Ketika berita arus mudik lebaran sudah meriuhkan siaran televisi atau media massa, hanya napas berat yang bisa dilakukan oleh pemuda desa. Sebab, itu tandanya teman-teman sepantaran yang kerja di perantauan akan lekas mudik ke desa (pulang kampung).
Kepulangan anak-anak perantauan memberi tekanan tersendiri bagi pemuda desa. Merasa teralienasi karena tidak kerja di perantauan, apalagi dengan kondisi yang begitu-begitu saja, jelas dianggap tidak punya daya tawar.
Ketimpangan obrolan antara pemuda desa dan teman perantauan yang mudik ke desa
Kala teman-teman sepantaran beranjak ke perantauan untuk kuliah, Ipul (25) hanya bisa memendam rasa iri. Sebab, selepas lulus SMK, tidak ada pilihan untuk lanjut ke pendidikan tinggi.
Satu-satunya pilihan adalah langsung bekerja untuk turut menopang ekonomi keluarga. Dan itulah yang akhirnya ia lakukan hingga sekarang.
Persoalannya kemudian, yang tidak ia sangka sebelumnya, setiap teman-teman sepantaran mudik ke desa dari perantauan (pulang kampung), Ipul merasa ada ketimpangan bahkan sedari obrolan.
“Dulu saat teman-teman sepantaran kuliah, obrolan seperti berjarak karena kalau ketemu yang dibahas soal serunya dunia kuliah. Terus mulai ada kata-kata asing yang keluar dari ucapan mereka yang aku nggak tahu,” ujar Ipul, pemuda asal Jawa Tengah.
Saat teman-teman sepantaran sudah lulus kuliah dan memilih bekerja di perantauan, situasinya jauh lebih menekan pemuda desa seperti Ipul—yang menghabiskan hari-hari hanya di kampung halaman.
Obrolan memang sering kali masih bersifat satu arah: pemuda desa hanya bisa menyimak deskripsi kota dari teman sepantarannya yang kerja di perantauan. Harus tahan-tahan menyimak kosakata-kosakata baru yang asing bagi Ipul.
“Tapi yang lebih menekan dari itu: aku merasa jauh sekali dari mereka. Karena mereka bisa kerja kantoran, gaji kota,” kata Ipul.
Akrab di masa kecil, beranjak dewasa jadi seperti baru kenal
Situasi semacam itu pada akhirnya membuat hubungan Ipul dengan sejumlah teman sepantarannya yang merantau tidak lagi sama seperti dulu.
Ipul masih ingat. Sejak TK hingga SMA (sebelum dipisahkan perantauan), banyak hal dilakukan bersama tanpa kecanggungan. Berangkat ngaji bersama, sekolah bareng, main bareng, hingga ngopi bareng.
Akan tetapi, setelah teman-teman sepantaran sudah banyak di perantauan, di momen saat teman-teman mudik ke desa, tiba-tiba rasanya menjadi serba canggung. Setidaknya bagi Ipul sendiri.
“Lebih karena minder. Merasa sudah beda level dengan mereka. Sebagai pemuda desa biasa aku merasa tertinggal dari mereka yang pulang dari perantauan,” tutur Ipul.
Alhasil, yang kemudian Ipul lakukan adalah menarik diri: membangun jarak dengan anak-anak perantauan. Ipul jelas lebih nyaman berkumpul dengan pemuda-pemuda desa lain yang senasib.
Bahkan, di titik tertentu, karena dorongan rasa tertinggal yang terus membesar, akhirnya yang muncul adalah sinisme tak beralasan. Pokoknya, di kalangan pemuda desa sinis saja dengan anak-anak perantauan yang mudik ke desa itu.
“Ya jadi gunjingan. Dicap kebanyakan gaya, mentang-mentang tinggal di kota, macem-macem. Ya memang ada anak perantauan yang pas mudik ke desa jadi sombong dan menyebalkan. Tapi sering kali cara pemuda desa lepas dari rasa tertinggal itu ya dengan sinis, menuding mereka nggak bisa serawung karena sok pintar dan sok kota,” beber Ipul.
Anak perantauan jadi pusat perhatian saat mudik ke desa (pulang kampung), pemuda desa tersisihkan
Sementara bagi Tahar (28), momen saat teman-teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa membuat pemuda desa sepertinya merasa tersisihkan.
Pasalnya, tiba-tiba saja anak-anak perantauan itu menjadi pusat perhatian. Saudara, tetangga, bahkan kebanyakan warga desa seolah-olah antusias dengan kepulangan anak perantauan tersebut.
Si anak perantauan itu pada akhirnya menjadi sangat sibuk untuk meladeni banyak pertanyaan: “Pulang kapan?”, “Kerja apa dan di mana?”, dan macam-macam.
Sebenarnya pertanyaan tersebut wajar saja. Namun, Tahar kerap mengalami situasi: misalnya di momen halal bihalal, saat si anak perantauan datang bertamu, maka ia akan jadi pusat obrolan dan perhatian. Sementara Tahar hanya bisa menunduk diam.
“Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nyumet udud (menyulut rokok). Ya merasa tersisihkan,” ungkap pemuda desa juga asal Jawa Tengah tersebut.
Beban ketika tidak bisa bagi-bagi THR ke saudara
Standar sukses di desa Tahar diukur dari besaran materi. Oleh karena itu, di momen lebaran, tidak heran jika orang—apalagi anak perantauan—yang berupaya tampak telah memenuhi standar sukses tersebut.
Ada yang mudik ke desa dengan menyewa mobil. Kalau tidak bisa menyewa mobil, paling tidak menunjukkan sukses materi dari segi penampilan dan pemberian.
“Pakaiannya kan mesti bagus-bagus. Terus loyal. Misalnya pas bagi-bagi THR, memberi saudara pasti nominalnya besar, atau bawa oleh-oleh banyak dari perantauan,” kata Tahar.
Tak pelak jika itu kemudian memberi beban bagi pemuda desa seperti Tahar, yang sehari-hari bekerja dengan upah seadanya (UMP setempat yang rendah).
Tahar tidak bisa leluasa membagi THR ke saudara dengan nominal besar. Itu pun masih harus milih-milih: hanya bisa memberi ke saudara yang memang paling dekat.
Tidak punya banyak pilihan
Masalahnya memang, baik Ipul maupun Tahar sama-sama tidak punya banyak pilihan hidup. Ipul hanya bisa mengakses pekerjaan-pekerjaan di dalam kabupaten sendiri karena memang hanya itu yang bisa ia lakukan dengan ijazah SMA-nya.
Adapun Tahar, sebagai anak tengah, tidak bisa jauh-jauh dari ibunya yang terus menua. Sedangkan adiknya juga masih usia SMP-an. Kondisi yang tidak hanya menghalangi Tahar untuk kerja di perantauan, tapi juga menghalanginya untuk menikah.
Di hari-hari biasa, keberadaan pemuda desa seperti Ipul dan Tahar di lingkungan desa adalah kewajaran. Karena tidak kerja di perantauan, ya wajar kalau sehari-hari nampang.
Namun, saat momen teman-teman sepantaran mereka yang di perantauan mudik ked desa (pulang kampung), keberadaan Ipul dan Tahar kemudian menjadi serba tertekan dan tersisihkan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













