Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

MOP Tipu Bapak Dosen Pakai Jilbab Biar Lulus Ujian

La Ode Abdul Wahid oleh La Ode Abdul Wahid
18 Desember 2018
A A
Jilbab Lulus MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dini dan La Bula mencoba mengakali bapak dosen supaya lulus ujian dengan menambahkan “pakai jilbab” di lembar jawaban, padahal keduanya “batangan”.

Beberapa waktu silam, sa terhentak setelah mendengar respons teman terkait tercatutnya nama La Ege dalam MOP yang selama ini sa tulis.

“Da tida mara kah itu La Ege, ko kasih masu terus namanya di tulisanmu?” Demikian respons dari teman saya.

Karena pertanyaan teman saya, saya jadi khawatir jangan sampe yang bernama La Ege da betul datang memprotes ke saya. Makanya untuk kali ini, sa coba memarkir peran sentral La Ege di dua cerita awal yang sa akan suguhkan.

Mau lulus ujian, pake jilbab ko

Dini dan La Bula punya dosen Agama Islam yang cara penilainnya sangat ngawur di kampus. Hari-hari da tidak paksakan mahasiswinya untuk pakai jilbab. Tapi waktu ujian, da berucap ke depan mahasiswanya, “Kalau yang pakai jilbab, tolong tulis “pakai jilbab” di samping nama pada kertas jawaban.”

Sepengetahuan Dini dan La Bula memang kalo yang pakai jilbab itu sudah dijamin lulus oleh bapak dosen. Tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Dini dan La Bula, diorang ikut tulis “pakai jilbab” di samping nama diorang saat menjawab. Padahal diorang dua ini sama-sama berjenis kelamin batangan, tak mungkin pakai jilbab.

Pada hari itu, yang ikut ujian mata kuliah ada ratusan mahasiswa, dan tidak semua perempuan di ruangan pakai jilbab. Anehnya, bapak dosen tidak mendata terlebih dulu siapa-siapa mahasiswinya yang pakai jilbab. Bapak dosen memang terkenal malas, dan kerjanya suka menjual buku ke mahasiswa.

Tiba pengumuman nilai keluar, dua orang teman baku bawa ini menunjukkan ekspresi yang berbeda. La Bula begitu senangnya minta ampun, sudah pasti karena da lulus. Tapi Dini punya ekspresi terlihat murung. Berbeda dengan La Bula, Dini ternyata da tidak lulus ujian. Padahal diorang dua ini sama-sama tulis “pakai jilbab” di lembar kertas jawaban diorang waktu ujian.

Setelah ditelusuri, penyebabnya karena Dini telah dianggap berbohong sama bapak dosen. Bapak dosen tau, kalau Dini itu da tida pakai jilbab dan dia adalah seorang batangan. Sementara La Bula yang duduk di samping Dini luput dari jangkauan pengetahuan bapak dosen. La Bula tetap lulus berkat jasa keterangan “pakai jilbab” di samping namanya, di lembar jawaban.

Untuk mengusir kemurungan teman baku bawanya, La Bula da coba hibur Dini. “Sudahlah Pis, jangan murung begitu. Besok sa antar kamu beli jilbab ya,” kata La Bula sambil tertawa geli.

Dipaksa makan mi

La Bula, sepupu La Ege, adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu kampus ternama di Pulau Jawa. Musim libur, da manfaatkan untuk pulang kampung ke Pulau Muna. Saat da pulang, da bawa salah satu teman baku bawanya di kampus untuk berkunjung ke kampung. Namanya Dini, tapi sa nyaman sebut La Dini, seorang pemuda dari Sumatera.

Setibanya di kampung, La Dini berkenalan dengan La Ege. Lalu, La Dini diajak bajalan keliling Pulau Muna sama La Ege pake sepeda motor. Di tengah perjalanan, mentari siang tepat berada di atas kepala, La Ege merasa mulai lapar, da yakin La Dini juga pasti merasa lapar.

Diorang akhirnya singgah istirahat di rumah di salah satu kampung, yang kebetulan merupakan rumah keluarga La Ege, sebut saja Bibi Wa Gure. La Ege memperkenalkan La Dini ke bibi Wa Gure dan maksud kedatangan diorang untuk usir diorang punya lapar.

La Ege dan La Dini diorang istirahat sejenak. Bibi Wa Gure pun lekas ke dapur menyiapkan makan untuk diorang berdua. Selepas semua makanan sudah siap, Bibi Wa Gure datang panggil makan diorang. “Mari makan mi.” Ajak Bibi Wa Gure ke diorang.

Iklan

Penuh semangat, La Ege menyambar ajakan itu. Tapi La Dini seakan kurang tertarik dengan ajakan Bibi Wa Gure. Akhirnya La Ege da tes ajak La Dini juga agar dia lekas berdiri ke tempat makan. “Dini, mari kita makan mi.”

Tetap La Dini menunjukkan gesture kurang tertarik. La dini pun menjawab, “Terimah kasih ajakannya, tapi saya masih sangat kenyang.”

Ternyata La Dini da kelabui diorang Bibi Wa Gure dan La Ege. Sebenarnya dia sangat lapar juga, tapi karena alergi mi dan tida ingin merepotkan Bibi Wa Gure, dia pun menjawab ajakan diorang “makan mi” dengan bilang da masih kenyang meskipun da merasa lapar juga.

Sepulang dari bajalan, La Dini langsung mengeluh lapar sama La Bula. Dia pun akhirnya menjemput kenyang di dapur rumah La Bula.

Saat La Dini makan, La Ege datang cerita ke La Bula, kalo waktu bajalan tadi, diorang berdua sempat singgah makan di rumah Bibi Wa Gure. Tapi La Dini tida mo makan, karena masih kenyang katanya. Padahal Bibi Wa Gure sudah da siapkan ayam dan ikan bakar.

La Dini ternyata salah kira, da pikir ajakan “mari makan mi” itu, dia diajak untuk makan mie, tapi ternyata sesungguhnya Bibi Wa Gure menyiapkan ikan dan ayam.

Catatan:

Dalam bahasa keseharian masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) pada umumnya, memang dalam kalimat perintah atau ajakan selalu menggunakan imbuhan akhiran “-mi”. Misal, ajakan makan, “mari makan” orang Sultra menyebutnya “mari makan mi”. Bagi yang ingin jalan-jalan ke Sultra (Kendari, Muna, Buton, Konawe, Kolaka, Wakatobi). Jadi berhati-hatilah jangan sampe menerima nasib sama kaya La Dini.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2018 oleh

Tags: DosenJilbabmie
La Ode Abdul Wahid

La Ode Abdul Wahid

Artikel Terkait

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.