Perihal menyalakan Honda Vario untuk kali pertama
Mio idaman saya tak pernah datang ke rumah. Namun, kenyataan bahwa saya akhirnya memiliki Honda Vario untuk diri saya sendiri sudah sangat menyenangkan.
Saat itu, saya belum mengerti tentang dunia otomotif. Saya tidak tahu apa itu mesin dan transmisinya. Yang saya tahu, esok adalah hari pertama saya menungganginya ke sekolah, dan ekspektasi yang melambung itu membikin saya insomnia.
Namun, kejadian runyam mewarnai hari pertama yang semestinya spektakuler. Honda Vario baru itu mogok. Pelajaran moral pertama yang saya petik adalah tak ada hubungan kausalitas antara harapan dengan kenyataan!
Anak kunci telah di posisi On, dan tombol Start sudah saya tekan berulang-ulang. Tapi, motor itu bergeming sesunyi pertapa tua di ceruk goa. Ayah turun membantu. Namun, mesinnya tetap enggan menyala.
Setengah jam yang terasa seabad kami habiskan untuk menyalakan Honda Vario baru ini. Ayah mengengkol dan memelintir tuas gas berkali-kali, dan saya menonton dengan keputusasaan yang merambat turun. Hampir menangis, saya memutuskan untuk berangkat naik sepeda saja.
Namun, Kakak yang baru bangun tidur tiba-tiba muncul dan langsung mengambil alih Honda Vario karbu itu dari tangan Ayah. Dia duduk di atas jok, menaikkan standar tengah dan samping, menarik tuas rem kiri, lalu telunjuk tangan kanannya menekan tombol Start dengan dramatisasi yang sangat dibuat-buat.
Cukup sekali tekan untuk membuat dinamonya memekik dan mesinnya meraung. Allahuakbar! Bagaimana mungkin pertolongan Tuhan turun melalui kakak saya yang bertelanjang dada, berbau liur kering, dan menyebalkan setengah mati itu?
“Makanya, baca buku manualnya!” ujarnya dengan nada yang biasa dipakai semua orang tua yang mendapati anaknya kena pilek setelah hujan-hujanan.
Saya tertunduk malu, dan segera menarik pelajaran moral nomor dua. Sama seperti keberadaan saudara yang menyebalkan, sesungguhnya tidak ada buku yang tidak berguna. Itulah momen kali pertama saya paham bahwa mesin matik tidak bisa nyala tanpa menarik tuas rem.
Pelajaran finansial dari Honda Vario yang menyalahi kodrat
Keluarga saya adalah seorang petani totok yang berparadigma ultra-konservatif kalau menyangkut uang. Memiliki Honda Vario karbu semestinya menjadi ancaman bagi stabilitas paradigma kami, dan kurang-lebih memang itulah yang terjadi.
Saya sudah mengeluhkan betapa borosnya motor ini pada Ayah di bulan-bulan pertama. Ayah, yang nyaris tak pernah urun mengisi bensin karena itu dibebankan pada uang jajan saya, berkata bahwa saya hanya sedang berprasangka. Honda itu terkenal irit, kata Ayah, sehingga membikin motor yang boros bensin sama mustahilnya dengan menanam lobak di bulan.
Saya tak membantah argumen Ayah meski kenyataannya saya terancam mengalami krisis finansial betulan gara-gara keseringan isi bensin. Hingga pada suatu ketika Ayah memakai Honda Vario karbu ini untuk rutin mengikuti kajian di Tebu Ireng yang berjarak 30 kilometer dari rumah.
“Iya ya, kok borosnya kebangetan ya?” keluh Ayah. Beliau membandingkannya dengan motor kami yang satunya, si Jupiter burung hantu, yang juga sering dipakai beliau dan menurutnya lebih hemat bahan bakar.
Nggak semua motor Honda itu irit
Maka, pada suatu subuh, Ayah membongkar motor itu. Di benaknya, Honda pasti irit. Jika premis itu tak terpenuhi, pasti ada malfungsi di sektor tertentu.
Masalahnya, wawasan Ayah tentang otomotif sama mengharukannya dengan saya kala itu. Beliau berhasil mencopot busi dan memperhatikannya seolah benda itulah sumber utama masalah motor kami.
Digosoknya ujung elektroda busi dengan amplas, lalu dipasangnya kembali sambil membaca bismillah. “Pasti sekarang lebih irit,” ujar Ayah dengan mantap pada saya yang duduk memperhatikan semua aksinya.
Namun, Honda Vario itu tetap seboros sebelumnya. Ayah pasrah dan berkata bahwa ini mungkin ada kaitannya dengan cuaca dingin di desa kami. Hasil kadang mengkhianati usaha adalah pelajaran moral nomor tiga yang saya simpulkan.
Ayah akhirnya enggan memakai Honda Vario karbu itu lagi, dan begitu pula kakak. Hanya saya yang sudi memakainya untuk sekadar bersekolah. Sampai bertahun-tahun kemudian, kami tetap tidak tahu apa yang membuat Vario karbu ini menyalahi kodrat pabrikannya.
Motor yang menyalahi kodrat ini tetap sakti
Meski begitu, tidak ada perkara tersisa yang bisa saya keluhkan. Honda Vario karbu ini tetaplah setangguh yang dicitrakan.
Setelah jatah service gratisnya habis, motor ini jarang saya masukkan ke bengkel resminya dan tetap baik-baik saja. Ia mumpuni ketika saya ajak menerjang genangan banjir sebagaimana tetap bisa diandalkan untuk bepergian jauh.
Kepraktisannya juga lebih baik ketimbang motor bebek mana saja. Bagasinya besar untuk standar skutik di masa itu, dan dek tengah yang rata lantai bisa saya gunakan untuk menaruh barang lain dengan layak.
Pelajaran finansial dari kepepet
Lagipula, kalau saya pikir lagi, Honda Vario karbu mengajarkan saya untuk mengelola keuangan secara efisien. Agar bisa terus mengisi bensin tanpa mengalami defisit keuangan di akhir bulan, saya mesti mengetatkan anggaran di sana-sini dan membuat skala prioritas.
Keteledoran finansial akan berbuah petaka. Saya pernah dua kali kehabisan bensin ketika tak ada lagi uang tersisa saat pulang sekolah, yang memaksa saya untuk menuntunnya sejauh beberapa kilometer menuju rumah.
Sikap konservatif dalam keuangan tersebut mungkin memang saya warisi dari keluarga. Namun, tanpa keberadaan Honda Vario karbu itu, sudah pasti saat ini saya tak bisa menjadi pribadi yang berdisiplin finansial yang akan membuat Sri Mulyani merasa bangga.
Kendaraan harian, sedikit-banyak, mempengaruhi kepribadian pemiliknya. Itulah pelajaran moral selanjutnya.
Metamorfosis Honda Vario untuk menjadi digdaya
Setelah berkenalan dengan deretan motor manual, saya tak pernah tertarik untuk memiliki skutik lagi. Sebutlah saya aneh. Tapi, Suzuki Satria, Honda CRF, dan Yamaha MX-King menawarkan sensasi berkendara yang memang membuat saya rela melupakan urusan kepraktisan dan kemudahan ala skutik.
Maka, Honda Vario karbu tersebut tetap menjadi skutik Honda pertama dan satu-satunya yang pernah saya miliki. Ia juga menjadi satu-satunya motor di mana Ayah secara khusus membelikan untuk saya.
Ia menemani perjalanan hidup saya sejak berseragam putih-kelabu dan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya hingga menjelang masa wisuda sarjana. Ketika kami terpaksa melegonya.
Sebagai produk perdana skutik Honda, Vario karbu tentu punya banyak kekurangan. Misalnya, bensin boros, akselerasi lemot, dan kualitas pengerjaannya tak sebaik skutik pabrikan lain. Pendeknya, ia adalah skutik yang mengerikan, jika kita menggunakan skutik masa kini sebagai standar penilaian.
Pionir yang fenomenal
Ya, ia tetaplah pionir yang fenomenal. Honda Vario karbu mengilhami kemunculan seri BeAT, dan kedua seri skutik Honda tersebut kemudian sukses mendominasi pasar otomotif roda dua selama dua dekade.
Saking digdayanya, Honda Vario dan BeAT mampu memunculkan anggapan bahwa skutik Honda adalah norma. Banyak orang akan menganggap dirimu aneh jika berani membeli skutik dari pabrikan lain.
Orang-orang bahkan masih antre membelinya kendati kedua varian itu punya kualitas rangka yang begitu bapuk sampai-sampai menjadikannya sebagai suku cadang. Saya kira pabrikan otomotif lain yang masih waras belum pernah melakukan pendekatan bisnis seperti ini.
Itu akhirnya menuntun kita pada pelajaran moral pamungkas. Si luar biasa bukanlah mereka yang tanpa cela, melainkan mereka yang menyanggupkan orang-orang untuk mengabaikan kekurangan kita dan menganggapnya keunikan belaka.
Penulis: Mita Idhatul Khumaidah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Pengalaman Saya Merawat Honda Vario 110 CBS 2010: Motor Honda Paling Merepotkan, Selalu Rewel, dan Minta Jajan dan pengalaman seru lainnya di rubrik OTOMOJOK.














