Tidak ada secuil rasa panik atau grogi di wajah Agus Mulyadi ketika kami berempat berangkat dari Yogya menuju Solo. Bahkan di tengah perjalanan, bloger kondang sekaligus redaktur Mojok itu sempat bilang, “Saya blas gak merasa deg-degan mau ketemu Gibran…”

Wajah Agus makin semringah setelah kami akhirnya sampai di sebuah hotel di Solo pada sore hari. Ketika sehabis Isya’, kami keluar untuk makan malam dengan lebih dulu mencari tahu letak alamat tempat wawancara akan dihelat, yakni di kantor Katering Chilli Pari milik Gibran. Setelah beres, kami kemudian makan malam di Sate Pak Dahlan, yang konon sate kegemaran keluarga Gibran. Dari sana, kami lalu melaju ke angkringan komunitas yang dipandegani oleh Pakde Blontank Poer. Semua seolah-olah baik-baik saja. Agus tetap sumringah. Dia tampak sangat siap untuk menjadi pewawancara utama Gibran.

Kami kembali di hotel lagi pada pukul 01.00 dinihari dan langsung beristirahat di kamar masing-masing. Tak lupa kami janjian bertemu di lobi hotel esok pagi pukul 08.00, sekalian check out.

Persoalan mulai muncul keesokan harinya, ketika semua sudah di parkiran hotel, dan mobil siap berangkat. Wajah Agus tampak pucat. Sambil basa-basi saya menanyakan apakah mereka bertiga tidur nyenyak? Eddward yang biasa dipanggil Edo membisiki saya, “Agus yang gak bisa tidur, Mas…”

“Kenapa?”

“Tauk tuh, grogi kayaknya…”

Saya melirik Agus yang duduk di sebelah saya. Dia tampak pucat. Gerak-gerik tubuhnya agak tidak jenak.

Ketika mobil kami parkir di depan kantor Chilli Pari, sebelum mesin saya matikan, Agus bertanya, “Mas, saya nanti yang wawancara?”

“Lha iya. Kan kesepakatan kita nanti, kamu dan Edo yang wawancara. Aku dan Adit hanya mengantar dan membantu mendokumentasikan…”

Wajah Agus makin memucat. Apalagi ketika papan kecil bertuliskan Close di kantor Chilli Pari dibalik dari dalam kantor menjadi Open.

Kami kemudian masuk dan memberi informasi kedatangan kami kepada seorang perempuan yang sedang bertugas di kantor tersebut. Ketika kami duduk menunggu sang tuan rumah, Agus tampak diam saja. Dia sama sekali tidak memberi tanggapan, meski kami bertiga bercanda melulu.

Saya mulai mengerti kalau Agus benar-benar grogi. Hanya saja saya yakin kalau dia selalu punya jalan keluar mengatasi hal itu. Dia sudah terbiasa bicara di berbagai forum, diwawancara oleh banyak media massa, sering nongol di teve. Hanya soal grogi sesaat, yang jika situasi wawancara kondusif, semua kemampuannya akan keluar.

Saat menunggu sesi wawancara di Chilli Pari.

Saat menunggu sesi wawancara di Chilli Pari.

Sampai di gedung yang biasa dijadikan tempat menyelenggarakan pesta pernikahan itu, kami dipersilakan masuk sebuah kantor yang tak begitu luas tapi tertata apik, seapik kantor Chilli Pari. Agus yang tampil khas dengan sandal jepitnya makin terlihat pucat. Sepasang matanya berkedip pelan. Dia tampak berusaha keras memikirkan sesuatu.

Hingga akhirnya orang yang kami tunggu datang. Gibran Rakabuming. Dia datang dengan mencangking sebuah tablet, dan sebuah gajet. Busananya modis, khas anak muda kekinian. Kami bersalaman. “Maaf Mas ya, saya pindah tempat wawancara soalnya di Chilli Pari sedang ada ujicoba menu makanan. Nanti ramai di sana. Takut mengganggu.”

Gibran duduk. Di samping kanannya persis, dengan agak menyerong, Agus duduk. Di sebelah kiri laki-laki berusia 28 tahun itu, Adit duduk dengan tenang. Persis di depannya, saya dan Edo berbagi duduk di kursi panjang.

Setelah berbasa-basi sebentar, saya memperkenalkan tim kami. Agus sengaja saya perkenalkan paling akhir. Sebagai kunci. “Ini Agus Mulyadi, blogger kondang yang sekaligus redaktur Mojok, dan salah satu penulis yang banyak menulis di Mojok…”

Gibran diam. Mengernyit. Memandang wajah Agus. Sosok yang sejak awal terlihat grogi itu mulai tersenyum. Kepercayaan dirinya mulai muncul, berkecambah. Hingga kemudian Gibran bilang, “Kalau yang tulisan Mas Agus saya lupa. Yang saya ingat tulisan-tulisan Mas Arman Dhani…”

Seketika itu ruangan hening. Saya tahu, seandainya tidak sedang melakukan wawancara, Edo bakal terguling-guling tertawa, dan Agus bakal membentur-benturkan kepalanya sambil bilang, “Kamu punya televisi apa enggak sih, Gibraaaaan!”

Tapi semua langsung bisa diatasi ketika Edo nyeletuk, “Tulisan terakhir yang dibaca di Mojok dan kamu suka apa, Mas?”

“Itu yang soal Kalijodo.”

“Nah, itu tulisan saya!” teriak Edo sambil agak melompat dari kursinya. Saya khawatir tubuh seberat hampir satu kwintal itu akan membuat kursi yang kami duduki patah. Untung, tidak. Sementara saya melirik ke arah Agus, posisi duduknya makin melorot.

“Saya membaca Mojok sudah lama, jauh sebelum Surat Terbuka…”

Tulisan yang dimaksud dengan Surat Terbuka adalah judul tulisan Iqbal Aji Daryono yang sampai sekarang dibaca lebih dari 4 juta pembaca dan dijadikan judul buku kumpulan tulisan Mojok pada tahun pertama. Judul tulisan itu lengkapnya; Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia.

Lalu mulailah kami melakukan serangkaian tanya-jawab. Lebih tepat disebut ngobrol. Karena kadang Gibran juga bertanya kepada kami berempat. Selama wawancara berlangsung, kami tidak melihat ada pengawalan apapun, hanya kelebat beberapa pegawai Graha Saba Buwana yang sibuk membersihkan gedung, dan hanya diselingi dengan dua kegiatan Gibran, yang pertama menerima telepon yang tampaknya penting, dan yang kedua saat dia harus menandatangani sebuah dokumen.

Pertanyaan pertama kami sangat sederhana, apakah tadi dia sarapan? “Ya,” jawabnya sambil tersenyum. Sarapan apa? “Masakan semalam yang saya hangatkan lagi.”

Kami manggut-manggut. Lalu dengan agak heran dia bertanya balik, “Mas, yang pertanyaan kayak gitu juga nanti ditulis?”

“Lho, lha iya…” jawab saya dengan Edo hampir berbarengan. Gibran tersenyum kecut. Merasa kami kerjai.

Gibran lalu mulai menceritakan kisah perjalanan bisnisnya. Gedung Graha Saba Buwana ini sudah lama berdiri. Tapi Gibran yang saat itu baru pulang kuliah dari luar negeri kemudian punya ide, kalau hanya menyewakan gedung, maka kurang maksimal keuntungan finansialnya. Sebab pengeluaran paling besar saat seseorang mengadakan pesta pernikahan adalah konsumsi. Dari situlah dia kepikiran untuk membuka bisnis katering dengan nama: Chilli Pari. Chilli, alias cabe, alias lombok, adalah simbol dari semangat. Sementara Pari atau padi, adalah simbol kemakmuran. Kira-kira begitulah filosofi nama Chilli Pari.

Tapi apa yang dilakukan Gibran tidak mudah. Pertama, karena bisnis katering itu berbeda dengan bisnis restoran. Kalau bisnis restoran, konsumen punya perilaku suka mencoba-coba. Icip-icip. Sedangkan kalau untuk katering, mereka ingin jaminan. Kepastian kualitas. Artinya, bisnis ini makin dipercaya karena faktor usia bisnis dan kepercayaan. Tahun pertama adalah tahun tersulit bisnis Chilli Pari karena tahun itulah dia dan timnya sibuk memperkenalkan katering Chilli Pari. Tantangan makin besar ketika misalnya di tahun awal itu, ada beberapa orang yang sudah pesan tiba-tiba membatalkan pesanan di tengah jalan. Padahal sumberdaya sudah dikerahkan, dan bahan makanan sebagian sudah dibeli.

Sementara kebijakan manajemen Graha Saba Buwana tidak pada umumnya gedung pernikahan, yang ‘mewajibkan’ penyewa gedung harus sekaligus memesan katering. Kalau tidak memesan katering maka kena charge. Konsumen yang menyewa Graha Saba Buwana tidak dibebani keharusan untuk memesan makanan dari Chilli Pari. Konsumen bebas memilih katering dari mana saja.

Usaha Chilli Pari mulai menunjukkan pertumbuhan ketika masuk pada tahun kedua dan ketiga. Tapi menurut Gibran, sampai sekarang masih sering ada orang yang tidak melunasi tagihan katering.

Sebagai orang yang pernah menikah dan melangsungkan pesta pernikahan, saya agak kaget. Karena setahu saya, semua katering pernikahan harus lunas minimal pas hari H pelaksanaan.

“Ya, aturannya memang begitu, Mas. Tapi kadang kita juga menyadari, ada banyak orang yang mengandalkan pelunasan dari kotak sumbangan pernikahan. Nah, mungkin karena isi kotak sumbangan itu tidak sesuai yang diharapkan dan masih banyak yang harus dibayar, ya ada saja yang gak bayar…”

“Apa gak diusut dan dilaporkan polisi?” tanya Edo yang sebentar lagi berencana menikah itu.

“Ya enggak, Mas. Kasihan… Saya anggap ini bagian dari lika-liku perjalanan dan risiko bisnis saya.”

“Saya juga sering tidak nyaman kalau berada lama di kantor Chilli Pari…” ungkapnya terus terang, “kalau urusan selesai, saya langsung pergi.”

Kami kira-kira tahu apa yang dimaksud: pasti risih diajak selfie. “Takut diajak selfie ya, Mas?” tanya Adit memastikan.

Jawabannya di luar dugaan kami. “O enggak, karena banyak yang minta diskon. Kebanyakan ngaku dulu relawan Bapak dan nyoblos Bapak. Kan susah kalau bisnis ada begituannya…”

Kami tertawa ngakak.

“Iya, sampai sekarang masih banyak yang kayak begitu…” ujarnya polos sambil tertawa.

“Ada enggak rencana mengajak adik-adik untuk bergabung dengan bisnis ini?” Edo yang bertanya. Sementara Agus masih belum mengeluarkan satu pertanyaan pun, walaupun posisi duduknya sudah mulai tegak kembali.

Gibran terdiam sejenak. Lalu dia menjawab, “Enggak sih, Mas… Gak enak kalau bisnis melibatkan keluarga. Nanti yang ada rasa sungkan. Bukan profesionalisme.”

Kali ini pertanyaan pertama keluar dari Agus, “Mas, kalau sinoman untuk acara pernikahan di sini otomatis jadi pegawai Chilli Pari?” Sinoman atau peladen, adalah orang yang bertugas untuk melayani tamu di pesta kondangan.

“Tidak, Mas. Sinoman kami cari dari orang luar. Di Chilli Pari ini saya hanya punya 20 pegawai, dari mulai juru masak sampai marketing.”

Menurut Gibran, tidak mungkin bisnis katering seperti Chilli Pari ini punya banyak pegawai, karena ada musiman orang menikah. Seperti di bulan Februari seperti ini, sebetulnya bukan musim orang mengadakan hajatan pernikahan. Dengan kapasitas pegawai yang ada, dalam seminggu, Gibran hanya membatasi untuk 10.000 undangan, itu artinya berkisar antara 5 sampai 6 hajatan pernikahan. Kalau sudah begitu semua tim bergerak sendiri-sendiri. Tukang masak yang berjumlah 5 akan mencari pembantu masing-masing, demikian juga dengan tim-tim yang lain, seperti tim dokumentasi sampai tim sinoman.

Berawal dari katering, kini bisnis Gibran merambah juga ke pembuatan suvenir, foto pernikahan, sampai wedding organizer. Chilli Pari kini juga mulai menangani klien dari luar kota Solo, sampai Madiun dan Ponorogo.

Kemudian bisnis Gibran mulai merambah kuliner lain, seperti yang sedang ngetren saat ini: Markobar. Bisnis kuliner dengan menu utama martabak ini berawal dari hal yang sederhana. Salah satu teman Gibran diwarisi usaha kuliner martabak oleh orang tuanya. Hanya saja belum dikembangkan. Akhirnya mereka menjalin kemitraan.

Kini setidaknya sudah ada 6 cabang Markobar, termasuk di Semarang, Yogya, Jakarta, dan sebentar lagi di Surabaya.

Uniknya, Gibran tidak mau mewaralabakan bisnis ini, sekalipun tawaran banyak berdatangan. Kami agak penasaran, karena kebanyakan orang begitu berhasil membuat sebuah brand makanan, cepat-cepat diwaralabakan. Tapi Gibran punya alasan tersendiri.

Pertama, karena menurutnya, orang yang menginvestasikan bisnis waralaba, belum tentu tahu bisnis. Kebanyakan dari mereka punya duit, tapi belum tentu punya mental bisnis.

Kedua, memang perkembangan waralaba bisa cepat menyebar di berbagai kota, tapi keuntungannya tidak banyak karena harus dibagi. Memang risikonya kalau rugi ya ditanggung sendiri. Dan Gibran lebih suka selalu bisnis dengan satu rekanan untuk satu bidang kuliner. Karena selain menyangkut soal kepercayaan, juga sudah melalui serangkaian proses yang cukup panjang.

Hal yang sama diterapkan ketika dia membuka bisnis kuliner lain seperti Pasta Buntel, Cakar Dheer, dan kedai kopi. Hanya saja dua bisnisnya yang menjanjikan yakni Pasta Buntel dan Cakar Dheer untuk sementara terhenti karena digusur. “Risiko usaha kaki lima memang begitu, Mas… Kalau hujan sepi, lalu sering kena penggusuran, dan juga kadang berurusan dengan preman.”

Kami berempat terdiam, tapi saya yakin di pikiran kami berempat sama: Gibran digusur? Gibran masih juga punya urusan dengan preman?

Kami kemudian sedikit mengalihkan tema wawancara ke soal kuliner kegemarannya. Dengan fasih dia menyebut semua kuliner khas Solo, dari mulai selat Solo, bestik, tengkleng, nasi liwet, sampai srabi Notosuman. “Dan saya bisa memasak itu semua.” ungkapnya dengan yakin.

Agus dan Adit yang paling banter hanya bisa masak mi instan, tertegun. “Kalau masakan yang bukan khas Solo, apa yang disukai, Mas?” tanya Edo dengan rasa penasaran.

“Hampir semua masakan Indonesia saya suka. Soto Betawi dan Masakan Padang, saya suka.”

Sebagai orang Minang yang tinggal di Betawi, lagi-lagi Edo hampir melompat dari kursinya. Saya sudah merem, khawatir kursi yang kami duduki porak-poranda. Dan saya sudah hampir yakin dia bakal bilang, “Rendang bikinan Emak saya enak sekali, Mas! Paling enak sedunia!” tapi ternyata dia bertanya yang lain, “Kalau soal musik, apa kesukaan Anda?”

Lagi-lagi Gibran diam. “Apa ya, semua musik rasanya saya suka.”

“Kalau Kaesang kan suka JKT48, kalau Anda?” desak Edo. Kaesang yang dimaksud adalah Kaesang Pangarep. Salah satu adik laki-laki Gibran. Selain Kaesang, Gibran juga punya adik perempuan bernama Kahiyang Ayu.

“Saya suka grup musik Jungkat Jungkit, tahu ya?”

“Tahu, Mas.” Adit yang menjawab. Tentu karena referensi musiknya paling bagus di antara kami berempat. Lalu webmaster Mojok itu menanyakan sejumlah grup musik dari Solo seperti Down for Life dan Fisip Meraung. Ternyata Gibran bisa memberi komentar dengan baik. Dia tampak tahu betul perkembangan skena musik di Solo, yang katanya sedang bagus-bagusnya.

Lalu Adit bertanya lebih lanjut, “Kalau bisnis aplikasi, Anda tertarik?”

“Sebetulnya saya tertarik. Tapi belum punya sumberdaya manusia. Sebetulnya saya dulu juga pernah bikin bisnis game, hanya saja gagal.”

Game apa?” Adit penasaran.

“Ya, masak bisnis gagal kok saya omongkan…” sahutnya sambil tertawa. Tidak lama kemudian dia bilang, “Bisnis Mojok ini prospeknya juga bagus.”

Mendadak muka kami semua cerah. “Saya juga akan masuk ke bisnis itu. Referensinya ya dari Mojok.”

Kami makin berbinar. Sebab bagi kami, suatu ceruk bisnis jika dimasuki banyak orang maka akan makin kompetitif, dan membuka pasar lebih luas.

“Tapi ya enggak bakal sebesar Mojok, sih…” buru-buru Gibran mencandai kami.

“Lebih besar juga gak apa-apa, Mas. Kalau memang bisa, ya…” gaya Edo merespons dengan cepat dan mulai keluar gaya aslinya yang sinis membuat kami berlima kembali tergelak.

“Mas, maaf saya boleh bertanya?” tiba-tiba suara Agus menghentikan tawa kami.

“Ya bolehlah, masak gak boleh. Terus kalau gak boleh ngapain kita wawancara?” sahut Gibran sambil memandang Agus, dengan mengulum senyum.

“Mmm… Maaf ya, Mas, jika ini lancang…”

“O, enggak apa-apa…”

“Kalau kayak kemarin saat tampil di acara Mata Najwa, apakah Sampeyan dibayar?”

“Ya, saya dibayar. Tapi saya tidak mau.”

Agus manggut-manggut sambil bilang, “Itu hal yang tidak mungkin saya tiru.”

Kembali kami tertawa ngakak.

Akhirnya saya bertanya, “Mbak Najwa cantik, gak?”

“Cantik dan pintar.” jawab Gibran dengan tangkas. “tapi banyak yang dipotong.”

“Apa saja yang dipotong?” tanya saya penasaran.

“Ah, ya janganlah. Gak enak.”

“Di hal yang gak menarik, mungkin…” saya mencoba memancing.

“Justru pas di hal yang menarik menurut saya. Tapi Mata Najwa saya kerjai. Mereka meminta kedua orang tua saya datang. Saya pura-pura bilang Bapak dan Ibu sibuk, gak bisa datang. Padahal ya mereka berdua tidak saya hubungi. Aneh saja rasanya kalau mereka datang ke acara tersebut. Lalu saya bilang ke mereka, datangkan saja JKT48, pasti Kaesang suka. Eh, benar. Didatangkan lengkap.” Gibran memaparkan itu sambil terkekeh.

Karena waktu wawancara hampir berakhir, saya meminta Gibran untuk memberi semacam kiat bisnis bagi pebisnis muda Indonesia.

“Menurut saya sih, pertama kali harus yakin dengan kualitas jualan kita. Kalau bisnis makanan ya harus yakin kalau kualitas makanan kita memang enak. Kedua, mulailah dari yang kecil. Kalau bisnis kuliner, dimulai dari kaki lima juga gak apa-apa. Semua bisnis saya berasal dari kaki lima. Selain melakukan tes pasar, juga kita sambil belajar. Ketiga, kita harus punya mental bangga kalau bisa mandiri. Bisa berkarya dan mencari uang sendiri. Itu yang tampaknya kurang dilatih. Kebanyakan dari kita diajari kalau lulus sekolah nanti menjadi pegawai negeri, atau bekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan. Padahal Indonesia masih membutuhkan banyak wirausahawan muda.”

“Ada pebisnis Indonesia yang Anda kagumi?”

“Almarhum Bob Sadino.” jawabnya tegas.

“Saya pernah satu forum dengan beliau. Orangnya santai, tanpa beban, dan cara berpikirnya di luar dugaan. Itu yang berusaha saya lakukan. Mengerjakan bisnis dengan tanpa beban. Kalau kita banyak kepikiran dan terbebani dengan bisnis kita, malah gak bisa bergerak. Malah stres. Apalagi bisnis yang saya geluti ini masuk dalam kategori bisnis kreatif. Kalau pikiran kita gak fresh, tidak baik buat bisnis saya.”

“Terakhir, Mas,” ucap saya, “mau enggak satu panggung dengan Jonru. Bagaimanapun menurut saya, suka atau tidak, dia seorang pebisnis.”

“Kalau yang mengadakan Mojok, kenapa tidak?” Saat menjawab itu, tidak tampak seraut kebencian pun dari muka Gibran. Datar. Biasa saja.

Kami tersenyum lega. Obrolan kami akhiri. Lalu setelah ada sesi pemotretan sebentar, kami pamitan. Kami diantar sampai pintu depan Graha Saba Buwana, sampai kami semua masuk ke dalam mobil.

Ketika usai wawancara, foto-foto dulu...

Ketika usai wawancara, foto-foto dulu…

Di dalam mobil, Agus terdiam. Bahkan Agus tetap lebih sering diam ketika kami berhenti untuk makan siang dalam perjalanan pulang menuju Yogya. Setelah diam lama, dia tertidur. Begitu sampai Yogya, kami bangunkan dia, dan tiba-tiba Agus mengeluarkan kalimat, “Menurut Mas Gibran…”

“Woooi! Wawancaranya sudah kelar, Guuuuus!” teriak Edo.

No more articles