Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Alasan Saya Lebih Pilih Honda Genio daripada Scoopy

Oke, sih, secara penampilan Scoopy ini tidak ada lawan. Desainnya istimewa, tapi....

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
14 Januari 2022
A A
Alasan Saya Lebih Pilih Honda Genio daripada Scoopy

Ilustrasi Honda Genio (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Honda Genio memang punya harga dan spesifikasi lebih rendah daripada Scoopy. Kalau ukuran fitur sih iya, tapi….

“Eh, motor yang kamu pakai ke rumahku kemarin itu apa, Daf?” tanya teman saya, Agus Mulyadi.

Iklan

“Vario?” tanya saya agak lupa. Vario yang saya maksud itu memang motor saya untuk keperluan sehari-hari.

“Bukan, yang aku sempet pinjem muter-muter itu lho,” kata Agus lagi.

“Howalah, Honda Genio,” kata saya.

“Nah, itu. Berapaan harganya ya?” tanya Agus lagi.

“Kayaknya sih antara 17-an juta gitu,” kata saya.

Agus manggut-manggut. Mikir sebentar.

“Lebih murah daripada Honda Scoopy ya jebul,” kata Agus.

Honda Scoopy memang ada di kisaran 19-20-an juta.

“Emang kamu mau ganti motor?” tanya saya.

“Iya, motorku udah dijual,” kata Agus sedikit mengejutkan saya.

Motor yang dijual Agus itu adalah Beat. Tahun 2016. Motor yang sebenarnya masih bagus secara performa. Hanya karena Agus ini nggak terlalu perhatian sama motornya (btw, Beat-nya itu jarang sekali diservis sejak touchdown dari dealer).

Beda soal dengan Honda Genio yang pernah pernah dipinjam Agus. Motor yang jauh lebih terawat, dan tentu saja rajin saya servis.

Iklan

“Bukannya tinggal nambah 2 jutaan lagi bisa dapet Scoopy ya?” tanya Agus.

Saya tersenyum. Ini pertanyaan yang hampir ditanyakan kenapa saya lebih suka memakai Honda Genio ketimbang Scoopy. Agak kurang masuk akal secara value for money aja mungkin.

Harus diakui, Scoopy adalah matic yang sangat bagus untuk ukuran motor harga 20 juta. Bannya belakang cukup besar dan bodi belakangnya bongsor, jadi lumayan enak kalau dibawa ke track lengang.

Sayangnya untuk di jalan-jalan kecil yang suka macet, terutama di Jogja, Honda Scoopy lumayan besar dan kurang nyaman. Saya pernah memakainya dan agak mengayun kalau dibawa berboncengan melewati keramaian.

Tetap nyaman sih, tapi saya pikir orang memilih Scoopy itu lebih berpatokan pada desainnya dulu ketimbang performanya dulu. Hal yang bukan saya banget.

Oke, sih, secara penampilan Scoopy ini tidak ada lawan. Desainnya istimewa, hanya dengan catatan: kalau orang itu suka dengan gaya yang serba-retro. Buat orang yang tidak terlalu peduli sama bentuk motor (dan tidak suka gaya yang retro) ini jelas bukan tawaran yang menggiurkan. Saya salah satunya.

Apalagi secara performa mesin, keduanya tak beda jauh dan (ini yang penting buat orang Indonesia) sama-sama irit. Kalau bisa dapat yang mesinnya nggak beda jauh dan dapat lebih murah 2 juta, ya kenapa nggak ngambil Honda Genio aja?

Bahkan, gara-gara badan bongsornya Scoopy, tarikan motornya tidak lebih responsif daripada Honda Genio lho. Ya mungkin ini karena Genio bodinya lebih kecil, lebih ramping, dan lebih enteng secara bobot daripada Scoopy, padahal secara performa mesin hampir sama. Makanya tarikannya Genio lebih enak.

Baiklah, saya tahu, bagi beberapa orang, selisih segitu tak terlalu terasa. Apalagi dengan fitur yang ditawarkan Scoopy. Tapi bagi saya, selisih itu tetap terasa. Selisih 2 juta itu baru tidak terasa kalau itu duit buat beli mobil, kalau buat beli motor ya tetep ngaruh lah.

Setidaknya, perbandingannya gini. Duit 2 juta kalau untuk mobil mah nggak bisa modifikasi banyak-banyak, tapi kalau untuk motor? Wah, itu sih bisa dapat banyak banget, Bosque.

Satu hal lagi yang bikin males dari Scoopy adalah efek samping dari tingkat penjualannya yang gila-gilaan.

Dulu, ketika saya ke dealer Honda dan mau beli motor, kalau misalnya saya mau beli Scoopy, saya harus inden dulu. Bisa dua mingguan—kadang satu bulan, tergantung pada warna apa yang mau dipilih. Sejujurnya, itu salah satu yang bikin saya malas.

Honda Genio? Ketika saya milih, barang sudah tersedia dan tinggal dikirim ke rumah. Udah keluar duit belasan juta kok masih harus nunggu barang datang berminggu-minggu kok rasanya aneh saja menurut saya.

“Goblok kamu, harga jual kembalinya tapi kan jauh banget selisihnya,” ini kata teman saya yang lain, Rusli Hariyanto. Seorang sopir rental yang juga usaha jual beli apapun—termasuk motor bekas.

Sejak awal percakapan saya dengan Agus, Rusli memang ada di tengah kami berdua.

“Itu kan kamu, Rus,” kata saya.

“Lah iya dong. Honda Genio itu bisa dibilang produk gagal lho, harga second-nya aja jatuh banget. Nggak kayak Scoopy yang kalau dijual kembali masih lumayan,” tambahnya.

“Makanya aku bilang, itu mindset kamu sebagai seorang penjual motor bekas. Lah kalau aku, yang niat beli motor untuk fungsi dan kenyamanan secara personal, ngapain mikir harga jual kembali? Asal kita cocok sama motornya kan?” kata saya.

“Ya kalau itu sih udah beda urusan. Maksudku secara value for money sih, mending Scoopy,” kata Rusli.

Iya kalau itu urusannya duit, memang betul. Masalahnya soal kecocokan itu kadang-kadang bukan soal mau dijual kembali jeh.

Dalam debat antara saya dengan Rusli itu, ada Agus di tengah kami berdua. Agus yang awalnya sempat terpengaruh untuk beli Scoopy gara-gara rayuan Rusli, tiba-tiba bilang gini…

“Coba aku carikan Genio, Rus,” kata Agus.

Waini.

Saya nggak ikut-ikut lho.

BACA JUGA Debat Toyota Fortuner vs Mitsubishi Pajero di Rute Situbondo-Jember dan tulisan OTOMOTIF lainnya.

Penulis: Ahmad Khadafi

Editor: Ahmad Khadafi

Terakhir diperbarui pada 16 Januari 2022 oleh

Tags: dealerhondahonda genioMesinmotorScoopyservisvario
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO
Otomojok

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026
Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO
Tajuk

Lahirkan Pembalap Kelas Dunia, Tapi Jogja Tak Punya Sirkuit Balap Permanen

15 Juni 2026
Kiandra Ramadhipa Juara di MotoJunior Championship Portugal!
Olah Raga

Kiandra Ramadhipa Juara di Race Moto3 Estroil 2026!

14 Juni 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO
Catatan

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Wisata air Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah akan dikembangkan. Ada investasi dari Cilacap hingga Jepang MOJOK.CO

Rawa Pening Kabupaten Semarang bakal Jadi Wisata Unggulan Jateng, Tawarkan Rumah Makan Apung-Keramba

25 Juni 2026
Yamaha Aerox Alpha 2025, Matik Terbaik untuk Anak Muda dan Jawaban Terbaik dari Yamaha yang Menolak Tunduk pada Stigma Jamet yang Salah Alamat

Yamaha Aerox Alpha 2025, Matik Terbaik untuk Anak Muda dan Jawaban Terbaik dari Yamaha yang Menolak Tunduk pada Stigma Jamet yang Salah Alamat

29 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Liburan bareng keluarga di Candi Prambanan, Yogyakarta. MOJOK.CO

Liburan Sekolah Bareng Keluarga di Candi Prambanan Terasa Beda Sekaligus Lega, Banyak Kegiatan Menarik yang Nggak Bikin Dompet Boncos

1 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.