• 96
    Shares

MOJOK.CO Melihat kecaman pada pihak LaLaLa Fest, seharusnya kita belajar satu hal yang penting: kenapa kita nggak bikin acara sendiri dengan konsep yang lebih gila???

Pagelaran bertajuk LaLaLa Festival alias Lalala Fest baru saja diadakan kemarin, Sabtu (23/2). Mengusung konsep menonton konser musik di lingkungan alam terbuka—atau secara sederhana: hutan—acara ini sukses mengundang apresiasi, sekaligus…

…caci maki.

Loh, loh, kok caci maki??? Memangnya kenapa mereka harus dicaci maki??? Apakah agar kita semua dapat kembali berpijar seperti dulu kala???

Eh, itu sih lagunya Sheila On 7, ya. Hehehe.

Deretan komplain pembeli tiket Lalala Fest terekam cukup banyak di lini masa. Membaca thread lengkapnya di atas bisa membuat kita ikut sedih, kesal, menangis, prihatin, tapi juga agak-agak geli karena lucu. Ya bayangin aja, masa ada konser yang panitianya nggak memberitahukan perubahan rundown acara sama sekali? Bukankah itu lucu banget: mengubah rencana tanpa memberi kabar berita? Ya persis lah sama orang yang tahu-tahu berubah drastis padahal udah sepakat komitmen di awal.

Padahal, melihat segala protes dan kecaman pada pihak LaLaLa Festival ini (yang ternyata sudah berlangsung dari tahun 2016), seharusnya kita (hah, kita???) belajar satu hal yang penting: daripada berharap pada orang lain, lebih baik berharap pada diri sendiri. Daripada bela-belain diri datang ke Lalala Fest yang cuma bisa bikin merana, kenapa kita nggak bikin acara sendiri yang memungkinkan kita lebih menikmati sajian musik dari para musisi idola???

Baca juga:  Sebuah Suara di Pos Jurit Malam Kemah Pramuka

Setidak-tidaknya, ada banyak konsep yang bisa digunakan olehmu, siapa tahu kamu berkeinginan mengadakan acara saingan Lalala Fest tahun depan.

Pertama, konser musik irit dan bersahabat: nonton bareng YouTube alias nobar YouTube.

Salah satu komplain yang cukup sering disebutkan dalam media sosial adalah betapa buruknya speaker dan sound system dalam gelaran festival tersebut. Hal ini cukup disayangkan mengingat tiket acara ini berharga ratusan ribu—jauh lebih mahal daripada speaker 50 ribuan yang biasa dipakai anak-anak PPL buat jaga-jaga kalau speaker kelas lagi eror dan mati.

Nah, daripada menghabiskan tabungan dan capek-capek bertarung di tengah hujan lumpur, bukankah lebih baik kita meliliti diri sendiri dengan selimut tebal di kosan, laptop terbuka, dan laman YouTube menyala? Pilihan artisnya bahkan lebih banyak: dengan sekali klik, kita bisa berpindah-pindah dari musisi EDM, pop, sampai dangdut. Lengkap!

Kedua,konser musik dengan konsep jurit malam.

Melelahkannya medan menuju Lalala Fest yang mengharuskan pemilik tiket untuk hiking sejauh 2 hingga 3 kilometer demi mencapai area stage juga dikomplain habis-habisan. Ini sebenarnya mau ngadain konser atau acara jalan sehat bersama, sih??? Mending kalau pagi-pagi dengan mentari yang masih bersinar, lah ini malah sore-sore sampai malam, pula. Gelap!

Kesengsaraan ini sejujurnya melahirkan ide baru yang tak kalah unik: kenapa tidak membuat festival musik yang dipadupadankan dengan konsep jurit malam saja?

Baca juga:  Ode untuk Dolores

Semasa sekolah, jurit malam selalu diadakan untuk melatih keberanian kita menembus gelapnya malam di tengah kuburan atau sekolah, lengkap dengan kakak kelas yang menyaru sebagai makhluk halus. Nah, bayangkan saja ketakutan itu kita ubah menjadi sesuatu yang menyenangkan: excitement bertemu artis-artis idola! Bayangkan kalau kamu harus hiking malam-malam di tengah hutan, lalu melihat Honne tampil di atas pohon dengan baju putih-putih yang lusuh dan mengerikan!

Takutnya dapet, hebohnya dapet. Ah, keren.

Ketiga, pengaplikasian nilai-nilai kemah pramuka lewat konsep konser musik terbaru: mencari jejak.

Di masa-masa perkemahan Pramuka, pasti ada suatu pagi kita disuruh bangun dan baris berkelompok untuk segera berpetualang mengikuti arahan kakak-kakak pembina. Kegiatan bertajuk ‘mencari jejak’ ini mengharuskan kita mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan untuk mampir di beberapa pos yang telah disediakan.

Di masing-masing pos, umumnya kita bakal diberi tantangan untuk mendapatkan poin/reward, atau sekadar untuk dapat berpindah ke pos berikutnya.

Nah, Saudara-saudara, bayangkan betapa serunya mencari jejak ini kalau di setiap pos, musisi-musisilah yang berjaga. Untuk menyaksikan penampilan Crush, misalnya, kita harus melewati pos yang dijaga oleh Pomo dan Svmmerdose. Dengan cara ini, kita bisa tetap jadi anak gaul yang nonton konser mahal, sekaligus anak Pramuka sejati.

Gimana, gimana? Seru nggak?

  • 96
    Shares


Loading...



No more articles