• 2.3K
    Shares

MOJOK.CO – Konser Sheila on 7 sempat jadi viral karena banyak yang mengaku suka peforma band asal Jogja ini. Tapi benarkah mereka adalah band yang disukai banyak orang?

Konser Sheila on 7 tadi malam di Trans 7 mendadak dibicarakan banyak orang di media sosial. Kalau di linimasamu tidak, ya mungkin cuma di beranda Facebook saya. Hal yang sebenarnya cukup mengejutkan bagi saya, karena teman-teman saya jebul banyak juga yang suka Sheila on 7.

Salah satu teman lalu bikin status; “Semua orang suka Sheila on 7.”

Benarkah?

Ah, nggak juga.

Saat membaca status tersebut, saya tersenyum geli. Bukan, bukan karena saya nggak suka Duta cs, hanya saja saya nggak menyangka bahwa band ini akan bertahan serta konsisten selama ini, mengingat stereotip yang dilekatkan ke Sheila pada awal kemunculannya.

Saya masih ingat bagaimana era awal-awal ketika Duta tampil kali pertama di layar televisi menyayikan tembang Dan. Kebetulan rumah saya punya kos-kosan cewek di area IAIN Sunan Kalijaga, jadi bisa ditebak kalau mendadak muncul demam Sheila on 7 seantero rumah saya di Jogja. Apalagi saya punya enam kakak perempuan kandung. Yah, bisa dibayangkan hebohnya mbak-mbak saya ketika melihat Duta mengibas-kibaskan rambut gondrong jadulnya itu.

Rata-rata kebanggaan ini muncul karena alasan sederhana. Duta dkk, adalah anak Jogja yang mewakili perasaan mahasiswa (mahasiswi sih tepatnya) di Jogja yang merasa punya tempat untuk dikenal atau jadi musisi pop skala nasional. Ibarat tunas, Sheila termasuk yang pertama menunjukkan musik Jogja juga bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Lalu apakah itu menular ke saya sehingga menyukai Sheila on 7? Oh, tidak. Karena era setelah reformasi, saya harus keluar dari Jogja untuk pindah ke Solo menempuh pendidikan di pesantren.

Rupa-rupanya, ketika kecil dan tinggal di beda kota, teman-teman saya sering tanya ke saya di mana rumah Duta, pernah ketemu nggak kalo lagi jalan-jalan, bahkan sampai tanya kalau latihan ngeband anak-anak Sheila studionya mana?

Pertanyaan itu muncul semata-mata karena saya orang Jogja. Fix, itu doang. Mungkin teman-teman saya yang tanya, ngerasa kalau Jogja itu cuma sebesar kompleks RT-nya Bajaj Bajuri atau pangkalan ojek Tukang Ojek Pengkolan, yang semua orang bisa kenal bisa ketemu intens setiap waktu. Dikira kalau saya sering banget bisa ketemu anak-anak Sheila, kayak tiap mau boker ke WC selalu ketemu di sumur…

Baca juga:  Iqbal AJi Daryono, Buzzer 200 Juta per Posting: Saya Punya 7 Admin

“Bang Duta, antre kamar mandi yes.”

Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk tanya baik-baik sebenarnya. Era saya merantau untuk mondok itu, Sheila on 7 nggak sendirian moncer-moncernya. Di pesantren saya, selain Limp Bizkit, Linkin Park, atau Blink 182 yang didemenin anak-anak santri, nyempil juga album-album Padi dan Dewa 19 dari Surabaya. Setidaknya ada tiga album band nasional yang jadi musik wajib di antara lantunan “Ya Habibi” atau Salawat Badar para santri kala itu.

Nah, sial, dari ketiganya—saya tak tahu sebab pastinya kenapa—Sheila dianggap berada di urutan terbawah secara selera. Anak-anak “Sobat” dan “Baladewa”, di pondok saya, selalu pandang remeh anak-anak yang suka Sheila. Dituduh kemayu lah, menye-menye, personil-personilnya dianggap kemaki, sok-sokan.

Bahkan saban ada anak santri yang punya poster Sheila yang ada Duta-nya, selalu dibandingkan dengan Fadly Padi atau Once Dewa 19 yang dibilang lebih lakik.

Pada akhirnya, “Sheila Gank” di pondok saya selalu malu-malu kucing menunjukkan kesukaannya pada Sheila on 7. Kalau santriwati masih mending. Lha kalau santri cowok? Yaelah, masih mending ngefans Sulis atau Haddad Alwi sekalian, cuy~

Sentimen ini semakin kencang ketika tiga album tiga band ini nembus di atas 1 juta kopi penjualan ketika saya awal-awal mondok. Dewa 19 dengan Bintang Lima, Padi dengan Sesuatu yang Tertunda, lalu Sheila dengan Kisah Klasik untuk Masa Depan. Saya ingat saat itu, hampir setiap akan berangkat ziarah Wali Songo keliling Jawa, para santri akan menyiapkan salah satu dari tiga album itu. Dan cuma album Sheila yang dicibir karena dianggap terlalu melow. “Idih, Sheila, mending Dewa apa Padi lah.”

Sentimen itu mungkin tidak terjadi di dunia luar—karena saya juga tidak tahu. Ya maklum, sebagai sekelompok anak muda yang hidup satu atap 24 jam kali 7 hari seminggu di pesantren, intensitas ketemuan begitu rapat. Di kamar ketemu, di kelas ketemu, bahkan ketika mau berak di kamar mandi pun ketemu. Jadi apa pun bisa diobrolin, termasuk soal Sheila on 7 yang selalu dituduh personilnya kemaki-kemaki.

Baca juga:  Lima Peri(h)stiwa Ekonomi Indonesia 2015

Sampai kemudian semua berubah saat Dewa 19 dan Padi malah mulai sibuk sama dunia masing-masing para personilnya. Ahmad Dhani yang diculik alien (sadar nggak sih kalau cuma Maia yang tahu soal ini?) terus tiruannya di bumi jadi politisi, Piyu yang malah jadi ahmad-dhani-wanna-be di Padi, sampai tiba-tiba muncul TRIAD sampai Musikimia.

Sheila bukannya tidak begitu. Eros sempet bikin Jagostu, yang sempet bikin banyak orang penasaran juga, “Mau ikutan ambyar juga kah Sheila on 7?”

Sampai kemudian band ini masih baik-baik saja setelah Sakti harus hijrah sebelum kata hijrah jadi populer seperti sekarang, dan Anton yang keluar karena Eros dan Adam kayaknya butuh drummer yang bukan drummer karnaval pawai Kartinian.

Bertahun-tahun band ini bertahan. Selow, selow, tiba-tiba awet aja. Nggak terlalu ngegas di awal, tapi selalu konsisten pada kecepatan dan tune yang merona kalem. Nggak menghentak, biasa aja.

Akhirnya teman-teman masa kecil saya, yang tadinya nggak suka Sheila tiba-tiba bilang band ini juga keren. Ya nggak tiba-tiba juga sih, ada proses pengeraman selama bertahun-tahun. Tak ada lagi tuduhan kemayu, anak Sheila kemaki, musiknya melow, cengeng~

Yang ada semua ikut ndengerin.

Sampai ada yang nyeletuk: “Semua orang suka Sheila on 7” di beranda Facebook saya.

Kalau saya ingat lagi peralihan 1990-an ke 2000-an, oh ayo deh, mereka nggak selalu disuka kok ketika awal-awalnya. Tapi, waktu yang kemudian membuktikan, bahwa yang terakhir masih tegak berdiri dan konsisten menelurkan karya, ya dia yang akan diapresiasi.

Di saat unggulan-unggulan yang se-era mulai berguguran atau paling tidak mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, Sheila berdiri sendirian meski sempat “kena tipu” sama label mayor tempat mereka meniti karier awal-awal.

Pada akhirnya Sheila berhasil menggoreskan kisah klasik untuk masa depan mereka sendiri, karena…

…ya hanya tinggal mereka yang kini tersisa. Eh.