• 602
    Shares

MOJOK.COKehidupan perkuliahan menyenangkan. Sebaliknya, kehidupan setelah lulus kuliah sangat menyebalkan. Nggak tahu mau ngapain, kesepian, dan suka insecure kalau mikirin masa depan.

Harus saya akui masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Saat itu, saya punya cukup kebebasan untuk mengatur diri saya sendiri, punya banyak teman, dan satu-satunya kekhawatiran saya adalah gimana caranya lulus mata kuliah wajib yang dosennya ngaudzubillah menyebalkan.

Ya kadang ngerasa sebel juga sama tugas yang banyak, dan pilihan makan siang yang nggak jauh dari lalapan dan ayam geprek sih.

Waktu itu saya sangat naif. Pengin lulus cepat 3,5 tahun, pengin cepat-cepat kerja—seakan-akan saya akan langsung diterima—tapi, setelah saya benar-benar lulus kuliah, saya baru sadar kalau selama ini sebenarnya saya nggak pernah benar-benar memikirkan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan.

DUARRRRRRR!!1!

Menjalani lebih dari 20 tahun hidup dengan bergantung kepada orang tua, saya kaget karena tiba-tiba saja setelah lulus kuliah dan punya gelar sarjana, saya dilepas begitu saja ke dunia yang begitu asing dengan diri saya.

Ya nggak asing gimana, Bor. Selama 20 tahun terakhir, kerjaan saya cuman disuruh belajar, nggak pernah disuruh mikirin kehidupan.

Dan—biasanya—orang tua yang cuman nyuruh belajar ini sepaket dengan orang tua yang dulunya ngelarang-larang pacaran biar fokus sekolah, terus tiba-tiba pas udah besar nanyain mana pacarnya. Rasanya suka pengin nanya balik “mon maap nich, buk. emangnya aq kapan disuruh pacarannya kalo leh tau??”

Hidup setelah lulus kuliah itu menyebalkan!

Dari yang selama ini cuman disuruh mikirin gimana cara dapet nilai bagus—tiba-tiba sekarang disuruh mikirin “Apa yang sebenarnya aku inginkan” atau “Hal terpenting apa yang harus dicari dalam hidup”, ya jelas otaknya nggak nyampe toh.

Pas udah ketemu dunia nyata beneran, baru deh sadar kalau…

Apa yang pernah kita rencanakan selama kuliah ternyata nggak realistis.

Pekerjaan impian kita ternyata nggak bisa dicapai semudah apa yang kita bayangkan.

Tapi di sisi lain kita punya idealisme nggak pengin kerja kantoran karena keliatan membosankan dan melelahkan, pengin wirausaha tapi kok nggak punya modal, dan pilihan terakhir, mau milih lanjut S2 tapi kok mahal dan males buat mikir-mikir lagi…

…dan kalau memutuskan nggak ngapa-ngapain, rasanya kok minder sama yang lain… Dan hidup juga terus berjalan, dan kita tetep butuh duit buat menjalani kehidupan. Hahahaha.

Akhirnya, banyak dari kita yang memutuskan untuk mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan.

Tapi… kok rasanya nggak happy ya… lalu kita mulai meragukan diri kita sendiri, lalu muncul pertanyaan “aku ngapain anjjjjj, rasanya kok sia-sia selama ini susah-susah kuliah tapi malah ngerjain hal yang kayak gini”

Baca juga:  Bukan Semakin Tua Semakin Sedikit Teman, Tapi Prioritasnya yang Berubah

Akhirnya ya nggak heran kalau banyak yang depresi, banyak yang panik, banyak yang ketakutan karena di lubuk hati yang terdalam, kita tahu kita berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu.

Hidup setelah lulus kuliah itu super duper menyebalkan!

Udah bingung mau ngapain, kita juga makin kesepian karena teman-teman terdekat kita semasa kuliah satu per satu pergi meninggalkan kita karena sudah punya kesibukannya sendiri-sendiri.

Lalu super duper mega menyebalkan ketika kita di tengah krisis kebingungan tentang apa yang pengin kita lakukan, kesepian karena kehilangan teman, orang-orang di sekitar kita (orang tua, saudara, tetangga) tiba-tiba saja jadi begitu berisik.

Mereka sibuk menasehati seolah-olah tahu apa yang seharusnya kita lakukan—yang menurut saya tentu saja ini sangat aneh karena kita tahu betul nasehat mereka sudah ketinggalan jaman dan hanya akan relevan jika dilakukan 45 tahun yang lalu.

Sekalinya nyuruh kita ngelakuin sesuatu yang kekinian, nyuruhnya jadi Youtuber biar kayak kata Atta Halilintar. Seakan-akan jadi Youtuber itu semudah membalikan telapak tangan.

MON MAAP NIH, KALO SOBAT MISQUEEN KAYAK KAMI MAU BIKIN KONTEN KAYAK ATTA GIMANA YHA?

Lagian ya kalau misalkan memang gampang, rasa-rasanya kok sedih banget kalo kita hidup dengan berpedoman pada nasehat orang lain—yang jelas nggak tahu apa-apa itu—ketika seharusnya kita memutuskan sendiri apa yang ingin kita lakukan.

Dan jangan lupakan kalau keputusan yang kita buat setelah lulus kuliah ini menjadi keputusan paling penting  karena akan menentukan aspek lain dalam kehidupan kita—yang kalau kita putuskan berdasarkan pilihan orang lain, akan membuat kita hidup dalam bayang-bayang mereka (((selamanya))).

Pekerjaan pertama yang kita pilih akan menentukan gaji kita berapa, waktu luang kita berapa lama, hidup di kostan yang kayak gimana, tempat tongkrongan dan menu makan siang kayak apa, dan kadang-kadang bahkan akan menentukan siapa orang yang kelak akan kita nikahi nantinya.

Itu masih ngomongin dampak buat diri sendiri lho, belum buat orang lain. Yha kalian pengin hidupnya berguna buat orang lain juga, kan?

See? Life after college is super duper mega sucks!

Dan satu-satunya nasihat yang kita tahu dalam memutuskan kehidupan setelah lulus kuliah hanya “FOLLOW YOUR PASSION” dan “IKUTIN KEAHLIAN YANG KALIAN MILIKI” yang masalahnya… banyak dari kita yang nggak ngerasa punya passion atau punya keahlian spesifik dalam bidang tertentu.

Baca juga:  Aku Susah Punya Pacar karena Tubuhku Gemuk

Saya harus bilang bahwa hanya orang yang beruntung yang sudah tahu passion dan keahlian mereka setelah lulus kuliah.

Tapi hidup setelah lulus juga sama menyebalkannya bagi mereka yang beruntung itu. Karena bisa jadi mereka sebenarnya nggak beruntung-beruntung amat karena masih bimbang dan mempertanyakan apakah yang ingin dia lakukan itu benar-benar apa yang dia inginkan. Gimana kalau—passion dan keahliannya—itu sebenarnya sesuatu yang diinginkan orang lain? Sesuatu yang didoktrinkan dan ditanamkan terus menerus pada dirinya ketika sebenarnya dia nggak pengin itu.

Atau

Yang lebih parah

Dia tau apa yang terbaik buat dia, passion dia, tapi nggak bisa ngelakuin itu karena orang tuanya lebih pengin dia jadi PNS ha ha ha. Ada yang kayak gitu? Banyak!

Kamu juga harus mempertanyakan ke dirimu juga, lho. Jangan-jangan kamu nganggap kamu pilih jalan yang benar karena kamu cuman ngikutin orang lain dan percaya-percaya aja sama mereka.

Kalau misal udah mempertanyakan dan malah jadi bingung sama diri sendiri gimana? Lha ya bagus, tho! Selamat datang di fase krisis identitas! Selamat memasuki quarter lyfe crisis! Kalau sudah masuk quarter life crisis, artinya kamu sudah jadi orang dewasa betulan! Dan kamu harus bangga dengan hal itu.

Jadi kalau udah tahu kehidupan setelah lulus kuliah super duper mega menyebalkan, apa dong yang harus kita lakukan untuk menghindari itu?

Yhaa saya juga nggak tahu, saya nulis ini sekalian curhat kok AHAHAHAHA. Karena saya juga merasakan hal yang sama.

Tapi yang sedikit melegakan adalah, dengan nulis ini, saya jadi tahu kalau saya nggak sendirian. Kamu juga nggak sendirian~ dan ini bukan sesuatu yang memalukan atau menyedihkan karena orang-orang yang terlihat “wah” oleh diri kita sendiri juga barangkali belum menemukan apa yang mereka inginkan dan sama menyedihkannya dengan kita wqwq.

Satu-satunya yang bisa kita lakukan sebagai geng sudah lulus kuliah club adalah saling menguatkan. Oh iya, buat yang udah kerja jangan suka memprovokasi dan pamer-pamer mulu yang bikin orang makin insecure. Karena kami juga tahu kamu juga sebenarnya ngerasa insecure.

Yang harus diingat adalah, ketika masuk fase ini jangan brutal dan suka menyalahkan diri sendiri. Ini fase normal yang dilewati semua orang. Jangan terburu-buru dan merasa terbebani dengan tuntutan untuk sukses di usia muda. Sukses itu butuh perjuangan, jatuh bangun, harus gagal biar belajar, dan harus banyak cari pengalaman. Hadehh saya kok bijak amat kaya orang bener aja wqwq. Dah ah.