Kenyamanan Mitsubishi L300? Itu mitos!
Masuk ke kabin L300 Euro 4 terbaru, dashboard yang… masih kotak… akan menyambut kita. Memang ada sedikit penyegaran di digital speedometer dan head unit yang sudah bisa memutar musik (meskipun speaker-nya cempreng). Posisi kabin juga katanya ditinggikan 100 mm.
Tapi soal kenyamanan, L300 tetaplah L300. Suspensi depan masih pakai double wishbone dan belakangnya leaf spring (per daun) setengah lingkaran. Karakter bantingannya keras kalau kosong, tapi mental-mentul enak kalau kita memberinya beban 2 ton. Mobil kok suka banget menderita.
Artinya? Mitsubishi tidak mendesain L300 untuk mengantar Anda pacaran. Mobil ini didesain untuk disiksa. Semakin berat muatannya, semakin anteng bawanya. Masokis banget.
Oya, fitur power steering juga sudah ada, dan itu adalah satu-satunya kemewahan. AC? Jangan harap. Pendingin udara L300 adalah angin jendela yang dibuka lebar-lebar. Power window? Masih engkol manual.
Harganya sekarang tembus Rp230 jutaan (OTR Jakarta). Dengan uang segitu, Anda bisa dapat Wuling Formo Max yang sudah ada AC dan ABS, atau Suzuki Carry yang kabinnya lebih luas.
Tapi kenapa L300 tetap laku? Data Gaikindo mencatat L300 masih memimpin pangsa pasar pikap 4×2 di atas 2.000 cc dengan market share lebih dari 60%. Jawabannya adalah harga jual kembali (resale value) dan kepercayaan.
Di pasar mobil bekas, L300 adalah emas batangan. L300 tahun jebot (90-an) pun masih laku Rp40 sampai Rp50 juta asal sasis utuh. Orang desa percaya, L300 adalah investasi. Beli Carry atau Gran Max, harga jualnya terjun bebas. Beli L300, harganya stabil kayak saham blue chip.
Baca juga Lupakan Pajero, Mobil Terbaik untuk Yang-yangan Adalah Pick Up Mitsubishi L300
Budaya “wong tulus” di jalan raya
Membahas L300 tak lengkap tanpa membahas sub-kultur pengemudinya. Ada komunitas besar bernama ELTITUSI (L300 Indonesia) dan slogan “Wong Tulus”. Slogan ini punya kepanjangan: wani ongkek tanpo uang saku atau berani kerja keras tanpa uang saku lebih.
Di jalan raya, L300 yang membawa muatan sayur, sapi, atau pindahan rumah, memiliki kasta tersendiri. Mereka adalah raja jalanan yang sesungguhnya. Fortuner atau Pajero yang arogan dengan lampu strobo, biasanya akan minggir kalau ditempel L300 dari belakang.
Kenapa? Karena sopir Fortuner takut mobilnya lecet. Sopir L300? “Lecet itu luka tempur, Bos!”
Mereka punya kode etik: “Ojo ngaku lanang nek durung punya L300.” Stiker-stiker di kaca belakangnya pun puitis dan filosofis.
“Putus cinta soal biasa, putus per daun berat urusannya.”
“2 anak cukup, 2 istri bangkrut.”
L300, sang legenda yang menolak mati
Pada akhirnya, Mitsubishi L300 adalah bukti bahwa di Indonesia, fungsionalitas dan durabilitas mengalahkan teknologi dan kenyamanan.
Konsumen Mitsubishi L300 tidak butuh fitur lane keep assist karena tangan mereka sudah terlatih menjaga setir agar tidak lari ke kiri. Mereka tidak butuh cruise control karena kaki kanan mereka sudah sekolah S3 di tanjakan.
Meskipun modelnya kuno, boros (kalau muatan penuh), dan minim fitur keselamatan, kita tetap mencintai Mitsubishi L300. Ia adalah tulang punggung logistik UMKM dan saksi bisu ribuan sarjana yang kuliahnya dibiayai dari hasil angkut sayur bapaknya.
Jadi, berhentilah mengejek L300 sebagai mobil tua. Karena saat mobil canggih Anda mogok karena sensor elektroniknya konslet kena banjir, L300 akan lewat di samping Anda sambil tersenyum, menyemburkan asap tipis Euro 4, dan melaju santai memutar ekonomi bangsa.
Panjang umur, Elsapek!
Penulis: Roh Widiono
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Mitsubishi L300 Pick Up Purba yang Tak Kunjung Punah dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.















