Tahun 2023 lalu, Dimas dan istrinya, mengambil keputusan yang mungkin diidam-idamkan banyak pekerja Jakarta: kembali ke desa. Setelah resmi menikah, mereka bersepakat untuk meninggalkan ibu kota dan pulang ke kampung halaman orang tua Dimas. Niat mereka cuma satu, mencari ketenangan jiwa dengan menjalani gaya hidup slow living.
Ekspektasi awal mereka tergambar sangat indah. Hidup jauh dari kemacetan, bernapas dengan udara pagi yang masih bersih, dan tentu saja, menikmati biaya hidup yang tidak mencekik leher.
“Soalnya di desa harga kebutuhan pokok jauh lebih masuk akal dibandingkan kota. Jauh-jauh lebih murah,” kata Dimas, Selasa (7/4/2026).
Pada tahun pertama, ekspektasi itu benar-benar menjadi kenyataan. Mereka hidup sangat enak dan tergolong makmur. Istri Dimas membuka usaha online shop yang khusus menjual pakaian bekas layak pakai (thrift) dan barang-barang estetik. Ia menyulap salah satu kamar kosong di rumah menjadi gudang.
Sementara itu, Dimas bekerja freelance sebagai seorang digital ads specialist. Kerjanya mengelola dan memasang iklan media sosial untuk klien-klien perusahaan di kota besar.
Alhasil, gaji level ibu kota yang dipadukan dengan pengeluaran standard desa adalah kemewahan. Saldo tabungan mereka cepat naik. Apalagi, mereka belum punya anak, sehingga pengeluaran sangat irit.
Dianggap “aneh” warga desa, nggak ngapa-ngapain tapi banyak uang
Sayangnya, fase “bulan madu” di desa ini ternyata tidak berumur panjang. Memasuki tahun kedua, ekspektasi ketenangan jiwa itu pelan-pelan hancur lebur.
Kata Dimas, slow living yang mereka impikan bertabrakan keras dengan budaya srawung khas warga desa yang nyaris tidak mengenal konsep ruang pribadi atau privasi.
Misalnya saja, gesekan pertama muncul dari urusan jam kerja. Karena punya usaha online shop, istri Dimas sering harus melakukan live streaming jualan atau mengemas puluhan pesanan pelanggan sampai larut malam. Dimas pun sering begadang memantau lalu lintas grafik iklan kliennya, atau membantu istrinya bekerja.
“Jadinya, ya kami sering baru bangun tidur agak siang. Jam delapan, kadang jam sembilan gitu baru nongol,” ungkapnya.
Sialnya, bagi budaya warga desa, memulai aktivitas pada siang hari ibarat sebuah aib. Pasangan muda ini mulai dicap sebagai pemalas.
Ditambah lagi, hampir setiap sore ada kurir ekspedisi yang datang menjemput karung-karung paket pesanan baju istri Dimas, atau mengantarkan paket belanjaan mereka.
“Ya tiap ada kesempatan aku udah jelasin kerja kami gini-gini, memang fleksibel. Tapi kadang warga desa nggak mau tahu,” jelasnya. “Jadi ya mulai kedengeran tuh kata-kata nggak enak, ‘kerja nggak jelas, bangun siang, tapi duit gacor, tiap sore ada kurir datang’.”
Dikira pemain judol yang andal
Kecurigaan warga desa itu akhirnya mencapai puncaknya pada suatu sore, yang kata Dimas, “sangat konyol”. Saat itu, Dimas sedang duduk di teras sambil menyesap kopi. Matanya fokus menatap layar laptop yang menampilkan grafik naik-turun dari data performa iklan kliennya. Tiba-tiba, seorang bapak-bapak tetangga mampir.
Awalnya, bapak itu hanya berbasa-basi. Namun, tiba-tiba ia mengucapkan kalimat yang sontak bikin Dimas kaget.
“Dia minta diajarin main slot yang gacor itu gimana,” ucap Dimas.
Dimas hanya bisa melongo. Ia bingung setengah mati memikirkan cara menjelaskan bedanya grafik data iklan digital yang ia pantau dengan putaran mesin judi online kepada bapak tersebut.
“Kalau dijelaskan panjang lebar, takunya tidak paham. Tapi kalau ditolak, takut dibilang pelit ilmu.”
Baca halaman selanjutnya…
Kena mental karena diburu-buru buat punya anak. Sampai stres!














