Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 Maret 2026
A A
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Ilustrasi - Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika berita arus mudik lebaran sudah meriuhkan siaran televisi atau media massa, hanya napas berat yang bisa dilakukan oleh pemuda desa. Sebab, itu tandanya teman-teman sepantaran yang kerja di perantauan akan lekas mudik ke desa (pulang kampung). 

Kepulangan anak-anak perantauan memberi tekanan tersendiri bagi pemuda desa. Merasa teralienasi karena tidak kerja di perantauan, apalagi dengan kondisi yang begitu-begitu saja, jelas dianggap tidak punya daya tawar. 

Ketimpangan obrolan antara pemuda desa dan teman perantauan yang mudik ke desa

Kala teman-teman sepantaran beranjak ke perantauan untuk kuliah, Ipul (25) hanya bisa memendam rasa iri. Sebab, selepas lulus SMK, tidak ada pilihan untuk lanjut ke pendidikan tinggi. 

Satu-satunya pilihan adalah langsung bekerja untuk turut menopang ekonomi keluarga. Dan itulah yang akhirnya ia lakukan hingga sekarang. 

Persoalannya kemudian, yang tidak ia sangka sebelumnya, setiap teman-teman sepantaran mudik ke desa dari perantauan (pulang kampung), Ipul merasa ada ketimpangan bahkan sedari obrolan. 

“Dulu saat teman-teman sepantaran kuliah, obrolan seperti berjarak karena kalau ketemu yang dibahas soal serunya dunia kuliah. Terus mulai ada kata-kata asing yang keluar dari ucapan mereka yang aku nggak tahu,” ujar Ipul, pemuda asal Jawa Tengah. 

Saat teman-teman sepantaran sudah lulus kuliah dan memilih bekerja di perantauan, situasinya jauh lebih menekan pemuda desa seperti Ipul—yang menghabiskan hari-hari hanya di kampung halaman. 

Obrolan memang sering kali masih bersifat satu arah: pemuda desa hanya bisa menyimak deskripsi kota dari teman sepantarannya yang kerja di perantauan. Harus tahan-tahan menyimak kosakata-kosakata baru yang asing bagi Ipul. 

“Tapi yang lebih menekan dari itu: aku merasa jauh sekali dari mereka. Karena mereka bisa kerja kantoran, gaji kota,” kata Ipul. 

Akrab di masa kecil, beranjak dewasa jadi seperti baru kenal

Situasi semacam itu pada akhirnya membuat hubungan Ipul dengan sejumlah teman sepantarannya yang merantau tidak lagi sama seperti dulu. 

Ipul masih ingat. Sejak TK hingga SMA (sebelum dipisahkan perantauan), banyak hal dilakukan bersama tanpa kecanggungan. Berangkat ngaji bersama, sekolah bareng, main bareng, hingga ngopi bareng. 

Akan tetapi, setelah teman-teman sepantaran sudah banyak di perantauan, di momen saat teman-teman mudik ke desa, tiba-tiba rasanya menjadi serba canggung. Setidaknya bagi Ipul sendiri. 

“Lebih karena minder. Merasa sudah beda level dengan mereka. Sebagai pemuda desa biasa aku merasa tertinggal dari mereka yang pulang dari perantauan,” tutur Ipul. 

Alhasil, yang kemudian Ipul lakukan adalah menarik diri: membangun jarak dengan anak-anak perantauan. Ipul jelas lebih nyaman berkumpul dengan pemuda-pemuda desa lain yang senasib. 

Iklan

Bahkan, di titik tertentu, karena dorongan rasa tertinggal yang terus membesar, akhirnya yang muncul adalah sinisme tak beralasan. Pokoknya, di kalangan pemuda desa sinis saja dengan anak-anak perantauan yang mudik ke desa itu. 

“Ya jadi gunjingan. Dicap kebanyakan gaya, mentang-mentang tinggal di kota, macem-macem. Ya memang ada anak perantauan yang pas mudik ke desa jadi sombong dan menyebalkan. Tapi sering kali cara pemuda desa lepas dari rasa tertinggal itu ya dengan sinis, menuding mereka nggak bisa serawung karena sok pintar dan sok kota,” beber Ipul. 

Anak perantauan jadi pusat perhatian saat mudik ke desa (pulang kampung), pemuda desa tersisihkan 

Sementara bagi Tahar (28), momen saat teman-teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa membuat pemuda desa sepertinya merasa tersisihkan. 

Pasalnya, tiba-tiba saja anak-anak perantauan itu menjadi pusat perhatian. Saudara, tetangga, bahkan kebanyakan warga desa seolah-olah antusias dengan kepulangan anak perantauan tersebut. 

Si anak perantauan itu pada akhirnya menjadi sangat sibuk untuk meladeni banyak pertanyaan: “Pulang kapan?”, “Kerja apa dan di mana?”, dan macam-macam. 

Sebenarnya pertanyaan tersebut wajar saja. Namun, Tahar kerap mengalami situasi: misalnya di momen halal bihalal, saat si anak perantauan datang bertamu, maka ia akan jadi pusat obrolan dan perhatian. Sementara Tahar hanya bisa menunduk diam.

“Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nyumet udud (menyulut rokok). Ya merasa tersisihkan,” ungkap pemuda desa juga asal Jawa Tengah tersebut. 

Beban ketika tidak bisa bagi-bagi THR ke saudara

Standar sukses di desa Tahar diukur dari besaran materi. Oleh karena itu, di momen lebaran, tidak heran jika orang—apalagi anak perantauan—yang berupaya tampak telah memenuhi standar sukses tersebut. 

Ada yang mudik ke desa dengan menyewa mobil. Kalau tidak bisa menyewa mobil, paling tidak menunjukkan sukses materi dari segi penampilan dan pemberian. 

“Pakaiannya kan mesti bagus-bagus. Terus loyal. Misalnya pas bagi-bagi THR, memberi saudara pasti nominalnya besar, atau bawa oleh-oleh banyak dari perantauan,” kata Tahar. 

Tak pelak jika itu kemudian memberi beban bagi pemuda desa seperti Tahar, yang sehari-hari bekerja dengan upah seadanya (UMP setempat yang rendah). 

Tahar tidak bisa leluasa membagi THR ke saudara dengan nominal besar. Itu pun masih harus milih-milih: hanya bisa memberi ke saudara yang memang paling dekat. 

Tidak punya banyak pilihan

Masalahnya memang, baik Ipul maupun Tahar sama-sama tidak punya banyak pilihan hidup. Ipul hanya bisa mengakses pekerjaan-pekerjaan di dalam kabupaten sendiri karena memang hanya itu yang bisa ia lakukan dengan ijazah SMA-nya.

Adapun Tahar, sebagai anak tengah, tidak bisa jauh-jauh dari ibunya yang terus menua. Sedangkan adiknya juga masih usia SMP-an. Kondisi yang tidak hanya menghalangi Tahar untuk kerja di perantauan, tapi juga menghalanginya untuk menikah. 

Di hari-hari biasa, keberadaan pemuda desa seperti Ipul dan Tahar di lingkungan desa adalah kewajaran. Karena tidak kerja di perantauan, ya wajar kalau sehari-hari nampang. 

Namun, saat momen teman-teman sepantaran mereka yang di perantauan mudik ked desa (pulang kampung), keberadaan Ipul dan Tahar kemudian menjadi serba tertekan dan tersisihkan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: anak perantauanbeban mudik ke desakerja di perantauanLebaranMudikmudik ke desamudik lebaranpemuda desaperantauanpilihan redaksipulang kampungtekanan mudik
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO
Sehari-hari

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
lulusan unesa dapat beasiswa dan langsung kerja. MOJOK.CO

Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa

11 Mei 2026
AstraPay berupaya memperkuat kontribusinya melalui inovasi layanan, edukasi ekosistem, serta pengembangan akses keuangan digital bagi UMKM di tengah pertumbuhan pembayaran atau transaksi digital (QRIS) MOJOK.CO

Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM

9 Mei 2026
Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.