MOJOK.CO – Marilah sadar sanak saudaraku. Sadar. Jebul Pilpres 2019 dan copras-capresnya ini cuma pengalihan isu kalau Master Limbad udah jadi Juri Liga Dangdut.

Perkara copras-capres di Pilpres 2019 ini emang menyisakan banyak hal.

Mulai dari Mas Nicholas Saputra yang turun gunung dengan selfie di instagram sambil pamer tinta pemilu, pekik takbir dari Bunda Neno yang sayup-sayup terdengar merdu, hingga pertanyaan bodoh semacam; Apakah setelah melakukan sujud syukur namun ternyata kalah, dia akan melakukan sujud syahwi? Hmm.

Artinya, tidak butuh waktu lama untuk cebong dan kampret memperuncing konflik, buktinya beberapa jam setelah pencoblosan usai perang kembali dimulai, My love.

Sebabnya sih sebenarnya sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya. Kubu yang satu terlampau percaya dengan hasil hitung cepat yang dirilis beberapa lembaga survey, karena dirasa memang kredibel dengan margin of error tidak lebih dari 1%, sedangkan kubu yang lain menduga telah terjadi kecurangan dan lebih percaya pada hasil hitung-hitungan yang dilakukan internal mereka.

Tapi keduanya memiliki kesamaan, mereka mendaku diri paling logis dan menganjurkan satu sama lain untuk menggunakan “AKAL SEHAT”. Padahal nih ya, maaf ini, Bong and Pret, kalau disuruh mikir sih, saya lebih baik bobok siang aja.

Keduanya berdebat pagi, siang, sore dan malam. Senggol menyenggol 24 jam di internet tanpa jeda barang sebentar untuk merebahkan kepala di pangkuan kekasih.

Padahal, dengan energi sebanyak itu bisa kita alihkan pada sektor yang lebih bermanfaat bagi nusa dan bangsa, misalnya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Kecebong dan Kampret, atau bisa disingkat PLIR KEPENCET.

Tolong ini dicatat buat siapapun yang kelak memimpin Indonesia, ketimbang menggali batu bara dan mengeksploitasi bumi ya kan?

Akibatnya, hidup kita yang singkat dan terlampau fana ini seolah-olah berkutat pada persoalan yang itu-itu saja lalu abai terhadap hal, yang secara mutu jauh lebih penting ketimbang itu.

Baca juga:  Polemik Soal Pernyataan Fadli Zon yang Menyebut Indonesia Butuh Pemimpin Seperti Putin

Puncaknya, kita sama-sama bungkam atas dipilihnya Master limbad sebagai juri tamu di ajang liga dangdut, yang ternyata bukan cuma sekali, tapi dua kali!!1!!1! Marilah sadar sanak saudaraku. Sadar. Jebul Pilpres hanyalah pengalihan isu. Astagfirullah.

Saya tahu, master Limbad adalah pesulap pilih tanding dan aset berharga Indonesia. Selain seram dan memiliki ketahanan tubuh yang Naudzubillah kuat, beliau juga nyambi sebagai seorang penceramah.

Soal bagaimana cara dia menjelaskan perkara agama dan ibadah di ruang publik, saya tidak peduli-peduli amat, sih. Maksud saya, seseorang bisa menjelaskan bagaimana bersikap baik tanpa harus mengeluarkan suara, kan?

Ketimbang teriak takbir dan bentak sana-sini, hasilnya juga umat yang jago bentak, dan kagetan. Ya lebih sejuk master Limbad, dong.

Entah dapat wejangan dari siapa, Master Limbad ini seolah-olah hendak melancarkan dwi-fungsi pesulap. Sudah jadi pesulap, bintang iklan sosis, penceramah, lah sekarang sekonyong-konyong jadi juri dangdut je. Eh, itu mah namanya multifungsi ding.

Untuk yang terakhir ini sulit betul mencari pembenaran, Liga Dangdut sebagai ajang pencarian bibit unggul yang kelak akan meramaikan khazanah perdangdutan tanah air kok ya jurinya seseorang yang bahkan bersin aja ditahan-tahan? Bisa suram ini, Gaes. Dan kalian malah sibuk mikirin copras-capres? Ya ampyun, di mana kemanusiaan kaliyan ini!

Iya, Limbad cuma juri tamu, paham kok. Tapi, sejauh pelacakan saya di mesin pencari konsep penjurian yang diterapkan oleh ajang pencarian bakat dengan durasi terlama di dunia ini sebagai berikut:

Dewan Juri Dangdut berjumlah tujuh orang yang merupakan penyanyi dangdut ternama, juga seorang juri tamu yang bisa berasal dari musisi dengan latar belakang aliran non-dangdut yaitu seperti pop, rock, rnb, jazz, keroncong, rap, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Tiga Partai yang Ketua Umumnya Fokus Nyaleg, Bukan Nyapres atau Nyawapres

Konsistensi atas kredo ini bisa kita lihat, misalnya, Richie “Five Minutes” yang pernah menjadi juri sebanyak sembilan kali dan Mbak Melly Goeslaw tujuh kali.

Sebelum Limbad, Abdel pernah juga undang sebanyak 7 kali, dia memang lebih dikenal sebagai seorang komedian, tapi pada beberapa kesempatan beliau sering tampil bermain gitar dan rasanya sedikit banyak paham soal musik.

Master Limbad ini yang bikin resah, beliau punya rekam jejak di industri musik Indonesia memang, bersama Dj Stroo ia berkolaborasi dan menghasilkan satu single bertajuk Hypnotize yang dirilis pertanggal 28 september 2019 melalui platform digital.

Lagu dengan durasi 4:14 itu cuma berisi “HMMMMM… HMMMMM….HMMM…” dari Mister Limbad, juga iringan musik “Ajep Ajep Ajep” dari Dj Stroo. Haya mending dengarin intro lagu Mbak Nisa sabyan diulang-ulang empat jam ya to?

Saat diminta untuk mengucapkan ikrar oleh pembawa acara, agar Limbad tidak mengedepankan ego kedaerahan dengan memberi penilaian yang berat sebelah pada provinsi tempatnya berasal, tiba-tiba suasana satu studio mencekam.

Alih-alih mengulang ucapan itu, pesulap yang punya istri uwuwuwuw ini malah meminta korek dan menyulut tisu, lalu dari gulungan yang terbakar itu tertera tulisan “SAYA LIMBAD. DAN SAYA BERSEDIA.”

Soal bagaimana proses pesulap gondrong ini memberikan komentar dan penilaian, rasanya kalian pasti sanggup membayangkan. Pokoknya beda lah sama juri konvensional.

Jika kalian masih sibuk adu tagar dan twitwar, saya cuma khawatir, kapan-kapan tanpa kita sadari, Master Limbad juga alih profesi menjadi juri stand up comedy, Ninja Warriors, atau mungkin jadi moderator debat capres.

Meski begitu, saya jauh lebih khawatir kalau Master Limbad besok tiba-tiba jadi caleg atau capres sekalian. Lalu waktu debat capres dimulai, semua media online bingung fact check-nya mau dibikin kayak gimana.



Loading...



No more articles