Seorang sarjana (lulusan S1) menjalani kerja 6 hari dalam seminggu dan hampir 15 jam perhari selama 3 tahun. Mirisnya, selain gaji yang teramat kerdil, THR yang diberikan bahkan kelewat menghina: Rp50 ribu. Tapi harus pura-pura bawa uang banyak demi melegakan hati ibu.
***
Masa setelah pandemi Covid-19 memang menjadi momen serba sulit bagi orang-orang yang tengah mencari pekerjaan. Salah satunya Ratih (26), perempuan asal Mojokerto, Jawa Timur.
Selepas lulus kuliah pada awal 2022, Ratih langsung melempar banyak lamaran pekerjaan. Namun, hanya beberapa saja yang sampai tahap interview. Itu pun tidak lolos.
Dalam keputusasaan, ada satu lowongan kerja di Sidoarjo (ia enggan menyebut bidang dan identitas perusahaan demi menghindari konflik) yang menerima Ratih.
Sebenarnya lowongan tersebut ditujukan untuk lulusan SMK. Ratih pun memasukkan lamaran kerja dengan agak pesimis. Namun, justru ia sebagai sarjana (lulusan S1) lah yang diterima.
Sarjana (lulusan S1) terpaksa terima gaji kerdil meski batin nelangsa demi ibu
“Sejujurnya, saat tahu gajiku ada di angka Rp1,8 juta, aku nelangsa. Rasanya seperti tertampar realita, ketika sarjana susah cari kerja, sekali kerja digaji segitu,” ungkap Ratih, Senin (16/3/2026).
Akan tetapi, Ratih tidak punya pilihan lain. Pikirnya waktu itu, tidak masalah, itung-itung untuk mengisi pengalaman sebagai seorang fresh graduate. Sambil jalan nanti cari-cari lowongan kerja lain.
Sebagai anak pertama, Ratih pun harus memikirkan sang ibu di rumah. Karena sebagai anak pertama, dari ibu single fighters pula, maka masa-masa selepas lulus S1 sudah semestinya bagi Ratih memikul beban ekonomi untuk sang ibu.
Selepas interview kerja di Sidoarjo, Ratih langsung menelepon ibunya: mengabari kalau ia sudah dapat kerja. Saat itu, ia menangkap dua kesan dari respons sang ibu.
Kesan pertama adalah ketidaktegaan karena Ratih harus menanggung beban ekonomi sendiri. Sementara kesan kedua adalah rasa lega karena setelah beberapa lali interview kerja, akhirnya ada yang keterima.
“Aku nggak sebut angka. Aku cuma bilang kalau gaji dari pekerjaan di Sidoarjo itu insyaAllah cukup,” ucap Ratih. Walaupun ia sendiri waktu tidak yakin akan benar-benar cukup.
Numpang kos Rp100 ribu karena kebaikan teman, makan sehari sekali manfaatkan gratisan
Sejak awal Ratih sudah berhitung, gaji seimut itu jelas akan sulit dibagi-bagi. Buat sewa kos, mobilitas pribadi di Sidoarjo, dan untuk hidup sehari-hari ibu di rumah.
Ratih tidak memasukkan potensi self reward atau membeli barang yang diinginkan. Make up saja Ratih pikir-pikir kalau mau beli. Pokoknya prioritasnya adalah pada kebutuhan perut.
Itu pun, dalam sehari, Ratih seringnya hanya makan sehari. Memanfaatkan fasilitas makan siang di kantor. Kalau malam, hanya kalau sangat lapar saja ia akan makan malam. Jelas harus sangat berhemat. Makan nasi, telur, sambal, tidak masalah.
“Kos itu untungnya aku ada teman kuliah. Dulu kami sering bareng. Karena dia hidupnya lebih baik, dia baik banget masyaAllah. Jadi aku diajak kos bareng, tapi aku cuma bayar Rp150 ribu perbulan,” ungkap Ratih.
Harga sewa kos tersebut untuk dua orang sebenarnya Rp750 ribu. Harga umum di Sidoarjo. Dari Rp750 ribu, Ratih tidak masalah hanya membayar Rp150 ribu. Bahkan, jika dalam bulan tertentu Ratih sedang banyak kebutuhan, maka ia dibolehkan bayar cuma Rp100 ribu.
Ratih sejujurnya tidak sengaja mencari-cari kesempatan. Ia justru merasa tidak enak dengan temannya. Sampai suatu ketika pernah ingin ngekos sendiri. Tapi si teman melarang. Karena si teman mengaku sangat paham kondisi serba tidak mudah yang Ratih jalani.
Akal busuk bos, gaji imut untuk kerja hampir 15 jam
“Aku baru tahu fakta kalau tempatku bekerja itu ternyata belum setahun dirintis. Awal-awal masuk, jam kerjanya normal. Jam 8 pagi sampai 5 sore. Tapi nggak lama setelah aku masuk, jadi nggak masuk akal,” ungkap Ratih.
Bayangkan, tanpa diskusi dan rasionalisasi, si bos langsung menerapkan jam kerja dari jam 8 pagi sampai menjelang jam 10 malam. Hampir 15 jam perhari.
Si bos hanya bilang, produksi harus digenjot biar pemasukan terus bertambah. Toh jika pemasukan banyak, nantinya gaji karyawan juga akan ditambah.
Selain itu, ia selalu menggembar-gemborkan narasi: mumpung masih muda, harus kerja keras. Kalau muda tidak mau kerja keras, nanti tua akan hidup susah.
“Sepertinya cuma aku dan satu orang sesama sarjana yang ngeluh. Karena kami tahu, narasi itu cuma akal busuk eksploitasi. Mana ada kerja keras bikin hidup nggak susah. Gaji saja nggak nambah dengan durasi kerja selama itu,” ujar Ratih.
Sementara anak-anak lain—yang kebanyakan lulusan SMA/SMK—ikut-ikut saja dengan sistem kapital brengsek tersebut. Tidak sadar kalau mereka tengah diperas habis-habisan untuk memperkaya si pemilik modal.
3 tahun kerja, THR untuk sarjana (lulusan S1) hanya Rp50 ribu
Ratih melewati tahun pertama kerjanya dengan tidak menerima THR. Padahal sudah kerja mati-matian.
Di tahun kedua, situasi Ratih tidak banyak berubah. Namun, ia tidak bisa serta merta resign. Karena sepanjang memasukkan lamaran kerja ke beberapa tempat, seperti ada kutukan yang mengambat ijazah S1 miliknya untuk dilirik perusahaan.
Bedanya, di tahun kedua (pada 2023), di momen menjelang Idulfitri, si bos memberi THR untuk seluruh karyawan. Saat itu Ratih bernapas lega, apalagi setelah melihat amplop berukuran besar dari si bos.
“Karena di tahun sebelumnya, tanpa THR, aku hanya bisa memberi sedikit uang dan sedikit jajan lebaran. Tahun kedua, dengan melihat amplop besar, aku kan jadi membayangkan, pemberian ke ibu di lebaran tahun itu pasti lebih baik,” ucap Ratih.
Ratih membawa pulang amplop tersebut dengan hati semringah. Namun, saat membukanya di kamar kos, tangis Ratih seketika pecah. Sebab, isi amplop tersebut adalah pecahan uang Rp2 ribuan dengan total Rp50 ribu.
Pura-pura bawa uang banyak demi melegakan ibu
“THR Rp50 ribu ya cuma lewat. Cuma cukup buat bensin pulang Sidoarjo-Mojokerto,” gerutu Ratih.
Alhasil, sama seperti lebaran tahun sebelumnya, di lebaran 2023 itu pun Ratih terpaksa harus pura-pura pulang dengan uang banyak. Saat ditanya ibu, “Emangnya dapat THR?”, Ratih dengan bersusah payah menahan sesak di dada menjawab mantap: “Ada, dan lumayan.”
Semata demi melegakan hati sang ibu. Agar sang ibu tidak kepikiran kalau misalnya mau beli-beli jajan atau baju lebaran baru.
Maka, selama lebaran, Ratih harus menanggung semua keperluan lebaran murni dari uang gaji. Belum lagi membagi pecahan Rp5 ribuan untuk bagi-bagi ke bocil-bocil. Itu jelas membuatnya semakin menderita. Karena jika uang gajinya menipis sehabis lebaran, maka saat kembali kerja di Sidoarjo ia harus siap-siap tahan lapar demi berhemat.
Sayangnya memang, butuh waktu satu tahun lagi sampai akhirnya Ratih bisa benar-benar keluar dari pekerjaan tersebut dan mendapat pekerjaan baru yang lebih layak. Tepatnya pada 2024.
“Tahun 2024 itu aku masih kerja sampai lebaran juga, loh. Bukannya jumlah THR di amplop nambah, seburuk-buruknya Rp100 ribu kek, eh ternyata malah nggak ada THR lagi,” beber Ratih disertai tawa getir.
Dua tahun terakhir, setelah benar-benar lepas dari sana dan menjalani hidup dengan gaji lebih layak, Ratih mengaku kerap mengutuk hidup si bos. Mendoakan buruk orang lain memang tidak diperkenankan. Namun, atas kezaliman si bos, Ratih tidak tahan untuk mengutuknya kepada Tuhan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














