang enggak perform.

Udah gitu, muncul excuse soal lapangan Estadio La Cartuja di Sevilla yang jelek. Alasan ini datang dari Rodri dan Pablo Sarabia. Lucunya, Sid Lowe dari The Guardian bilang bahwa ada deal antara federasi dan pemerintah Andalusia buat pakai La Cartuja. Hadeh.

Baca juga:  Membayangkan Finlandia vs Rusia menjadi Panggung Perlawanan terhadap Kapitalis UEFA

Oke-oke, Spanyol jelas masih punya peluang untuk lolos. Menang lawan Slovakia, dan mereka bakal melaju ke fase knockout. Enrique pribadi bilang bahwa dia bakal mengubah skema dan kapten tim, Sergio Busquets, udah bugar setelah kena Covid-19. Ya, mudah-mudahan aja Spanyol bisa menang.

Tapi, buat jaga-jaga, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Mojok yang udah mau terima saya buat nulis di sini. Senang bisa menjadi bagian dari Mojok meski singkat.

BACA JUGA Swedia vs Polandia: Pertarungan Mental Menentukan Takdir Sendiri dan ulasan Euro 2020 lainnya.