Keiritan Astrea Grand yang menjadi mitos
Mesin motor Honda Astrea Grand sebenarnya tak memiliki keunggulan selain keiritannya. Bahkan bila kita membandingkannya dengan mesin Revo injeksi, Astrea Grand masih kalah irit. Namun, memang sedikit sekali mesin motor yang saking kondangnya di aspek tertentu, sampai-sampai, memunculkan desas-desus.
Saya mendengar rumor anekdotal ini kali pertama di bangku SMA. Sekelompok murid cowok sedang ngerumpi di meja seberang untuk membahas motor mereka masing-masing.
Sebagian dari mereka membanggakan tenaga buas motornya yang bisa sampai mengasapi motor Satpol PP yang datang mengejar. Sebagian lain menceritakan beragam perintilan modifikasi yang pemasangannya lebih rumit ketimbang proses pembangunan Candi Prambanan.
Zul si ketua kelas kemudian mendatangi mereka dan berkata dengan lantang, “Motor Astrea Grand-ku cuma perlu menghirup uap bensin untuk membuatnya berjalan!”
Mereka semua kicep. Saya juga kicep. Di benak saya terbayang sosok Zul yang tengah menyodokkan sebotol bensin ke knalpot motornya dan menyuruhnya menghirup dalam-dalam. Seperti seorang ayah berbudi baik yang menyuruh anaknya menghirup inhaler di lubang hidungnya yang mampet.
Saya percaya belaka dengan omongan Zul tersebut. Kepercayaan saya kian tak tergoyahkan ketika mendapati desas-desus serupa dari orang-orang yang berbeda di tahun-tahun berikutnya.
Ketika saya sudah bekerja di dealer motor Suzuki dan berteman dengan Seto si mekanik, saya menanyakan perihal kebenaran desas-desus tersebut kepadanya. Dengan mimik serius dia berkata, “Itu keliru, Mbak. Yang benar, bensinnya dioleskan ke batok lampu belakang.”
Butuh waktu lama untuk saya akhirnya mengetahui bahwa Zul dan Seto adalah pendusta ulung. Namun, hingga kini, tiap kali saya mengantre di SPBU dan mendapati Astrea Grand menyempil di barisan, saya masih merasa heran mengapa pemiliknya melakukan hal sia-sia semacam itu. Bukankah ia hanya perlu mengoleskan bensin ke Astrea Grand miliknya di beranda rumah?
Impresi berkendara ala aristokrat dari motor Honda
Saya terdorong untuk mengulas motor Honda Astrea Grand gara-gara mendapati motor ini terparkir di teras rumah Jombang di hari pertama mudik. Keempat kakak saya tak punya motor ini, maka tetangga mana yang numpang parkir di rumah saya?
Ternyata Astrea Grand itu kepunyaan sepupu jauh yang bermukim di gang sebelah. Kakak bungsu saya meminjamnya untuk saya kendarai selama di Jombang. Sekalipun sangat menyebalkan di masa lalu, Kakak ternyata perhatian banget sehingga tahu bahwa saya benci naik motor matik.
Astrea Grand ini sama tuanya dengan saya. Warna cat dan stikernya belum bercacat, dan lapisan krom pada knalpot dan shockbreaker belakangnya sempurna bagaikan cermin.
Saya baru sempat menjajalnya di hari kedua untuk berburu takjil. Bagi saya yang berpostur semeter setengah kotor, Astrea Grand adalah motor sempurna. Ia pendek dan ramping, yang membuat saya tak perlu berjinjit.
Mesinnya yang cuma 100cc menggerung halus, begitu juga dengan suara knalpotnya yang tergolong sopan. Saat masuk ke gigi pertama, tarikannya bisa ditakar dengan mudah, tak meloncat nan mengagetkan seperti kebanyakan bebek Yamaha.
Astrea Grand mempertahankan kesopanan khas motor aristokrat sejati. Pada kecepatan 30 km/jam di gigi ke-3, mesinnya tak gelagapan seperti gejala kurang torsi.
Ya memang benar bahwa motor ini underpowered. Tenaganya lemot, akselerasinya payah, dan mesinnya meronta ketika saya memaksanya melaju lebih dari 60 km/jam. Namun, ingatlah baik-baik, Astrea Grand lahir bukan untuk kamu ajak pecicilan.
Rem tromolnya juga cukup pakem dan gradual. Akan tetapi, tromol tetaplah tromol: ia tak bisa diandalkan ketika terjadi insiden yang memaksa kita untuk mengerem mendadak di kecepatan tinggi. Untunglah Astrea Grand memang tak bisa ngebut.
Maka, sore itu, saya melaju pelan sembari menyapa para tetangga dan handai taulan. Kombinasi antara gamis yang saya kenakan dan Astrea Grand yang mriyayeni membuat saya sungguh merasa seperti Bu Lurah yang sedang blusukan.
Upaya mengalami masa lalu
Dulu saya heran dengan orang-orang yang rela menguras tabungannya untuk mengoleksi motor tua. Sepupu saya itu, contohnya, sudah punya Yamaha RX-King dan CB 100 sebagai koleksi sebelum membeli Astrea Grand. Biaya restorasi ketiga motor itu sudah cukup untuk menebus mobil seken tahun muda yang layak.
Pola pikir saya yang cupat itu memunculkan sanggahan-sanggahan yang kini tampak seperti sesat pikir. Daripada membeli motor Honda butut semahal itu, kenapa uangnya nggak buat beli motor baru atau membantu sesama manusia yang kurang beruntung hidupnya?
Kini saya bisa menertawakan keluguan di masa lalu tersebut. Siapa saya yang sok mengatur-atur penggunaan uang para kolektor yang tak saya kenal?
Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan hobinya, dan uang mereka kebetulan mendukung hobi tersebut. Mereka, besar kemungkinan, lebih dermawan ketimbang saya, dan lagi pula, mereka bukan dinas sosial yang berkewajiban meringankan beban hidup masyarakat.
Mengoleksi motor lawas juga merupakan hobi yang menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri ketika mendapati motor lawas tersebut bisa berjalan seolah baru dirakit oleh pabrik. Ada kenangan dan kegembiraan yang tersusun ulang ketika komponen demi komponen terpasang dan membuatnya kembali anyar.
Seperti sepupu saya dengan Astrea Grand. Para kolektor tidak sedang membeli motor Honda. Sesungguhnya mereka sedang merekonstruksi masa lalu yang dengannya mereka bukan hanya menyaksikan, melainkan juga mengalami suatu era yang tak akan pernah kembali itu.
Penulis: Mita Idhatul Khumaidah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Awalnya Ikut-ikutan, tapi Lama-kelamaan Saya Jatuh Cinta dengan Honda Astrea Grand dan kisah menyenangkan lainnya di rubrik OTOMOJOK.













