Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
9 Maret 2026
A A
Jogja macet saat mudik Lebaran

Ilustrasi - Jogja macet saat mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Macetnya Jogja akan lebih parah dari Jakarta

Dengan banyaknya manusia yang memadati Jogja, orang-orang Jogja bukan hanya tersingkirkan dari jalanan utama. Mereka yang posisinya dirugikan, dari lokasi rumah, bisa jadi juga tidak bisa keluar dari rumahnya masing-masing.

Seperti Dhanty yang kediamannya berada tidak jauh dari destinasi wisata. Jadilah, dirinya tidak bisa menghindar dari kemacetan Jogja ini.

“Kalau kudu lewat Jalan Mataram yang arah Kotabaru itu biasanya macet,” katanya

“Nah iya, [rumahku] lumayan dekat. Jalan ke arah Kraton itu agak kecil-kecil, jadi ya macet ke arah Kraton dan Alkid (Alun-alun Kidul),” tambah dia.

Akibatnya, Dhanty tidak akan bisa keluar rumah seperti biasanya. Arus jalanan sudah pasti padat, orang-orang memenuhi area sekitar rumahnya, kendaraan tidak bisa bergerak dengan kecepatan normal, dan keluar rumah hanya akan menjadi sebuah kesalahan.

“Aku sudah jarang keluar kalau lagi liburan gede gitu, tapi ya macetnya tuh lama. Bukan kayak macet orang pulang atau berangkat kerja,” katanya.

Dibandingkan dengan arus lalu lintas biasanya, jelas jadinya Jogja akan mengadopsi jalanan Jakarta saat hari libur besar, seperti Lebaran. Memilih untuk melipir ke area yang jauh dari perkotaan pun tidak menjadi jalan keluar. Sebab dalam perjalanan menuju ke sana, Dhanty masih harus bertarung melawan banyaknya kendaraan warlok, serta sewaan wisatawan.

“Biasanya tuh plesir ya sama keluarga biar nggak macet, malah keluar kota sekalian. Tapi kadang ya, semuanya macet, bingung,” akunya sebal.

Maka dari itu, Dhanty menjadi serbasalah. Ia ingin keluar rumah ke perkotaan, tetapi tidak bisa. Mencoba untuk keluar kota, tetap harus melewati jalanan yang dipenuhi wisatawan. Jadilah, sebagai orang Jogja, Dhanty hanya bisa merutuki nasibnya.

Sudah Jogja hanya seluas 3.186,80 kilometer persegi, kedatangan wisatawan dan pemudik dalam rangka libur Lebaran membuat warlok sepertinya merasa sesak.

“Ah, Jogja ki kecil. Nyebai og [Jogja ini kecil, nyebelin],” ujarnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan  

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: Arus Mudikdestinasi wisata jogjaJogjajumlah wisatawan di jogjaLebaranmudik Jogjamudik ke jogjapemudikrekomendasi wisata jogjawarga jogjawarlokwarlok jogjawisata jogjawisatawanwisatawan jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.