Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Kejahatan Digital Makin Mengancam Data Pribadi Warga, tapi Perlindungan dari Negara Tak Ada

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 Oktober 2025
A A
UU PDP untuk menghadapi Kejahatan digital. MOJOK.CO

ilustrasi - penipuan online. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah satu tahun berlalu sejak berakhirnya masa transisi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), tapi implementasinya masih jauh dari harapan publik. UU PDP yang resmi diundangkan sejak 2 tahun lalu itu, nyatanya belum bisa melindungi privasi warga negara terhadap kejahatan digital. 

***

Ancaman penyalahgunaan data pribadi semakin nyata dan mengintai dunia digital. Baru-baru ini bahkan media sosial dibikin heboh oleh kasus scamming atau penipuan kepada ayah artis Raline Shah sebesar Rp254 juta. 

Ayah Raline Shah alias Rahmat Shah ditipu oleh empat orang narapidana yang melakukan manipulasi data. Menurut keterangan polisi, salah satu diantaranya berpura-pura menjadi Raline Shah dan menghubungi Rahmat Shah melalui WhatsApp untuk meminta uang.

Rahmat Shah saat itu tak menaruh curiga karena WhatsApp yang diterimanya menggunakan foto anaknya Raline Shah. Ia pun menuruti permintaan pelaku dengan mentransfer uang berturut-turut.

Kejahatan digital di depan mata

Penipuan kepada ayah Raline Shah adalah satu kasus dari banyaknya kejahatan digital yang semakin modern. Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha mencatat ada berbagai tindak kejahatan digital yang terjadi selama satu tahun terakhir.

Yakni pencurian identitas digital, pembobolan rekening bank melalui phishing dan social engineering, serta penyalahgunaan data pribadi untuk registrasi akun judi online yang semakin meningkat. 

“Banyak korban tidak menyadari bahwa data mereka telah bocor dari sumber-sumber resmi seperti platform e-commerce, layanan publik, bahkan lembaga keuangan,” ujar Pratama.

Situasi itu, kata Pratama, tak hanya menyebabkan kerugian secara finansial, kehilangan data pribadi atau perusahaan, kerusakan reputasi, gangguan operasional, dan dampak psikologis pada korban, tapi juga timbul krisis kepercayaan terhadap sistem digital nasional.

Akibatnya juga dapat mengancam fondasi ekonomi digital Indonesia yang tengah tumbuh pesat. Oleh karena itu, dalam konteks dunia digital yang semakin kompleks dan sarat dengan ancaman terhadap privasi individu, UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi penting.

Implementasi UU PDP tak bisa ditunda 

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha menjelaskan UU PDP berguna untuk menegakkan kedaulatan data dan melindungi hak warga negara atas informasi pribadinya. 

Namun, tanpa pelaksanaan yang konkret dan institusi pelaksana yang kuat, regulasi ini akan kehilangan maknanya. Oleh karena itu, implementasi UU PDP, kata Pratama, tidak bisa ditunda dan sudah berstatus genting.

“Dalam satu tahun terakhir, masyarakat Indonesia terus menjadi sasaran berbagai bentuk kejahatan digital,” kata Pratama melalui keterangan tertulis yang diterima Mojok, Senin (20/10/2025).

“Mulai dari kebocoran data pribadi di sektor publik maupun swasta, penipuan online yang merajalela, maraknya judi online, hingga berbagai modus scam yang memanfaatkan rekayasa sosial dan kecerdasan buatan,” lanjutnya. 

Iklan

Ia mengungkap serangan digital tadi menunjukkan bahwa data pribadi warga telah menjadi komoditas yang diperdagangkan secara ilegal di ruang siber. Sementara, lembaga otoritatif yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasan dan penegasakan hukum justru tidak tegas menindak.

“Hingga kini Badan Perlindungan Data Pribadi bahkan belum dibentuk oleh Presiden. UU ini juga belum terealisasi secara efektif karena Peraturan Pemerintah (PP) sebagai dasar teknis implementasi juga belum terbit,” ujar Pratama.

Segera bentuk Badan PDP untuk menghadapi kejahatan digital

Pratama menjelaskan mekanisme penegakan hukum, tata kelola data, serta kepatuhan tidak memiliki kejelasan operasional tanpa adanya Badan PDP dan PP PDP. Akibatnya, regulasi yang seharusnya memberikan rasa aman justru menjadi simbol tanpa daya eksekusi di tengah kejahatan digital.

Ia berharap lembaga PDP dibentuk dengan fondasi yang kuat, independen, dan bebas dari intervensi politik. Lebih dari itu, ia ingin kepemimpinan lembaga tersebut tidak boleh sekadar penunjukkan politik tapi berdasarkan kompetensi teknis.

“Yakni pengalaman mendalam dalam bidang keamanan siber, tata kelola data, serta privasi digital,” ujar Pratama. 

Setidaknya, kata Pratama, Badan PDP membutuhkan sosok pemimpin yang memahami sisi hukum, paham dinamika teknis serangan siber, struktur data lintas sektor, serta strategi mitigasi risiko yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global. 

“Tanpa kepemimpinan yang kompeten, lembaga ini berisiko menjadi sekadar simbol administratif yang tidak mampu menegakkan mandat perlindungan data secara efektif,” ucapnya.

Di negara-negara maju, data pribadi menjadi aset strategis yang tak ternilai saat kejahatan digital mengancam. Di mana mereka membangun sistem perlindungan data yang ketat. Di Eropa misalnya, mereka sudah memiliki Undang-Undang perlindungan dan privasi data pribadi warga yakni GDPR atau PDPA di Singapura. 

“Indonesia tidak bisa terus tertinggal dalam hal ini. UU PDP sudah menjadi pijakan hukum yang kuat, namun tanpa langkah implementatif dan lembaga pelaksana yang berdaya, regulasi tersebut akan kehilangan maknanya di tengah ancaman digital yang terus berkembang,” ujar Pratama. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: ​​Cerita Pahit Korban Penipuan Tiket Coldplay, Ada yang KTP-nya untuk Menipu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2025 oleh

Tags: hak perlindungan data pribadikejahatan digitalscammingUU PDP
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

AI. MOJOK.CO
Mendalam

Masa Depan AI yang Terasa Menyenangkan Dimanfaatkan Juga oleh Kelompok Kriminal di Dunia

3 Januari 2026
RUU PDP Sudah Disahkan, Data Pribadi akan Lebih Aman Mojok.co
Hukum

RUU PDP Sudah Disahkan, Data Pribadi akan Lebih Aman?

20 September 2022
Kebocoran data terjadi lagi mojok.co
Hukum

105 Juta Data Pemilih Bocor, KPU Meyakini Miliknya Aman

8 September 2022
Camkan Ini, Polisi Nggak Boleh Periksa Hape Warga Sipil tanpa Surat Perintah mojok.co
Kilas

Camkan Ini, Polisi Nggak Boleh Periksa Hape Warga Sipil tanpa Surat Perintah

19 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF MOJOK.CO

DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF

31 Januari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.