Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Polisi Dilempar Tahi Masih Bisa Mandi, Mahasiswa Ditembak Mati Mustahil Hidup Lagi

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
29 Oktober 2019
A A
polisi dilempar tahi MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sungguh, saya masih berusaha untuk tidak percaya, bahwa yang kalian lemparkan kepada polisi adalah tahi, bukan sanksi disiplin berupa teguran tertulis.

Enam polisi Sulawesi Tenggara dikenai sanksi disiplin. Mereka adalah AKP Diki Kurniawan, Bripka Muhammad Arifuddin, Bripka Muhammad Iqbal, Brigadir Abdul Malik, Briptu Hendrawan, dan Bripda Fatur Rochim Saputro. Keenam aparat tersebut kena sanksi disiplin karena membawa senjata api saat bertugas (((mengamankan))) unjuk rasa mahasiswa di depan kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, Kamis, 26 September 2019.

Dalam demo tersebut, dua mahasiswa, yakni Immawan Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi tewas. Randi dan Yusuf tewas setelah peluru menembus tubuh mereka, diduga peluru dari senjata api polisi.

Ketika keenam polisi tersebut diselidiki sesama polisi, publik berharap institusi penegak hukum ini sedang bermaksud mengusut pelaku pembunuhan Randi dan Qardawi. Wong Kapolri saat itu, Jenderal Tito Karnavian, sudah bilang nggak boleh dan nggak ada polisi membawa senjata api untuk menangani demo. Lha kok ini ada orang mati kena tembakan?

Tapi, lagi-lagi polisi bikin kecewa. Sudahlah tak menemukan pembunuh Randi dan Yusuf, keenam polisi pembawa senjata api itu hanya divonis tidak menaati perintah pimpinan, yaitu membawa dan menyalahgunakan senjata api pada saat melaksanakan tugas.

“Terhadap AKP Diki Kurniawan bersama lima orang terduga pelanggar lainnya dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, penundaan pendidikan selama satu tahun, dan penempatan di tempat khusus selama 21 hari,” demikian bunyi salinan keterangan pers Polda Sultra seperti dikutip BBC Indonesia.

Sementara itu, mahasiswa dari Universitas Halu Oleo (UHO) masih melakukan unjuk rasa demi keadilan. Mereka menuntut identitas polisi yang menembak Almarhum Randi dan Yusuf segera dibuka dan diberi hukuman setimpal.

Well, mau dipikir kayak gimana, sanksi disiplin untuk 6 polisi yang “menyalahgunakan senjata api” itu memang terlalu ringan. Padahal polisi sudah mengumumkan, di antara 6 polisi itu memang ada yang melepaskan tembakan.

Tidak salah dong jika sanksi seringan teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, penundaan pendidikan selama satu tahun, dan penempatan di tempat khusus selama 21 hari dicibir terlalu ringan.

Maka, ketika polisi dilempar tahi oleh mahasiswa, alasannya kuat dan jelas: mereka sudah sangat kesal dengan ketidakadilan ini. Jadi, mengapa sampai ada influencer seperti Kang Maman mendayu-dayu sok sedih ketika polisi dilempar tahi. Ini tahu, bukan batu, apalagi peluru. Bisa bayangkan kalau ada orang sipil yang berani-beraninya menembaki sesama sipil, apalagi aparat, ia akan dihukum seperti apa? Tentu mustahil cuma diberi teguran tertulis.

Sungguh, saya masih berusaha untuk tidak percaya, bahwa yang kalian lemparkan kepada sesama saudara kita, adalah tahi.
Bayangkan, jika itu dilakukan terhadap dirimu, saudaramu, orangtuamu atau anak-anakmu.

Setega itukah dirimu?
Sudah hilangkah keberadaban kita? pic.twitter.com/AHvDDixJTx

— IG : kangmaman1965 (@maman1965) October 29, 2019

Potensi kekerasan saat bertugas adalah risiko pekerjaan aparat. Itulah mengapa polisi punya tameng. Ya dipakai dong untuk menepis tahi-tahi yang perlu saya akui, dibungkus dengan rapi itu. Bayangkan, kamu menyerok seember tahi sapi, menyimpannya di ember yang lebih kecil, menggunakan sendok kamu membungkus tahi itu ke dalam bungkus lebih kecil lalu mengikatnya dengan rapat. Ketelatenan mengikat plastik isi tahi ini perlu mendapat pujian.

Polisi dilempar tahi juga bukan petaka dan akhir dunia. Meski memang, saya akui, melempar tahi ini bukan perbuatan terpuji. Mahasiswa perlu tahu kalau harga ngelondri itu mahal. Apalagi kalau sudah risih pakai seragam bekas tahi. Noda bekas tahi itu sangat sulit hilang. Malunya sampai ke sumsum tulang.

Hari-hari ini, lebih murah ngelondri kaos yang bolong kena tembakan ketimbang bekas kena tahi sapi. Berapa sih ongkos reparasi kaos yang bolong kena tembakan? Bawa ke tukang jahit minta ditambal juga selesai. Nah, seragam kena tahi sapi itu baru ancaman kepada seragam sebagai wujud keamanan dan kestabilan investasi.

Iklan

Oleh sebab itu, ke depan, kalau mau demo lagi, jangan bawa tahi buat dilempar ke arah polisi. Bayangkan, jika itu dilakukan terhadap dirimu, saudaramu, orangtuamu atau anak-anakmu. Setega itukah dirimu? Sudah hilangkah keberadaban kita?

Sungguh, saya masih berusaha untuk tidak percaya, bahwa yang kalian lemparkan kepada polisi, adalah tahi, bukan sanksi disiplin berupa teguran tertulis.

BACA JUGA Kenali Kondisi Tubuh Dari Warna Feses Habis Boker atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2019 oleh

Tags: DemokendariMahasiswapeluru tajamPolisipolisi dilempar tahiranditahiwahyu
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO
Kampus

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.