MOJOK.COSejarah sepak bola akan mencatat dedikasi Pochettino kepada Spurs dengan tinta emas sementara deretan gelar Jose Mourinho hanya sebatas statistik dalam kariernya saja.

Pemecatan Mauricio Pochettino oleh Tottenham Hotpur dan kedatangan Jose Mourinho akan diingat dengan dua sudut pandang. Pertama, meskipun tidak mendatangkan piala, Pochettino akan diingat oleh satu generasi fans Spurs sebagai pelatih terbaik. Sementara itu, meski memenangi tiga piala bersama Manchester United, Jose Mourinho “tidak terlalu diingat”.

Itulah kata-kata Alex Hess, editor The Guardian lewat akun Twitter pribadinya dan saya sangat setuju. Saya rasa kalimat dari Alex menggambarkan kenyataan yang terjadi di antara Pochettino dan Jose Mourinho. Perlu diakui dan diberi garis bawah, Pochettino mentransformasi Spurs menjadi sebuah klub yang lebih tangguh dan pantas bersaing di papan atas Liga Inggris.

Cara bermain di atas lapangan dan hubungan antar pelatih-pemain yang harmonis membuat Spurs menjadi sangat solid. Bahkan saya tegaskan juga, perjuangan mereka membangun skuat yang sedemikian bagus layak mendapatkan piala.

Orang-orang menyebut mereka sebagai “generasi emas”. Generasi yang bisa mengganggu dominasi papan atas. Sebuah kejadian yang begitu langka sampai-sampai Spurs membuat dokumenter tersendiri. Bagi mereka, piala memang sulit digapai dan sebatas bisa “menggangu” saja sudah dianggap sebagai prestasi.

Tanpa kesetiaan dan kesabaran pelatih asal Argentina itu, klub dari London ini sudah nyaman di papan tengah dan asyi kejar-kejaran dengan Stoke City menghindari jurang degradasi. Bagaimana tidak, Daniel Levy, chairman Spurs, adalah salah satu pemimpin paling menyebalkan di dunia sepak bola.

Bukan saja pelit, Daniel Levy tidak punya visi. Ketika menjual Luka Modric dan Gareth Bale, Daniel Levy tidak membantu pelatih untuk membeli pengganti yang sepadan. Daniel juga tidak responsif ketika Christian Eriksen, pemain terbaik mereka, minta naik gaji. Sesuatu yang lumrah ketika pesepak bola sudah memberikan semua kepada sebuah klub.

Tahukah kamu, Harry Kane cuma dapat gaji 150 ribu paun per pekan. Pemain yang setiap musim rutin bersaing sebagai pencetak gol terbanyak bersama Sergio Aguero dan Mo Salah itu cuma mendapapat gaji setengah gaji Mesut Ozil di Arsenal. Gaji adalah salah satu alat ukur prestasi karyawan. Sangat lumrah terjadi kenaikan signifikan ketika si karyawan mencatatkan prestasi, bukan?

Baca juga:  Untung Saja, Hector Bellerin Punya Role Model Dalam Diri Laurent Koscielny

Dengan segala kekurangan itu, Spurs menuntut Pochettino untuk merebut piala. Bisakah Jose Mourinho membangun satu “dinasti” hingga diingat betul oleh satu generasi bahkan ketika dia tidak memenangi piala?

Kerja sehari-hari Pochettino Digambar oleh Matt Law, kolumnis The Telegraph sebagai, “…situasinya adalah dia seperti diminta untuk bisa melakukan aksi mengeluarkan kelinci dari topi dan dia akan disalahkan ketika gagal melakukannya.”

Pochettino hendak merevolusi skuat demi masa depan ketika meminta klub menjual Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Danny Rose, dan Eriksen yang sudah menolak memperpanjang kontraknya. Bahkan Poch sudah membuat permintaan itu secara terbuka di depan wartawan.

“Kita tidak boleh berpikir kalau diri kita adalah yang terpintar di dunia ketika berusaha memenangi piala dengan hanya sedikit mengeluarkan uang. Kita harus berpikir kalau kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Saya punya ide-ide gila. Kamu harus berani. Dalam situasi seperti ini, kamu harus punya nyali dan berani ambil risiko. Inilah saatnya klub ini mengambil risiko,” kata Poch.

Namun, Spurs memang tidak punya nyali untuk bermimpi. Bisakah Jose Mourinho bekerja dengan batasan-batasan nyata itu? Kenyataan bahwa Daniel Levy akan selalu menghentikan tangannya tepat ketika sedang merogoh kantong celana untuk mengambil recehan. Bisakah Jose Mourinho punya kesabaran untuk menetaskan pemain muda selama tiga tahun penuh?

Sebuah kejadian menarik terjadi di tengah pembukaan stadion baru. Daniel Levy berpidato selama satu jam dengan penuh antusias. Bahkan dia sempat memuji toilet di stadion Spurs. Stadion yang wujudnya memang mirip toilet duduk itu. Satu jam pidato Levy dihancurkan oleh “orasi” 10 menit dari Pochettino.

“Ketika datang ke stadion ini, kamu merasa sedang datang ke sebuah stadion dari klub besar. Kamu tidak boleh berpikir seperti klub kecil. Kamu harus berpikir seperti klub besar jika Spurs ingin bersaing dengan klub-klub besar di Eropa.”

“Supaya bisa disamakan seperti klub besar, kamu harus berpikir seperti mereka. Jika kamu ingin dibandingkan dengan Barcelona, Bayern Munich, Juventus, atau Real Madrid, kamu tidak boleh berpikir kalau dirimu adalah Tottenham dengan stadion hanya berkapasitas 36 ribu tempat duduk. Kita harus berpikir seperti klub besar dan itu langkah penting yang harus kita ambil.”

Baca juga:  Real Madrid, Juventus, dan AS Roma Kehilangan Pemain dengan Rasa Berbeda

“Kamu akan bertanya, “Apakah saya akan bertahan atau tidak?” Saya tidak tahu jawabanya. Itu tugas Daniel (untuk menjawab). Tanggung jawab saya masih sama seperti lima tahun yang lalu, yaitu untuk bilang kepada klub bahwa kini kita sudah selesai membangun stadion baru, kita akan berpikir layaknya klub besar. Apa artinya itu? Yaitu membicarakan soal proyek baru.”

Kamu tahu apa respons Daniel Levy? Spurs tidak menjual Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Danny Rose, dan Eriksen. Sementara itu, Pochettino berhasil membawa Spurs ke final Liga Champions tanpa membeli pemain baru.

Piala akan selalu menjadi patokan di sepak bola modern. Itulah alasannya Jose Mourinho sangat laku di pasaran. Jose Mourinho memang orang yang tepat untuk menyeimbangkan sebuah kapal yang tengah oleng. Dia pelatih periode pendek. Tidak akan ragu menggunakan kekuatannya untuk mengejar satu piala. Carling Cup, misalnya.

Jose Mourinho akan dibenci karena meninggalkan klub dengan kondisi ruang ganti yang buruk. Dia tidak akan diingat ketika pergi di tahun ketiga meskipun mempersembahkan tiga piala sekalipun. Terkadang, di sepak bola, warisan terbesar seorang pelatih bukan sebuah piala, tetapi konsep yang berkesinambungan.

Daniel Levy menggunakan piala sebagai alat untuk mengukur capaian Pochettino. Tentu saja rapor yang muncul akan berwarna merah. Tentu saja, konsep itu cocok dengan Jose Mourinho. Namun, orang waras akan mengingat Poch sebagai “peletak dasar klub”. Orang waras akan lebih menghargai Poch, atas segala kesabarannya, atas segala dedikasinya mendongkrak status klub medioker itu.

Banyak pesohor dan legenda sepak bola yang bilang kalau Spurs akan kesulitan mencari pengganti. Langkah memecat Poch adalah salah. Mereka yang pernah bermain “dengan tulus” paham betul manfaat dedikasi dari pelatih seperti Pochettino. Bukan sekadar instan yang dijanjikan oleh nama besar Jose Mourinho.

Saya tidak bilang kalau Jose Mourinho adalah pelatih yang kelewat buruk. Sebagai pemenang double-treble, prestasinya tidak main-main. Namun, pada titik tertentu, sejarah sepak bola akan mencatat dedikasi Pochettino dengan tinta emas sementara deretan gelar Jose Mourinho hanya sebatas statistik dalam kariernya saja.

BACA JUGA Rengekan Jose Mourinho dan Aroma Kutukan Tahun Ketiga atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.