Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Membawa Anak Nonton Bioskop, Salahnya di Mana?

Audian Laili oleh Audian Laili
5 Juli 2019
A A
Membawa Anak Nonton Bioskop MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak orang yang protes karena ada orang tua yang memilih membawa anaknya nonton bioskop. Lantaran, hal ini sungguh menganggu penonton yang lain. Ah, masak sih, ganggu?

Ramai orang-orang protes soal betapa tidak bijaknya orang tua membawa anaknya nonton bioskop apalagi untuk film yang tidak sesuai usianya. Lha, memangnya kenapa? Kenapa dikatakan tidak bijak? Bukankah menonton bioskop adalah hak asasi setiap manusia? Kenapa kok harus mendiskriminasi orang lain dengan melarang-larang mereka untuk menonton? Memangnya kita ini siapa?

Nonton bioskop adalah salah satu hiburan yang lumayan terjangkau untuk masyarakat kelas menengah ke atas. Jadi, tidak mengherankan kalau hiburan ini menjadi salah satu alternatif kegiatan yang bisa dilakukan di tengah waktu luang. Tinggal pilih film, pilih jam tayang, pesen tiket, duduk, dan menikmati perasaan yang digonjang-ganjing oleh tontonan yang disajikan. Tanpa harus capek-capek atau bahkan mengeluarkan keringat, tidak jarang film tersebut bahkan bikin adrenalin kita melunjak-lunjak.

Jadi, wajarlah kalau nonton bioskop adalah kegiatan hiburan sejuta umat. Baik di waktu senggang, maupun di waktu yang nggak senggang-senggang amat. Dan nggak aneh, kalau orang tua yang masih punya anak kecil pun jadi pengin ikutan nonton. Meskipun, soal orang tua yang bawa anak kecil ke bioskop ini sering kali mendapat sorotan negatif dan penuh kecurigaan dari penonton bioskop yang lain.

Tapi betapa jahatnya kita yang langsung tidak nyaman dan aman waktu ada orang tua yang membawa anaknya nonton bioskop. Coba bayangkan kalau kita yang berada di posisi mereka. Meski ada yang menyarankan sebaiknya tidak membawa anak ke bioskop karena anak bisa dititipkan dan sebagainya. Oh, tidak semudah itu untuk menitipkan anak, Kisanak.

Pertama, belum tentu para orang tua tersebut punya pengasuh yang bisa membantu untuk menjaga anak mereka ketika ditinggal-tinggal. Oke tidak sekadar pengasuh, tapi juga keluarga atau saudara lain yang dapat diberikan kepercayaan untuk dimintai bantuan tanpa rasa sungkan. Jadi, membawa anak ke manapun si orang tua ini pergi menjadi satu-satunya solusi yang bisa dilakukan, karena memang pada dasarnya tidak punya pilihan yang lain.

Kedua, nonton bioskop bergantian dengan pasangan juga tidak semudah itu dilakukan. Para orang tua ini juga pengin quality time dengan keluarga kecil mereka. Jadi tolonglah, sedikit dimengerti. Kalau gantian nontonnya, di mana letak quality time-­nya???!! Itu kan jadinya kayak nonton sendirian doang. Terus apa bedanya sama waktu dulu belum nikah dan nggak punya pasangan ataupun teman dekat yang bisa diajakin nonton bioskop? Masak udah “berinvestasi” punya pasangan halal dan udah punya anak, nggak ada yang nemenin waktu nonton? Hmmm? Sedih, tauk!!!

Lagian ya, seberisik-berisiknya seorang anak di dalam bioskop, nggak bakal juga sampai bikin obrolan di film itu nggak terdengar sama sekali. Itu suara di sound bioskop keras, loh! Ya kali, kalau ada satu makhluk saja yang berisik, langsung bikin nggak kedengeran satu bioskop. Hadeeehhh, nggak usah terlalu overthinking lah!

Ya kalau memang nggak mau ada yang ganggu, jangan nonton di bioskop umum. Sewa aja tuh satu studio untuk diri sendiri. Pasti nggak ada yang berisik-berisik dan menganggu kenyamanan dalam menonton~

Mohon maaf, nih, janganlah hanya menyalahkan anak kecil doang sebagai pengganggu utama dalam kenikmatan nonton bioskop. Jangan lupa, ada penganggu-penganggu lain yang juga sering kali muncul dalam suasana hikmad tersebut. Lha wong, jangankan anak kecil, anak-anak yang udah SMA bahkan orang dewasa aja, masih ada yang berisik pas nonton. Entah itu ngobrolin soal pemeran di filmnya, lagunya yang bikin galau, alur filmnya yang sudah dia ketahui dari spoiler-spoiler di media sosial, nggosipin temennya sendiri yang tiba-tiba nggak bisa ikut nonton karena lagi berusaha baikan sama pacarnya. Atau malah, nggak men-silent hapenya dan nerima telpon dengan suara keras tanpa rasa sungkan sama sekali.

Padahal, jelas-jelas mereka ini udah gede dan bisa mengontrol dirinya sendiri. Beda sama orang tua yang udah punya anak dan pengin nonton bioskop. Mereka tentu saja nggak ada niat untuk bikin anaknya berisik, kan? Jadi, semua yang terjadi di situ betul-betul tidak bisa dia kendalikan. Bisa jadi, dia sudah berusaha untuk ngajakin anaknya ke bioskop pas jam tidurnya supaya nanti nggak rewel. Tapi nyatanya, namanya juga anak-anak, sering kali muncul kejutan dan hal yang nggak terduga dari mereka.

Jadi, para orang tua ini juga nggak mau kalau anaknya berisik. Dia juga malu kalau anaknya menganggu orang lain. Apalagi sampai ditatap dengan pandangan yang nggak enak dari penonton yang lain, malunya bisa meningkat berkali-kali lipat. Jadi, nggak heran kalau tiba-tiba muncul reaksi nyolot dari orang tua tersebut ke orang yang menatapnya dengan pandangan terganggu tadi.

Belum lagi, kenyataan sesungguhnya kalau orang tua itu juga butuh hiburan. Nonton bioskop untuk film anak-anak, biasanya tidak cukup menghibur bagi orang dewasa. Tolonglah dipahami, bagaimana mereka pengin sedikit saja menghibur diri di tengah tuntutan hidup yang ada. Percayalah, kalau mereka sanggup bayar pengasuh dan bisa sewa bioskop satu ruang sendiri, juga nggak bakalan kayak gitu, kok, keadaannya.

Ah, susah memang buat sedikit berempati sama urusan orang lain. Dasar aku~

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2019 oleh

Tags: film anakhiburannonton bioskoporang tua
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Na Willa, film anak yang obati inner child
Seni

‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

27 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO
Urban

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.