Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mengkritik Orang yang Melanjutkan Kuliah Lagi Cuma Buat Ngisi Waktu Luang

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
14 Februari 2020
A A
melanjutkan kuliah buat mengisi waktu luang motivasi kuliah s2 mahasiswa pascasarjana soni triantoro kuliah lagi beasiswa s2 s3 menjawab nyinyiran saudara saat lebaran topik tesis proposal tesis disertasi sosialis komunis mazhab frankfurt mazhab chicago feminis radikal
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalian mungkin punya minimal satu teman yang melanjutkan kuliah S-2 atau S-3 hanya karena belum dapat kerjaan dan saking kaya rayanya orang tua mereka. Sungguh pun makhluk yang kuliah cuma buat ngisi waktu luang itu layak dikritik.

Saya adalah orang yang begitu lulus S-1 berjanji nggak ingin melanjutkan kuliah lagi. Alasannya adalah trauma skripsi. Klasik. Hingga akhirnya janji itu saya langgar sendiri.

Setelah bekerja kurang lebih satu tahun, keinginan melanjutkan kuliah muncul karena saya merasa bodoh. Lulusan Ilmu Komunikasi kok nggak bisa mbedain sosialis dan komunis. Nggak bisa mbedain mazhab Frankfurt vs Chicago. Saya merasa kuliah S-1 dulu cuma dapat ijazah dan IPK lumayan hanya karena membedah teori feminis radikal di pembahasan skripsi. Itu pun sangat cetek.

Lalu muncul sesosok Soni Triantoro, cowok imut yang mengumpan segala apa yang dia punya dan menceritakan betapa menariknya kuliah S-2. Dengan segenap tekad, saya pun memberanikan diri mendaftar pascasarjana untuk lanjut kuliah. Singkat cerita, saat ini takdir melempar saya lagi pada jurang kemalasan mengerjakan tesis. Here we go again.

Namun sesulit-sulitnya membagi waktu antara berkerja dan mengerjakan tesis, lebih sulit lagi memahami teman-teman saya yang ternyata memutuskan lanjut kuliah S-2 hanya karena mengisi waktu luang.

Pada sebuah obrolan santai, seorang teman mengatakan dia nggak ingin lulus S-2 dengan cepat. Semata karena takut setelah lulus dia bakal nganggur lagi dan nggak punya kegiatan. Selama ini motivasinya lanjut kuliah lagi adalah karena dia nggak punya kesibukan, alias, wow ngapain gitu kek!

Teman saya ini memang terlahir dari keluarga yang uangnya turah-turah. Di usia 25 dia sudah bikin kedai kopi dan punya banyak karyawan. Tapi tetap, dia merasa sebagai pengangguran. Dia pernah bekerja di suatu perusahaan swasta, namun keluar begitu saja karena sudah bosan. Selama beberapa bulan kerjaannya hanya kongkow bareng teman mainnya dan hura-hura. Lalu dia merasa tidak berguna.

Akhirnya si teman saya ini memilih buat kuliah S-2 yang uang semesterannya saja bisa buat memperbesar kedai kopinya dua kali lipat. Saya mengerti, status mahasiswa memang membuat seseorang jadi keren, apalagi S-2, hmmm calon dosen katanya, sih.

Belum lagi kalau jadi mahasiswa, bisa tetap main di malam hari meski pagi harinya harus menghadiri kelas dan berkunjung ke perpustakaan tipis-tipis. KTM itu ibarat sebuah kartu sakti yang bisa dipakai buat menikmati fasilitas kampus dan dapat diskon di warung ayam geprek Pada nggak tahu aja kalau mahasiswa ini sudah pascasarjana.

Melanjutkan kuliah S-2 bahkan S-3 bahkan bisa membebaskan kalian dari pertanyaan rese dari sanak saudara saat lebaran. Seperti:

Sekarang kerja di mana?
Lho, kok belum juga nikah?
Nggak pernah kelihatan, nih, ke mana aja?
Udah ada calon istri/suami belum?

Semua pertanyaan di atas bisa dijawab dengan satu kalimat peres: “Sekarang masih sibuk lanjut S-2 dulu, Om/Tante…”

Melanjutkan kuliah lagi ibarat trap card Yu-Gi-Oh yang otomatis membungkam segala rupa nyinyiran dan per-kepo-an orang-orang tentang bagaimana seharusnya menjadi dewasa.

Tt…tapi…

Iklan

Melanjutkan kuliah nggak pernah segampang klarifikasi setelah menyebut data Veronika Komang sebagai sampah. Melanjutkan kuliah adalah komitmen untuk menyelesaikannya. Tesis yang jelas tingkatannya lebih susah dari skrpsi itu harus benar-benar dipikirkan hingga dosen menobatkan kalian layak menyandang gelar master.

Melanjutkan kuliah juga bakal jadi beban di masa depan ketika pekerjaan kalian dianggap nggak mencerminkan profesi lulusan jenjang strata 2. Maka teman saya yang lanjut kuliah hanya karena ingin mengisi waktu luang, akan mengerjakan tesis bersama kecamuk dalam kepalanya.

Di sisi lain banyak yang benar-benar ingin lanjut kuliah demi kenaikan pangkat pada pekerjaan hingga karena sayang kalau ilmu dan nilai S-1nya disia-siakan begitu saja. Tapi tenang kawan, konon beasiswa bertebaran begitu banyaknya. Kalau kalian benar-benar ingin lanjut kuliah lagi, hal pertama yang perlu diluruskan adalah soal motivasi dan rencana kalian 2 tahun ke depan.

Sebelum mendaftar kalian perlu membuat rencana penelitian yang benar-benar ingin kalian pakai. Kalau nggak gitu, kalian bakal plonga-plongo dan menghabiskan sebagian besar waktu di kampus hanya untuk mencari tema penelitian yang menarik.

Kuliah tidak pernah sesederhana menyibukkan diri dan mengisi waktu luang. Kalau kalian bingung ngapain setelah lulus S-1, ya jangan kuliah, tapi berdagang. Niscaya akan kaya raya di kemudian hari.

BACA JUGA Kritik buat Pengguna Bahasa Inggris yang Tersiksa Baca Subtitle. Kalian Rugi, Fellas atau artikel AJENG RIZKA lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2020 oleh

Tags: beasiswa s1Mahasiswamelanjutkan kuliah
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.