MOJOK.CO – Di dunia ini, ada tiga hal yang pasti: Kematian, pajak, dan Mitsubishi L300 yang ngebut di lajur kanan sambil membawa muatan sayur setinggi gapura kecamatan.
Jika Anda adalah penggemar otomotif yang memuja fitur keselamatan canggih seperti Honda Sensing atau Toyota Safety Sense, mohon menyingkir dulu. Kita akan membicarakan sebuah entitas purba yang menolak punah.
Ini adalah sebuah kotak sabun berjalan yang aerodinamisnya setara dengan batu bata. Tapi jangan salah, mobil ini memiliki fanbase militan yang lebih loyal daripada fans Manchester United.
Namanya adalah Mitsubishi L300. Para sopir logistik di Jawa Timur memanggilnya “Elsapek“.
Mitsubishi L300 adalah anomali terbesar dalam industri otomotif Indonesia. Saat pabrikan lain berlomba-lomba memasang airbag 7 titik, rem ABS+EBD, dan layar sentuh floating, Mitsubishi dengan santainya menjual L300 dengan fitur yang sama persis seperti tahun 80-an. Ia memakai setir bundar, tiga pedal, dan doa ibu.
Aerodinamika batu bata Mitsubishi L300
Mari kita bicara soal desain. Sejak kali pertama meluncur di Jepang tahun 1979 (Generasi kedua Delica), bentuk L300 nyaris tidak berubah. Kotak. Persegi. Siku-siku.
Para insinyur Mitsubishi sepertinya penganut aliran minimalis ekstrem. “Buat apa ganti desain kalau yang kotak saja laku keras?” Mungkin begitu pikir mereka.
L300 tidak mengenal istilah crumple zone (zona penyerap benturan). Bagi L300, crumple zone ya lutut sopir. Posisi duduknya yang berada persis di atas roda depan (cab over engine) memberikan sensasi berkendara yang “menyatu dengan aspal”. Jika terjadi tabrakan depan, yang pertama kali menyambut benturan adalah bumper tipis, lalu plat bodi setebal kaleng kerupuk, dan langsung tulang kering pengemudi.
Mengerikan? Bagi orang awam, iya. Tapi bagi sopir L300, ini adalah sensasi adrenalin yang membuat mereka tetap terjaga saat menyetir lintas provinsi. Fitur keselamatannya bukan pada teknologi, tapi pada kemampuan dewa sang sopir.
Baca juga 3 Kelebihan Mitsubishi Colt L300 yang Nggak Dimiliki Mobil Pick Up Lain
Perdebatan antara asap hitam dan Euro 4
Selama puluhan tahun, L300 melegenda berkat mesin 4D56 SOHC 2.5 Liter. Ini adalah mesin diesel legendaris yang “badak”. Ia berisik, getarannya bisa merontokkan gigi palsu, dan asap knalpotnya hitam pekat seperti cumi-cumi panik.
Tapi, torsinya “jambak” di putaran bawah. Mitsubishi L300 bisa melibas tanjakan Cangar atau Pujon dengan gigi 2 tanpa perlu menginjak gas dalam-dalam. Suku cadangnya? Ada di setiap bengkel pinggir jalan, dari Sabang sampai Merauke.
Namun, regulasi pemerintah yang mewajibkan standar emisi Euro 4 pada April 2022 memaksa sang legenda berbenah. Mitsubishi (akhirnya) mengganti jantung pacunya dengan mesin 4N14. Ini adalah mesin Common Rail modern berkapasitas 2.268cc yang dilengkapi Turbocharger dan Intercooler.
Di atas kertas, mesin baru Mitsubishi L300 ini lebih superior. Tenaganya naik drastis menjadi 99,25 PS (naik 40% dari model lama) dan torsinya tembus 200 Nm. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Para sopir Mitsubishi L300 garis keras justru sambat.
Kenapa? Karena mesin Common Rail itu manja. Mesin ini tidak bisa lagi menenggak “solar busuk” (Bio Solar subsidi) sembarangan. Filter solar mobil ini jadi sensitif. Injektornya mahal pula.
Bagi pengusaha sayur di Dau atau Batu, ini masalah. Mereka terbiasa mengisi solar eceran di pinggir jalan. Kini, mereka terpaksa merawat mesin yang teknologinya setara Pajero Sport.
Belum lagi posisi aki yang pindah ke bawah sasis samping. Ini membuat maling spesialis aki jadi bahagia. Ini insinyur Mitsubishi mikir apa coba. Mungkin mereka mengira Indonesia seaman Tokyo.
Baca halaman selanjutnya: Menolak mati, selalu ada di hati.















