Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
11 Maret 2026
A A
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Ilustrasi - Kucing peliharaan anak kos Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya punya kira-kira 7 kucing. Ditambah 3  kucing liar yang diberi makan di teras. Alhasil sebagai anak kos, pengeluaran kucing-kucing itu tentu lebih besar dari milik saya. Gaji yang masuk untuk hidup sehari-hari sebagai anak kos di Jogja pun, musnah setengahnya untuk mereka.

Namun sebagai pecinta anak bulu (anabul) dengan tingkat hampir ekstrem, saya tidak terlalu keberatan. Rasanya lebih mudah mengeluarkan lebih dari Rp100 ribu untuk makan kucing daripada makan sendiri. 

Bisa jadi, pada taraf ini, saya sudah terlalu dibutakan cinta kepada kucing-kucing yang hanya mengeong ketika diajak berbicara. Sama sekali tidak bisa menjawab dalam bahasa manusia. Namun maklum, namanya juga cinta buta.

Merelakan lebih dari setengah UMP Jogja untuk kucing

Sebagai informasi, Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk gaji di Jogja itu sekitar Rp2,4 juta. Pengeluaran untuk kucing-kucing saya setidaknya mencapai angka 2.

Hitung-hitungannya begini, mereka punya kebutuhan makan kering, makan basah, hiburan, dan kebersihan. Namun, untuk kebutuhan kebersihan, barang yang dibeli sering cukup awet selama berbulan-bulan. Lain hal dengan kebutuhan hiburan yang setiap mainan rusak, beli lagi, serta butuh catnip (ganja kucing) untuk relaksasi mereka.

Sementara itu, untuk makan 10 kucing itu kira-kira akan menghabiskan lebih dari 2 kilo makan kering dalam seminggu, serta sedikitnya 5 bungkus makan basah dalam sehari. Totalnya, Rp200 ribu untuk makan kering ditambah Rp30 ribu untuk makan basah per harinya. Dikalikan dengan perhitungan satu bulan, sekitar Rp2 juta dihabiskan hanya untuk makan kucing.

Dibanding biaya sebulan menjadi anak kos “medioker”  di Jogja saja, biaya makan kucing jauh lebih tinggi. Belum lagi, biaya ini bisa membengkak kalau ada pengeluaran dadakan, seperti kucing yang tiba-tiba tidak mau makan karena bosan dengan makanannya.

Namun, begitulah kehidupan pemilik anabul yang sudah menjadi rahasia umum. Salah seorang dokter hewan di Twitter (kini X) yang dikenal dengan sebutan Dok Purbo melalui akun @piyokavet menyebut, nasib ini memang mau tidak mau harus dihadapi kalau memelihara hewan, seperti kucing.

“97 persen cara kamu piara hewan kesayangan itu salah total. Sudah bertahun-tahun boncos dan pusing kan?” tulisnya, dikutip pada Rabu (11/3/2026).

Setelah itu, Purbo menyebutkan solusinya adalah dengan tidak memelihara hewan. Sebab, dalam merawat hewan, butuh komitmen seumur hidup.

Menjadi miskin karena kucing

Salah seorang anak kos di Jogja, Fendi (28), juga pernah dan masih mengalami nasib naas itu. Ia memiliki satu kucing betina, tapi mampu membuatnya miskin sepanjang hidup.

Salah satu momen pengurasan isi dompet Fendi terjadi bersamaan dengan momentum adiknya yang akan menikah. Kala itu, kucing bernama Klingi itu terserang virus Corona kucing yang membuatnya harus dirawat inap selama hampir satu bulan.

Padahal saat itu, Fendi sedang mengerjakan beberapa proyek pekerjaan yang membuatnya merasa cukup “tajir” dengan pemasukan yang besar. Ditambah, Fendi merasa memiliki riwayat pengeluaran yang besar dalam beberapa waktu sebelum pernikahan adiknya. Itu membuatnya merasa mampu untuk berkontribusi pada pernikahan mendatang.

Karena itu juga, biaya perawatan kucing dianggap sepele sebelum mengecek total mutasi rekening.

Iklan

“Kebetulan saat itu, aku lagi banyak proyek dan beberapa bulan sebelum adikku menikah transferanku banyak banget kayak jadi orang paling kaya di kabupaten, dari tabungan aku jor-joran banget,” katanya, Rabu (11/3/2026).

Namun semuanya berubah, setelah dirinya harus membayarkan sekitar Rp2 juta untuk pengobatan kucingnya. “Tapi, kucingku sakit dia rawat inap hampir satu bulan dengan total Rp2 juta sekian,” kata dia.

Biaya itu, belum termasuk perawatan sendiri di rumah. Fendi bilang, dia ternyata harus menghabiskan lebih banyak uang karena banyaknya printilan yang harus dibeli, ditambah tenaga dan waktu yang harus disisihkan.

“Belum termasuk ketika dia dipulangkan perawatannya nggak semurah di petshop,” ujarnya.

Setelah mencurahkan semuanya demi si Klingi, barulah laki-laki asal Wonogiri ini menyadari bahwa dirinya tidak pernah tajir. Malahan, status ekonominya lebih dekat dengan “miskin” karena kucingnya.

“Akhirnya, aku menyadari aku tidak sekaya itu karena kucing,” tukasnya.

Anak kos Jogja hanya salah satu dari yang kasih sayangnya di luar nalar untuk kucing

Namun, Fendi maupun saya, yang merupakan anak kos-kosan di Jogja bukan satu-satunya. Penelitian yang dilakukan CommBank menunjukkan setiap generasi menggelontorkan jumlah uang yang berbeda untuk hewan peliharaannya.

Generasi milenial menghabiskan paling banyak sekitar 357 dolar AS atau Rp6 juta rupiah, diikuti generasi X dengan Rp4,7 juta, gen Z Rp4,3 juta, dan baby boomer Rp2,9 juta. 

Penelitian menunjukkan pemilik hewan rata-rata menghabiskan 10 persen penghasilannya untuk hewan kesayangan, bahkan lembaga kesejahteraan hewan di Inggris dan Wales (RSPCA) mengatakan dedikasi ini bisa mencapai 30 persen hanya untuk makanan hewan.

Salah satu riset yang dilakukan Michael W. White dan kawan-kawan pada empat tahun lalu, tahun 2021, juga dimulai dengan kutipan menarik, “I work hard so my dog can have nice things [Aku bekerja keras sehingga anjingku bisa punya barang-barang bagus].”

Penelitian ini menemukan, orang-orang yang memiliki hewan peliharaan secara konsisten menghabiskan seluruh harta kekayaannya untuk peliharaan mereka. Bahkan, mereka lebih bahagia daripada ketika diminta mengingat bagaimana perasaannya saat mengeluarkan uang untuk hewan peliharaan ketimbang diri sendiri.

Penelitian ini, persis yang saya alami. Karena kucing-kucing yang saya miliki berada di rumah, saya merasa lebih senang ketika mengetahui mereka makan dengan lahap, meski ada seseorang yang mempertaruhkan uang makannya di sini.

“Kucing-kucing mana? Makannya gimana?”

“Si ini sehat?”

“Mau lihat si itu.”

Kalimat-kalimat itu semacam sudah menjadi makanan sehari-hari yang lebih mengenyangkan daripada nasi ketika diamini. Ini juga selaras dengan penelitian White dan kawan-kawan yang menemukan, pemilik hewan yang diminta menghabiskan lebih dari Rp50 ribu, tepatnya Rp84 ribu (5 dolar AS) melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi daripada ketika menghabiskannya untuk diri sendiri.

Maka dari itu, data menunjukkan orang-orang di China, misal, bisa menghabiskan 1,5 miliar dolar untuk hewannya. Juga, pemilik hewan di AS yang bisa menggelontorkan sampai 100 miliar dolar. Apabila dikonversi, nominalnya sekitar Rp1.687.300.000.000.000. Sebab sebesar apa pun yang diberikan untuk hewan piaraan seperti kucing, semuanya terasa setara dan wajar-wajar saja, sekalipun harus hidup miskin hari-hari setelahnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: anak kosanak kos jogjabiaya pelihara kucingbudak kucinghidup kucingJogjakomunitas pecinta kucingkucing anak koskucing kampungkucing liarkucing orenpelihara kucing
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO
Catatan

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.