Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ospek Itu Bisa Menyenangkan Kok, Ini Contohnya

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
2 September 2019
A A
ospek menyenangkan MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ospek yang mempermalukan maba dan ala ala militer itu udah nggak zaman lagi. Ospek yang menyenangkan itu bukan mitos. Ini contohnya.

Ayo jujur saja diakui, kalau ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) itu nyebelin. Ribet betul. Pagi-pagi buta sudah harus sampai kampus. Pakai kemeja putih dan celana kain warna hitam. Pakai name tag dan topi ala ala. Ada yang sampai harus pakai caping. Coba bawa cangkul sekalian.

Yang lebih nyebelin lagi ketika ukuran name tag nggak boleh salah. Masih mending kalau maba dikasih tahu ukuran panjang dan lebar secara langsung. Ada sebuah kampus negeri di Jogja yang ukuran name tag harus dicari sendiri sama maba. Info panjang dan lebar name tag pakai rumus-rumus fisika. MAMAM!

Masih ada yang lebih nyebelin? Ya jelas ada. Ospek yang nggak manusiawi, yang merendahkan harkat manusia itu nggak cuma menyebalkan, tetapi perlu diberantas.

Beberapa hari yang lalu, nama Universitas Khairun di Ternate, Maluku Utara, jadi perbincangan. Sebabnya, ada maba yang disuruh merangkak melewati selangkangan seniornya lalu ramai-ramai minum air bercampur ludah. Ini sih bukan ospek, tetapi penyiksaan.

Ospek tidak manusiawi itu jadi perdebatan. Ada yang mencoba membela dengan narasi “Yang kayak gini sih masih enteng, dulu zaman gue lebih berat” atau “…yang digempur kan bukan fisik, tapi ngebentuk mental…” Saya sering bingung, kenapa sih ospek itu kudu menyiksa lahir dan batin maba? Ala ala militerisme itu udah ketinggalan zaman dan nggak pantas dilakukan.

Mental apa yang ingin dibentuk dari kegiatan mempermalukan orang dan merendahkan harkat maba? Mental pembalas dan pendendam? Mental pembenci kampus sendiri? Apakah ada ospek yang lebih menyenangkan? Saya yakin sudah banyak kampus yang punya model ospek menyenangkan. Saya beruntung bisa merasakan salah satunya.

Ini bukan promosi kampus ya. Dulu, saya kuliah di Sanata Dharma. Kami punya yang namanya Insadha atau Inisiasi Sanata Dharma selama tiga hari.

Hari pertama masih normal kayak ospek di tempat lainnya yang pakai kemeja putih lengan panjang dan celana kain warna hitam. Tapi, di hari kedua dan ketiga, kami bebas mau pakai apa, yang penting rapi dan sopan.

Insadha itu ngapain aja? Karena Sanata Dharma punya beberapa kampus, kami menjalani ospek di dua kampus, yaitu yang di Mrican dan Paingan. Isinya? Ya namanya saja ospek alias orientasi studi dan pengenalan kampus, jadi isinya ya “pengenalan kampus”. Kami diajari mendaftar jadi anggota perpus, cara meminjam buku, dan mengenal workstation, tempat kami bisa pakai komputer perpus untuk nugas atau bikin skripsi kelak.

Ini bagian dari ospek yang menyenangkan. Terutama karena beberapa dosen di Sastra Indonesia suka ngasih judul buku untuk dipelajari. Kami tinggal ke perpus untuk mencari. Makanya, Insadha itu memudahkan mahasiswa yang mau nugas karena sudah kenal perpus sejak dini. Cari buku di basement yang dingin betul, lalu ngetik di workstation.

Orientasi Insadha betul-betul mengenalkan kampus, bukan jalan jongkok pakai topi kerucut di tengah lapangan di bawah terik matahari. Kami dibagi-bagi lagi dalam kelompok kecil untuk mengerjakan beberapa tugas dan diskusi. Nggak ada hukuman jalan jongkok melewati selangkangan senior ketiga nggak jadi yang terbaik ketika garap tugas itu atau kudu minum air campur ludah.

Insadha juga punya ciri khas, namanya “Salam Insadha”. Saya sudah nggak ingat lagi “Salam Insadha” Angkatan 2005. Yang saya ingat, setiap kali Seksen (Seksi Kesenian–dulu sih bentuknya band) bawain “Salam Insadha”, di bagian reff, kami yang baris paling belakang malah moshing. Habis musiknya lumayan asyik buat moshing. WQWQWQ…

Di puncak ospek atau hari ketiga, isinya senang-senang. Malam harinya, di lapangan Realino atau Santiago Berdebu yang kini sudah ditanami rumput campuran sintetis, ada panggung buat semacam konser malam inisiasi. Selain Seksen, dulu yang main juga ada grup-grup musik kampus. Rasanya udah bukan ospek, tapi konser.

Iklan

Well, intinya adalah, ospek yang menyenangkan itu bukan mitos. Saya rasa, inisiasi yang manusiawi akan lebih berkesan buat maba. Mental mereka juga terbentuk. Mental untuk studi dan belajar hidup di tengah orang banyak tanpa ada rasa menyesal pernah ikut ospek.

Cinta nggak pernah lahir dari bentakan, hukuman, dan paksaan. Cinta lahir dari perhatian dan penghargaan akan keberadaan orang lain.

Mau punya mental tangguh pun bisa dibentuk dari rasa sayang kepada kampus, bukan hanya dari bentakan dan hukuman. Nggak semua maba itu cocok dengan ospek ala militerisme. Ada yang bisa lebih sayang dengan ospek yang menyenangkan.

BACA JUGA Tentang Ospek yang Sebenarnya Nggak Bikin Hidupmu Ambyar atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2019 oleh

Tags: inisiasiKampusmabaOspek
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Penyesalan ikuti kata kating/senior kampus yang aktif organisasi mahasiswa. Ngopa-ngopi dan diskusi, lulus tak punya skill MOJOK.CO
Kampus

Muak sama Kating Kampus yang Suka Ajak Ngopa-ngopi, Cuma Bisa Omong Besar tapi Skill Kosong!

24 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.