• 177
    Shares

MOJOK.CODini dan La Bula mencoba mengakali bapak dosen supaya lulus ujian dengan menambahkan “pakai jilbab” di lembar jawaban, padahal keduanya “batangan”.

Beberapa waktu silam, sa terhentak setelah mendengar respons teman terkait tercatutnya nama La Ege dalam MOP yang selama ini sa tulis.

“Da tida mara kah itu La Ege, ko kasih masu terus namanya di tulisanmu?” Demikian respons dari teman saya.

Karena pertanyaan teman saya, saya jadi khawatir jangan sampe yang bernama La Ege da betul datang memprotes ke saya. Makanya untuk kali ini, sa coba memarkir peran sentral La Ege di dua cerita awal yang sa akan suguhkan.

Mau lulus ujian, pake jilbab ko

Dini dan La Bula punya dosen Agama Islam yang cara penilainnya sangat ngawur di kampus. Hari-hari da tidak paksakan mahasiswinya untuk pakai jilbab. Tapi waktu ujian, da berucap ke depan mahasiswanya, “Kalau yang pakai jilbab, tolong tulis “pakai jilbab” di samping nama pada kertas jawaban.”

Sepengetahuan Dini dan La Bula memang kalo yang pakai jilbab itu sudah dijamin lulus oleh bapak dosen. Tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Dini dan La Bula, diorang ikut tulis “pakai jilbab” di samping nama diorang saat menjawab. Padahal diorang dua ini sama-sama berjenis kelamin batangan, tak mungkin pakai jilbab.

Pada hari itu, yang ikut ujian mata kuliah ada ratusan mahasiswa, dan tidak semua perempuan di ruangan pakai jilbab. Anehnya, bapak dosen tidak mendata terlebih dulu siapa-siapa mahasiswinya yang pakai jilbab. Bapak dosen memang terkenal malas, dan kerjanya suka menjual buku ke mahasiswa.

Tiba pengumuman nilai keluar, dua orang teman baku bawa ini menunjukkan ekspresi yang berbeda. La Bula begitu senangnya minta ampun, sudah pasti karena da lulus. Tapi Dini punya ekspresi terlihat murung. Berbeda dengan La Bula, Dini ternyata da tidak lulus ujian. Padahal diorang dua ini sama-sama tulis “pakai jilbab” di lembar kertas jawaban diorang waktu ujian.

Baca juga:  Palu, Sigi, dan Donggala Bangkit Bersama Canda Tawa

Setelah ditelusuri, penyebabnya karena Dini telah dianggap berbohong sama bapak dosen. Bapak dosen tau, kalau Dini itu da tida pakai jilbab dan dia adalah seorang batangan. Sementara La Bula yang duduk di samping Dini luput dari jangkauan pengetahuan bapak dosen. La Bula tetap lulus berkat jasa keterangan “pakai jilbab” di samping namanya, di lembar jawaban.

Untuk mengusir kemurungan teman baku bawanya, La Bula da coba hibur Dini. “Sudahlah Pis, jangan murung begitu. Besok sa antar kamu beli jilbab ya,” kata La Bula sambil tertawa geli.

Dipaksa makan mi

La Bula, sepupu La Ege, adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu kampus ternama di Pulau Jawa. Musim libur, da manfaatkan untuk pulang kampung ke Pulau Muna. Saat da pulang, da bawa salah satu teman baku bawanya di kampus untuk berkunjung ke kampung. Namanya Dini, tapi sa nyaman sebut La Dini, seorang pemuda dari Sumatera.

Setibanya di kampung, La Dini berkenalan dengan La Ege. Lalu, La Dini diajak bajalan keliling Pulau Muna sama La Ege pake sepeda motor. Di tengah perjalanan, mentari siang tepat berada di atas kepala, La Ege merasa mulai lapar, da yakin La Dini juga pasti merasa lapar.

Diorang akhirnya singgah istirahat di rumah di salah satu kampung, yang kebetulan merupakan rumah keluarga La Ege, sebut saja Bibi Wa Gure. La Ege memperkenalkan La Dini ke bibi Wa Gure dan maksud kedatangan diorang untuk usir diorang punya lapar.

La Ege dan La Dini diorang istirahat sejenak. Bibi Wa Gure pun lekas ke dapur menyiapkan makan untuk diorang berdua. Selepas semua makanan sudah siap, Bibi Wa Gure datang panggil makan diorang. “Mari makan mi.” Ajak Bibi Wa Gure ke diorang.

Baca juga:  Mop, Mati Ketawa ala Papua

Penuh semangat, La Ege menyambar ajakan itu. Tapi La Dini seakan kurang tertarik dengan ajakan Bibi Wa Gure. Akhirnya La Ege da tes ajak La Dini juga agar dia lekas berdiri ke tempat makan. “Dini, mari kita makan mi.”

Tetap La Dini menunjukkan gesture kurang tertarik. La dini pun menjawab, “Terimah kasih ajakannya, tapi saya masih sangat kenyang.”

Ternyata La Dini da kelabui diorang Bibi Wa Gure dan La Ege. Sebenarnya dia sangat lapar juga, tapi karena alergi mi dan tida ingin merepotkan Bibi Wa Gure, dia pun menjawab ajakan diorang “makan mi” dengan bilang da masih kenyang meskipun da merasa lapar juga.

Sepulang dari bajalan, La Dini langsung mengeluh lapar sama La Bula. Dia pun akhirnya menjemput kenyang di dapur rumah La Bula.

Saat La Dini makan, La Ege datang cerita ke La Bula, kalo waktu bajalan tadi, diorang berdua sempat singgah makan di rumah Bibi Wa Gure. Tapi La Dini tida mo makan, karena masih kenyang katanya. Padahal Bibi Wa Gure sudah da siapkan ayam dan ikan bakar.

La Dini ternyata salah kira, da pikir ajakan “mari makan mi” itu, dia diajak untuk makan mie, tapi ternyata sesungguhnya Bibi Wa Gure menyiapkan ikan dan ayam.

Catatan:

Dalam bahasa keseharian masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) pada umumnya, memang dalam kalimat perintah atau ajakan selalu menggunakan imbuhan akhiran “-mi”. Misal, ajakan makan, “mari makan” orang Sultra menyebutnya “mari makan mi”. Bagi yang ingin jalan-jalan ke Sultra (Kendari, Muna, Buton, Konawe, Kolaka, Wakatobi). Jadi berhati-hatilah jangan sampe menerima nasib sama kaya La Dini.

  • 177
    Shares


Loading...



No more articles