Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Maret 2026
A A
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ilustrasi - Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Akal busuk bos, gaji kerdil untuk kerja hampir 15 jam

“Aku baru tahu fakta kalau tempatku bekerja itu ternyata belum setahun dirintis. Awal-awal masuk, jam kerjanya normal. Jam 8 pagi sampai 5 sore. Tapi nggak lama setelah aku masuk, jadi nggak masuk akal,” ungkap Ratih. 

Bayangkan, tanpa diskusi dan rasionalisasi, si bos langsung menerapkan jam kerja dari jam 8 pagi sampai menjelang jam 10 malam. Hampir 15 jam perhari. 

Iklan

Si bos hanya bilang, produksi harus digenjot biar pemasukan terus bertambah. Toh jika pemasukan banyak, nantinya gaji karyawan juga akan ditambah. 

Selain itu, ia selalu menggembar-gemborkan narasi: mumpung masih muda, harus kerja keras. Kalau muda tidak mau kerja keras, nanti tua akan hidup susah. 

“Sepertinya cuma aku dan satu orang sesama sarjana yang ngeluh. Karena kami tahu, narasi itu cuma akal busuk eksploitasi. Mana ada kerja keras bikin hidup nggak susah. Gaji saja nggak nambah dengan durasi kerja selama itu,” ujar Ratih. 

Sementara anak-anak lain—yang kebanyakan lulusan SMA/SMK—ikut-ikut saja dengan sistem kapital brengsek tersebut. Tidak sadar kalau mereka tengah diperas habis-habisan untuk memperkaya si pemilik modal. 

3 tahun kerja, THR untuk sarjana (lulusan S1) hanya Rp50 ribu

Ratih melewati tahun pertama kerjanya dengan tidak menerima THR. Padahal sudah kerja mati-matian. 

Di tahun kedua, situasi Ratih tidak banyak berubah. Namun, ia tidak bisa serta merta resign. Karena sepanjang memasukkan lamaran kerja ke beberapa tempat, seperti ada kutukan yang mengambat ijazah S1 miliknya untuk dilirik perusahaan. 

Bedanya, di tahun kedua (pada 2023), di momen menjelang Idulfitri, si bos memberi THR untuk seluruh karyawan. Saat itu Ratih bernapas lega, apalagi setelah melihat amplop berukuran besar dari si bos. 

“Karena di tahun sebelumnya, tanpa THR, aku hanya bisa memberi sedikit uang dan sedikit jajan lebaran. Tahun kedua, dengan melihat amplop besar, aku kan jadi membayangkan, pemberian ke ibu di lebaran tahun itu pasti lebih baik,” ucap Ratih. 

Ratih membawa pulang amplop tersebut dengan hati semringah. Namun, saat membukanya di kamar kos, tangis Ratih seketika pecah. Sebab, isi amplop tersebut adalah pecahan uang Rp2 ribuan dengan total Rp50 ribu. 

Pura-pura bawa uang banyak demi melegakan ibu

“THR Rp50 ribu ya cuma lewat. Cuma cukup buat bensin pulang Sidoarjo-Mojokerto,” gerutu Ratih. 

Alhasil, sama seperti lebaran tahun sebelumnya, di lebaran 2023 itu pun Ratih terpaksa harus pura-pura pulang dengan uang banyak. Saat ditanya ibu, “Emangnya dapat THR?”, Ratih dengan bersusah payah menahan sesak di dada menjawab mantap: “Ada, dan lumayan.”

Semata demi melegakan hati sang ibu. Agar sang ibu tidak kepikiran kalau misalnya mau beli-beli jajan atau baju lebaran baru. 

Maka, selama lebaran, Ratih harus menanggung semua keperluan lebaran murni dari uang gaji. Belum lagi membagi pecahan Rp5 ribuan untuk bagi-bagi ke bocil-bocil. Itu jelas membuatnya semakin menderita. Karena jika uang gajinya menipis sehabis lebaran, maka saat kembali kerja di Sidoarjo ia harus siap-siap tahan lapar demi berhemat. 

Sayangnya memang, butuh waktu satu tahun lagi sampai akhirnya Ratih bisa benar-benar keluar dari pekerjaan tersebut dan mendapat pekerjaan baru yang lebih layak. Tepatnya pada 2024. 

“Tahun 2024 itu aku masih kerja sampai lebaran juga, loh. Bukannya jumlah THR di amplop nambah, seburuk-buruknya Rp100 ribu kek, eh ternyata malah nggak ada THR lagi,” beber Ratih disertai tawa getir. 

Dua tahun terakhir, setelah benar-benar lepas dari sana dan menjalani hidup dengan gaji lebih layak, Ratih mengaku kerap mengutuk hidup si bos. Mendoakan buruk orang lain memang tidak diperkenankan. Namun, atas kezaliman si bos, Ratih tidak tahan untuk mengutuknya kepada Tuhan.  

Iklan

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2026 oleh

Tags: cari kerja susahgaji imutgaji kecilgaji sidoarjoidulfitrikerja di SidoarjoLebaranloker sidoarjolowongan kerjalulusan S1sarjanaSidoarjosusah cari kerjathr
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.