Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
31 Maret 2026
A A
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO

ilustrasi - kumpul keluarga di Surabaya jadi momen menyebalkan bagi pekerja Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mudik Lebaran tahun ini perasaan Nina campur aduk. Perempuan asal Surabaya yang baru bekerja selama 1 tahun di Jogja itu malas ikut kumpul bersama keluarga. Bukan apa-apa, ia tak ingin ditanya-tanyai soal kariernya di Jogja: yang lain sudah jadi orang, kamu ngapain malah ke desa?

***

Setelah keluar dari beberapa agensi kreatif di Surabaya dulu, Nina (24) akhirnya mendapatkan pekerjaan pengganti di Jogja. Baginya dulu, ia sama sekali tak terpikirkan untuk merantau tapi setelah mendalami agensi yang mau menerimanya di Jogja, Nina tak mau menutup peluang.

Nyaris tak peduli dengan apa kata orang soal ‘kenapa Jogja? Padahal, Surabaya lebih maju’ atau ‘kok jauh? Nggak bisa kah kerja di Surabaya saja’, Nina memilih memilah mana yang perlu ia pertimbangkan dan mana yang perlu ia buang.

“Aku berpikir Jogja tempat yang oke buat industri kreatif, which is kerjaanku di agensi juga ya. Jadi it is a good place buat belajar dan nambah pengalaman. karena rill di sini berkembang banget komunitas dan lingkungan kreatifnya,” jelas Nina saat dihubungi Mojok, Sabtu (28/3/2026).

Masalahnya, tak hanya orang-orang di sekitar yang mempertanyakan keputusan Nina. Kali ini, Nina tak bisa benar-benar menutup telinga saat orang tuanya ikut berpendapat, bahkan sempat menentangnya untuk pergi merantau.

“Pertama kali aku bilang mau kerja di Jogja mereka langsung menolak. Nggak ngebolehin bahkan ketika aku mau berangkat pun mereka masih melarang tapi aku nekat ae (saja),” jelas Nina.

Menghindar dari kumpul keluarga

Sebagai anak perempuan pertama yang berada di keluarga kelas ekonomi menengah, Nina mafhum dengan kekhawatiran orang tuanya. Apalagi, adik perempuannya juga masih sekolah dan Nina masih punya kewajiban untuk membantu ekonomi keluarga. 

Alih-alih memilih mengikuti passion dalam berkarier, ia seolah dituntut untuk kerja apa saja bahkan kalau bisa daftar PNS—profesi yang masih dianggap oke bagi sebagian orang, karena tak harus merantau dan kesejahteraannya terjamin.

Namun, Nina tetap memilih mimpinya meski seringkali harus berdebat sengit dengan orang tuanya. Apalagi, saat momen kumpul keluarga seperti sekarang. Di mana ia mudik dari Jogja ke Surabaya.

“Aku selalu luangkan waktu balik ke Surabaya setidaknya 3 bulan sekali, saat hari besar atau long weekend. Cuman rasanya tahun ini agak campur aduk,” kata Nina.

Sebetulnya, Nina tak pernah ditanyai macam-macam oleh keluarganya seperti kapan nikah?  Kapan ini? Kapan itu? Hanya saja, ada satu topik khusus yang sering mereka bahas yakni mengenai pekerjaan, yang sejatinya ingin Nina hindari.

Kalau pembahasannya sudah berlarut-larut, Nina lebih memilih diam atau menjawab seadanya. Bahkan kalau perlu ia berbohong ke keluarga besar, agar orang tuanya tak semakin khawatir atau menyuruhnya tinggal di Surabaya.

“Toh, orang sebenernya pengen tau saja. Nggak peduli-peduli amat,” kata Nina.

Iklan

Ya dan tidak merantau ke Jogja

Karena tak berhasil membujuk Nina untuk “meninggalkan mimpinya” kerja di Jogja, orang tuanya mulai mencari topik macam-macam. Salah satunya, soal perubahan gaya berpakaian (outfit) Nina yang sekarang. 

Guna menggambarkan situasi tersebut, Nina mengirimkan sebuah video kepada saya. Di video itu tampak pemuda yang diomeli ibunya setelah merantau dari Jogja, karena pakaiannya yang mirip dengan anak punk. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by THXDEY | Andava Fadeygra (@thxdeyy)

Siapa sangka, momen sederhana itu bikin Nina merenung dalam perjalanannya kembali dari Surabaya ke Jogja di dalam kereta. Ya, hidupnya memang banyak berubah dalam satu tahun terakhir. Bahkan dari hal-hal kecil seperti gaya berpakaian.

Dulu pun, ia begitu getol meniti karier di Jogja yang ia yakini sebagai kota industri kreatif. Namun, ia tak menampik, ada waktu di mana semangatnya turun dan kembali mempertanyakan keputusannya dulu.

“Sebenarnya antara menyesal dan nggak menyesal ya pindah ke Jogja, karena sekarang aku justru lebih tertarik sama opportunity work from anywhere (WFA). Aku lebih sering banyak berpikir, gimana karier ke depannya? Dengan umur segini worth it nggak ya buat cari tempat baru lagi? Atau ada nggak ya opportunity yang lebih?,” tanya Nina.

Meski begitu, Nina tak ingin terjerat dalam lingkaran setan. Sembari jalan, ia pelan-pelan mencari alternatif lain agar dirinya tak menyesal. Pun orang tuanya, yang Nina yakin, dalam lubuk hati mereka, ingin karier Nina sukses.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pekerja Surabaya Pindah Kerja di Jogja: Bingung sama Kebiasaan “Buang-buang Uang”, Repot karena Budaya Traktir Teman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Maret 2026 oleh

Tags: Industri kreatifJogjakerja di jogjakonta industrikumpul keluargapekerja jogjaPNSSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS
Sehari-hari

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Rela bayar mahal kuliah jurusan Keperawatan PTS besar demi jadi perawat. Setelah lulus malah jadi kayak babu MOJOK.CO

Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.