Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 April 2026
A A
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Ilustrasi Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif(Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tapi harus siap dicap sombong dan tak ramah

Memang, di mata keluarga besar atau kerabatnya yang tinggal di kampung, gaya hidup orang perumahan seperti Heru sering dicap “sombong“, individualis, dan tidak mau berbaur. 

Namun, Heru justru tertawa santai. Baginya, predikat sombong itu bukanlah sebuah hinaan, tetapi malah “fasilitas eksklusif” yang memang sengaja ia bayar bersamaan dengan cicilan KPR.

“Sebagai introvert, ke perumahan memang membeli privasi kayak gini. Ya nggak apa-apa dicap sombong, jadi nggak ada kewajiban buat berbaur kan. Justru ini definisi slow living yang sebenarnya.”

Mendengar cerita Heru, saya jadi teringat pada salah satu saudara sepupu saya yang juga dicap serupa. Saat ia memutuskan mengambil KPR di sebuah perumahan pinggiran kota Semarang, alih-alih membangun rumah di atas tanah warisan keluarga di desa, omongan miring langsung berdatangan. 

Keluarga besar di kampung menyindirnya sok eksklusif, mentang-mentang kerja kantoran lalu “memagari” diri dan malas kumpul keluarga.

Sama seperti Heru, sepupu saya masa bodoh. Ia rela mengorbankan nama baiknya di mata keluarga besar demi satu hal: ia tidak mau hari liburnya diganggu oleh tetangga atau kerabat yang tiba-tiba bertamu tanpa chat WhatsApp terlebih dahulu. 

Nggak ada orang bakar sampah sembarangan, mau olahraga pun bebas

Selain soal privasi, urusan sampah juga menjadi pembeda. Dulu Heru berekspektasi udara desa itu selalu segar. Faktanya, di banyak desa yang tidak terjangkau truk sampah, warga terbiasa membakar sampah di pekarangan setiap sore. 

Alih-alih menghirup oksigen murni sambil ngopi, orang kota yang nekat tinggal di desa sering kali harus batuk-batuk menghirup asap pembakaran. 

Di perumahan Heru, rutinitas membakar sampah dilarang keras. Udara sorenya steril, sepadan dengan iuran yang ia bayar.

“Aku paling nggak bisa berdampingan dengan tetangga yang suka bakar sampah,” ujarnya.

Bahkan untuk urusan olahraga pun terasa jauh nyaman. Sebagai penganut gaya hidup sehat, Heru sering jogging keliling kompleks memakai pakaian olahraga lengkap dan smartwatch. 

Di perumahan, kelakuan ini divalidasi oleh lingkungan. Banyak tetangganya melakukan hal serupa. 

“Lucunya aku pernah dengar cerita seorang teman yang coba slow living di desa. Sore-sore jogging gitu malah dibilang kurang kerjaan. Dongkol lah dia,” ungkapnya.

Sekali lagi, kata Heru, warga desa tidak pernah salah dengan cara hidup mereka. Sifat ingin tahu dan rutinitas gotong royong adalah sistem yang sudah ada sejak zaman dulu. Hanya saja, mental orang kota seperti dirinya mungkin tidak dirancang untuk menanggung beban sosial tersebut.

Iklan

“Memaknai ketenangan kan beda-beda. Ada yang cocok di desa, ada yang nggak. Kalau saya yang cari ketenangan, ya cocoknya di perumahan,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: anak mudaDesaGen Zharga perumahanmilenialperumahanperumahan clusterpilihan redaksislow livingslow living di desaslow living di kotaslow living di perumahanurban
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO
Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
papua.MOJOK.CO
Jagat

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO
Fragmen

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

11 Juni 2026
papua.MOJOK.CO

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Kiandra Ramadhipa Juara di MotoJunior Championship Portugal!

Kiandra Ramadhipa Juara di Race Moto3 Estroil 2026!

14 Juni 2026
pahlawan pertama di uang rupiah mojok.co

Rupiah Melemah Bikin Kelas Menengah Makin Susah: Gaji Tak Kemana-mana, tapi Biaya Hidup Terus Melonjak

11 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terima penghargaan karena pembinaan UMKM dan ekonomi kreatif di Jateng MOJOK.CO

Pengakuan “Tokoh Penggerak” di Balik Ribuan UMKM dan Ekonomi Kreatif Jateng yang Tumbuh Pesat

12 Juni 2026
Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen

15 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.