Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kisah Goblok yang Terjadi saat Ujian Akhir Semester Mahasiswa

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
16 Oktober 2019
A A
cerita lucu mahasiswa tingkat akhir mahasiswa tua ujian akhir semester

cerita lucu mahasiswa tingkat akhir mahasiswa tua ujian akhir semester

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ujian akhir semester tidak melulu meninggalkan cerita seram. Kadang-kadang ada saja kisah goblok yang bisa muncul dari sana.

Hilangkan dulu stigma soal seramnya ujian akhir semester. Kadang-kadang situasi serius saat ujian bisa luluh lantak tak berbekas ketika ada saja mahasiswa-mahasiswa tak bertanggung jawab. Wabilkhusus, mahasiswa-mahasiswa angkatan tua bangka yang mengacaukan suasana.

Seperti yang dialami teman saya, namanya Yogi, salah satu mahasiswa keguruan ternama di Yogyakarta. Yah, sebut saja Universitas Negeri Yogyakarta lah, mahasiswa salah satu fakultas paling terdidik karena ada nama “Pendidikan”-nya.

Ceritanya, bersama dua sohibnya, Edo dan Edi, yang sama-sama angkatan tua bangka, mereka bertiga bertekad akan menempuh ujian akhir semester mata kuliah “Pengantar Logika” (serius, mata kuliah ini ada beneran).

Ceritanya mereka bertiga sudah mengulang mata kuliah ini dua kali. Kalau sampai ujian yang ini mereka nggak ikut, mereka bisa ngulang mata kuliah Pengantar Logika untuk ketiga kalinya di tahun depan. Dan jelas bakal malu naudzubillah, karena itu tandanya mereka nggak punya logika sama sekali.

Lha iya dooong, Pengantar Logika kok ngulang sampai tiga kali itu logikanya ditaruh di mana hah?

Masalahnya adalah, ujian dilangsungkan pukul 8 pagi. Problem banget ini.

Hm, nggak terlalu pagi sih memang. Tapi buat Yogi, Edi, dan Edo, pukul 8 pagi itu seperti waktu sepertiga malamnya manusia normal. Soalnya, pukul 8 pagi adalah waktu mereka baru mau tidur dari begadang semalaman. Entah begadang untuk main kartu remi atau main PS.

Alhasil mereka bertiga bikin perjanjian pukul 1 dini hari, beberapa jam sebelum ujian berlangsung.

“Oke, karena ini pertaruhan kita. Kita minta Yogi yang biasa bangun pagi untuk bangunin kita nanti subuh,” kata Edo mengawali.

“Iya, Yog. Kamu yang biasa bangun pagi,” kata Edi.

Karena jelas kalah voting, akhirnya Yogi pun menerima tanggung jawab itu. Yogi yang tinggal beda rumah kontrakan akhirnya balik ke kandangnya, meninggalkan Edo dan Edi yang bukannya langsung tidur, tapi….

…malah main PS.

Mana main PS-nya sampai subuh lagi. (Emang nggak ada logikanya dua orang ini).

Iklan

Di sini sudah jelas betapa gobloknya kisah ini. Selintas saja mata mereka sampai ketiduran, ujian Pengantar Logika bablas. Dan benar saja, Edo dan Edi beneran ketiduran. Mereka berdua baru bangun jam 8 pagi…

…lebih 1 jam.

Dengan mata masih merah menyala, rambut kusut, dan iler di mana-mana, Edo terkejut melihat jam di hapenya.

“Di, Edi, kita telat bangun, Di! Udah jam 9 ini, Setaaan,” teriak Edo sambil membangunkan Edi yang tidur di sampingnya.

Edi gelagapan. Lalu sambil masih mengumpulkan nyawa, Edi ikut-ikutan melirik jam.

“Wasyuuu, ngulang lagi ini tahun depan,” kata Edi meratap. Mungkin air matanya keluar.

Meski begitu, keduanya agak lumayan lega karena punya satu sosok yang patut disalahkan, yakni Yogi.

“Bangsat si Yogi, nggak bangunin kita,” kata Edo marah-marah.

Tak berapa lama kemudian, dengan tanpa perasaan bersalah, Yogi datang ke kontrakan Edi dan Edo. Begitu masuk kontrakan, terlihat tak ada gairah sama sekali dari wajah Yogi. Dari melihat ekspresi Yogi yang seperti habis ditagih pinjaman online, Edo menduga Yogi bernasib seperti dirinya. Sama-sama telat bangun.

“Kamu telat bangun juga?” tanya Edo.

“Ya dikit, bangun jam 8.30,” kata Yogi.

“Nggak ikut ujian dong?” tanya Edo.

“Ikut,” kata Yogi.

“Woolaa hasyuuu, nggak bangunin kita,” kata Edi, kali ini marah-marah.

“Tunggu dulu, tunggu,” kata Yogi.

Lalu Yogi menceritakan sebuah kisah yang kemudian menjadi urban legend di kampus tersebut—terutama di jurusan mereka bertiga.

Jadi gini. Yogi memang bangun telat, tapi nggak telat-telat banget. Yah, cuma telat setengah jam lah. Karena sudah telat, Yogi tak mandi dan tak sempat menelepon kedua sahabatnya. Janji semalam sebelumnya jebul dikacangin demi karier kuliahnya sendiri.

Begitu sampai kampus dan masuk ruang ujian akhir semester—karena udah telat setengah jam—Yogi langsung mengambil lembar jawab dan lembar soal. Saat itu, kebetulan Petugas TU sedang keluar ruangan (entah karena alasan apa). Jadi Yogi ya tinggal ngambil-ngambil lembar soal dan lembar jawab aja gitu.

Lalu dimulailah mengerjakan soal. Sebagai orang yang sudah punya iktikad agar lulus mata kuliah Pengantar Logika, Yogi mengerjakan soal dengan semangat ’45. Bahkan, kolom nama, mata kuliah, dan lain-lain tidak dia isi dulu karena ingin konsentrasi mengerjakan soal.

Baru kemudian, ketika udah mau selesai mengerjakan soal, Yogi kepikiran untuk mengisi kolom keterangan nama mahasiswa, NIM, nama dosen, dan mata kuliah. Nah, di kolom nama dosen inilah Yogi bingung, karena dia memang tidak hafal nama dosennya.

Bimbang dengan siapa nama dosennya, Yogi pun nanya ke mahasiswa di sampingnya.

“Eh, matkul ini siapa dah nama dosennya?” tanya Yogi.

“Bu Ambarwati, Bang,” jawab si mahasiswa yang merupakan adik kelas.

Yogi bingung. Dirinya mematung sejenak.

“Lah? Bukannya dosennya cowok ya?” tanya Yogi lagi.

“Cowok gimana, Bang?”

“Iya, cowok. Aku nggak hafal nama dosennya, tapi aku kuliah beberapa kali, cowok kok,” kata Yogi.

Mereka berdua malah berdebat hebat. Kelas bahkan jadi berisik.

Nah, ketika dua mahasiswa ini berdebat, Petugas TU yang tadi keluar, tiba-tiba masuk ke dalam ruang ujian. Melihat ada dua orang yang lagi ribut sendiri, si Petugas TU mendekat.

“Lho, Masnya baru datang?” tanya Petugas TU melihat Yogi

“Iya, Pak.”

“Sudah tanda tangan presensi?” tanya si Petugas TU.

“Belum. Tadi buru-buru ngerjain, Pak,” kata Yogi.

“Ya udah, ini tanda tangan dulu,” kata Petugas TU menyodorkan lembar presensi.

Perasaan Yogi sudah tidak enak ketika nama dosen yang disebutkan si adik kelasnya berbeda dengan dosen yang dia tahu. Lalu dicarilah itu namanya di presensi ujian akhir semester. Dan benar, namanya nggak ada. Juga nama dua temannya, si Edo dan si Edi. Semuanya nggak ada. Walah, konspirasi macam apa ini?

“Waduh, Pak, kok nama saya nggak ada ya?” tanya Yogi.

“Kamu mahasiswa sini bukan?” tanya si Petugas TU.

“Ya iyalah, Pak,” kata Yogi.

“Lha kamu itu ikut mata kuliah Administasi Pendidikan ini nggak?” tanya Petugas TU.

“Apa, Pak? Ujian apa ini, Pak?” tanya Yogi tambah panik.

“Administrasi Pendidikan, kamu itu ambil ini nggak?” tanya Petugas TU.

“Lho, bukannya ini ujian Pengantar Logika ya, Pak?” tanya Yogi.

“Oh, ujian Pengantar Logika di lantai 3, Mas. Bukan di ruangan ini,” kata Petugas TU santai.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9.15. Mau dia lari secepat kijang juga nggak bakal sempat. Akhirnya yang dilakukan Yogi adalah…

…menyusul ke kontrakan Edi dan Edo.

Ketika Edi dan Edo mendengar cerita tersebut, kemarahan mereka berdua berubah jadi ledakan tawa yang sangat keras sekali pagi itu. Edi dan Edo benar-benar merasa lega, sebab ternyata kegoblokan mereka berdua (yang main PS sampai subuh) menemukan tandem sempurnanya.

Pada akhirnya, logika Yogi, Edo, dan Edi berakhir dengan proses instal ulang lagi tahun depan. Hm, benar-benar goblok yang paripurna.

BACA JUGA Masa Depan Mahasiswa Sastra Indonesia yang He He He atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2019 oleh

Tags: goblokkisahMahasiswaujian akhir semester
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO
Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.