Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum

Zulfikar RH Pohan oleh Zulfikar RH Pohan
1 Juli 2026
A A
Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum MOJOK.CO

Ilustrasi Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jalan lintas Sumatra dibuat untuk mengangkut hasil kekayaan Pulau Sumatra ke Jawa, tempat lahirnya para kriminal untuk bertahan dari krisis.

Jalan Raya Lintas Sumatra (Jalinsum) merupakan sebutan untuk jalan raya/jalan nasional yang membentang dari utara sampai selatan Pulau Sumatra. Berawal dari Banda Aceh, Aceh sampai ke Pelabuhan Bakauheni, Provinsi Lampung dengan total panjang jalan 2.508,5 km.

Iklan

Kalau sudah terbiasa menjadi sopir di jalan lintas Sumatra, kamu otomatis punya lisensi tak tertulis yang diakui sesama sopir. Jalur ini cuma bisa ditaklukkan oleh orang-orang berkepala dingin dan bermental baja.

Ini bukan bualan. Banyak sopir Jalinsum mengeluhkan batu ginjal saat tua karena terlalu sering menahan buang air. Di jalan ini, kendaraan harus terus bergerak. Kata pujangga Melayu, roda tak akan berguna jika berhenti berputar pada porosnya.

Ada jalan yang bisa dirindukan. Ada jalan yang hanya layak dikenang. Tapi jalan lintas Sumatra adalah jalan yang membuatmu bergantian mengumpat, berdoa, lalu pasrah.

Lubang jalan, tanjakan ekstrem, jurang, kriminalitas, proyek perbaikan, kecelakaan, bahkan cerita hantu adalah identitasnya. Semua bercampur menjadi paket lengkap yang tak pernah dijual biro wisata.

Kabut Sitinjau Lauik membuat betis ikut ngilu. Kelok Sembilan memaksa sopir terus siaga. Belum lagi jalan pesisir selatan Aceh yang di satu sisi berbatasan langsung dengan jurang menuju laut.

Ada pula Jurang Lae Kombih yang namanya sudah cukup membuat sopir mengurangi kecepatan. Konon, sekali kendaraan masuk ke sana, tidak pernah akan ditemukan. 

Pemandangan Bus Sinar Sepadan Kabanjahe yang menembus kabut, manuver tanjakan di Bandar Baru Sumatera Utara membuat Anda berdoa semoga as rodanya sehat. Jika tidak, anak-anak sekolah yang naik di atas atapnya akan terpental.

Dibangun Belanda, untuk angkut kekayaan alam Sumatra

Sebagian ruas jalan lintas Sumatra di bagian utara mula-mula dibangun pemerintah kolonial Belanda untuk kepentingan militer dan mengangkut hasil bumi. Jalan ini sejak awal memang bukan dirancang untuk kendaraan melaju cepat.

Medannya berat. Jurang di kiri-kanan, tikungan tajam, turunan panjang, dan kabut hampir menjadi bagian permanen lanskapnya. Karena itu pula, Jalinsum berkali-kali menjadi saksi berbagai konflik bersenjata.

Di Aceh, jalur Pidie hingga Lhokseumawe pernah menjadi urat nadi logistik Belanda sekaligus wilayah tempat pasukan Daud Beureueh menghadang mereka. Bertahun-tahun kemudian, pada masa DOM, ruas yang sama kembali menjadi jalur patroli militer dan distribusi logistik. 

Kontak senjata bukan peristiwa asing. Petani di sawah pun pernah harus tiarap berjam-jam menunggu baku tembak selesai.

Wilayah Sumatra Timur juga memiliki cerita serupa. Jalan-jalan yang melintasi Labuhanbatu hingga Tapanuli terkenal berat sekaligus menyimpan sejarah panjang gerilya.

Iklan

Sejujurnya, Sumatra lebih ramah bagi jalur sungai dan laut dibanding jalan darat. Manusialah yang memaksanya menjadi jaringan jalan raya.

Pada masa Orde Baru, jalan lintas Sumatra diperluas hingga menghubungkan Aceh dan Lampung. Jalan itu kemudian menjadi urat nadi distribusi kayu, sawit, karet, batu bara, dan berbagai komoditas lainnya.

Jalinsum akhirnya menjadi salah satu denyut ekonomi Indonesia. Ini klaim yang serius dan benar. Pulau Jawa dalam urusan itu tidak ada apa-apanya. 

Truk-truk pengangkut hasil bumi hilir mudik tanpa henti membawa kekayaan Sumatra ke berbagai daerah.

Ironisnya, tidak semua masyarakat di sekitar jalan ikut menikmati kemakmuran itu. Banyak yang hanya menjadi penonton lalu lintas komoditas bernilai triliunan rupiah.

Di titik inilah kriminalitas menemukan ruang hidupnya. Sebagian warga memilih jalan pintas demi ikut memperoleh serpihan keuntungan dari arus ekonomi yang setiap hari melintas di depan rumah mereka.

Membentuk kelompok kriminal di Jalinsum adalah strategi bertahan dari krisis. Mereka menciptakan metode kriminalitasnya sendiri mulai dari kriminalitas meta-imajinatif sampai inovasi kriminal yang mencengangkan.

Baca halaman selanjutnya

Tembak ban, bajing loncat, dan dunia Shinobi di jalan lintas Sumatra

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2026 oleh

Tags: jalan lintas sumatrajalinsumKriminalSumatra
Zulfikar RH Pohan

Zulfikar RH Pohan

Dosen biasa di kampus kecil perbatasan Aceh-Sumatera Utara juga menjual sembako dan rokok untuk menambah penghasilan. Pernah belajar di CRCS-UGM. Selain mengajar, kadang menulis dan menerbitkan buku fiksi dan buku sejarah.

Artikel Terkait

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO
Esai

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO
Esai

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO
Esai

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO
Kilas

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.