Buat sebagian orang, slow living di perumahan jauh lebih damai daripada di desa yang dianggap malah bikin stres. Minusnya, paling-paling kita cuma dicap sombong dan sok eksklusif.
***
Belakangan ini, ada sebuah kesadaran kolektif yang menyebar di kalangan kelas menengah, Gen Z, bahkan Milenial. Mimpi untuk lari dari kepenatan kota dan mencari slow living di desa, pelan-pelan mulai dicoret dari wishlist.
Orang-orang kota mulai sadar, desa bukanlah tempat pelarian yang ramah untuk mental mereka.
Coba saja tengok linimasa Threads, media sosial yang belakangan jadi tempat curhat yang menurut saya paling jujur. Ada sebuah perdebatan ramai yang kesimpulannya sangat menohok: desa sudah bukan lagi tempat yang pas buat slow living.
Salah seorang pengguna, menulis dengan gamblang, “Zaman sekarang kalau mau slow living itu bukan di desa, tapi di perumahan cluster. Tetangga kebanyakan nggak di rumah, suasana hening, one-gate system.”
Di kolom balasan, ribuan orang mengamini. Mereka sadar bahwa tinggal di desa berarti harus siap menghadapi hajatan yang memblokir jalan, wajib sering berinteraksi yang menyedot energi, hingga–paling sederhana–repot kalau mau sekadar mencari tempat ngopi.
Generasi muda tak butuh tanah yang luas
Menariknya, curhatan di Threads itu ternyata bukan sekadar keluh kesah di medsos. Kalau kita menengok data di lapangan, tren pasar properti mengonfirmasi pergeseran fenomena ini.
Laporan survei sentimen konsumen yang dirilis oleh portal properti ternama seperti Rumah.com atau 99.co menunjukkan fakta sejalan.
Dulu, generasi orang tua kita mungkin mencari rumah dengan pekarangan luas atau posisinya di pinggir jalan raya agar kelak bisa buka warung. Sekarang? Generasi muda rela menukar luas tanah itu demi bisa tinggal di dalam sistem perumahan yang tertutup.
Fitur keamanan, sistem satu gerbang (one-gate system), privasi tinggi, dan ketersediaan jaringan internet kabel kini menempati urutan teratas alasan orang membeli rumah.
Artinya, secara statistik, penganut slow living zaman sekarang memang lebih memilih mengisolasi diri.
Belajar dari “korban viral”, ogah slow living di desa
Salah satu narasumber Mojok, Heru (32), adalah salah satu contoh nyata dari pergeseran tren ini. Dua tahun lalu, pekerja di sebuah agensi digital ini sempat berencana membeli sepetak tanah murah di sebuah desa pinggiran kota.
Niatnya mulia: ia ingin membangun rumah mungil yang estetik, memelihara kucing, dan bekerja di depan laptop sambil menghirup udara segar.
Namun, rencana itu ia batalkan mentah-mentah. Heru memilih putar balik dan akhirnya mengambil KPR di sebuah perumahan cluster menengah di wilayah Bogor.
“Saat itu pertimbangannya karena banyak-banyak belajar dari cerita korban-korban konten slow living di desa. Banyak yang nyoba, ternyata desa nggak seramah di konten,” ujarnya, Rabu (8/4/2026) malam.
Dari cerita-cerita itulah Heru sadar, ekosistem sosial di desa terlalu keras untuk mental pekerja remote sepertinya. Heru tahu kapasitas dirinya. Ia butuh ruang personal mutlak.
Ia tidak sanggup hidup di lingkungan yang “mengharamkan” pintu rumah tertutup di siang hari, harus berbasa-basi dengan tetangga, hingga banyaknya agenda sosial yang menyedot energi. Kini, setelah setahun menghuni perumahan cluster miliknya, Heru merasa menemukan slow living yang sesungguhnya.
“Ketenangan yang saya dapatkan bukanlah pemberian alam. Nyatanya, ketenangan bisa kok datang dari fasilitas kami beli dan bayar setiap bulan.”
Tak semua desa memang cocok buat slow living
Mojok sendiri pernah memotret pengalaman serupa Heru. Ada kisah Kevin, lelaki “financial freedom” asal Jakarta yang nekat slow living di Salatiga. Bukan mendapat kenyamanan, ia malah dibikin kena mental sama kultur di desa.
Ada juga kisah Dimas, yang setelah menikah memutuskan pulang ke desa untuk menikmati hidup lambat sambil buka usaha kecil-kecilan. Bukannya tenang, mereka malah dibikin stres oleh mulut tetangga.
Dua kisah ini dapat dibaca dalam liputan berjudul (1) “Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung” dan (2) “Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa”.
Senada dengan dua kisah tersebut, bagi Heru, budaya “bodo amat” di perumahan–kalaupun guyup sifatnya transaksional–adalah sebuah kemewahan baginya. Di perumahan, ia bebas melakukan apa saja tanpa takut dinilai tetangga. Sementara di desa, absen kerja bakti atau tidak datang tahlilan bisa membuat seseorang dikucilkan.
Baca halaman selanjutnya…














