Kebayoran Baru memang berisik, sumpek. Namun, ia menjadi tempat terbaik bagi perantau Jakarta. Akses transportasi mudah, makanan masih murah.
***
Bagi para perantau muda di Jakarta Selatan, arti kemewahan sering kali bergeser. Kemewahan bukan lagi sekadar kamar kos luas berpendingin ruangan atau suasana tenang ala apartemen bertingkat.
Di kawasan pusat bisnis dan gaya hidup sekelas Kebayoran Baru, berhasil mendapatkan kamar kos dengan harga murah saja sudah dianggap sebuah kemewahan tersendiri.
Risikonya memang jelas. Kos harga miring di kawasan ini umumnya berada di gang-gang padat pemukiman. Ukuran kamarnya pas-pasan, sumpek, dan jauh dari kata tenang karena aktivitas warga yang nyaris tidak pernah putus.
Namun, kos bermodal terbatas di Kebayoran Baru tetap menjadi incaran utama para pekerja muda. Sebab, tinggal di titik strategis ini adalah pilihan logis yang dinilai mampu membereskan tiga masalah terbesar para perantau di ibu kota.
Bebas dari stres dan lelah di jalanan
Masalah nomor satu yang kerap menggerus fisik dan mental para pekerja perantau di Jakarta adalah kemacetan. Bagi mereka yang tinggal di daerah pinggiran demi harga sewa kamar yang murah, perjalanan menuju kantor di Jakarta Selatan adalah ujian kesabaran harian. Berjam-jam terjebak di jalan raya membuat energi sudah habis sebelum hari kerja dimulai.
Hal tersebut pernah dialami oleh Andin (25), seorang perantau dari Jawa Tengah yang bekerja di salah satu perusahaan media di Jakarta.
Andin menceritakan bagaimana ia pernah merasakan lelahnya menempuh perjalanan jauh setiap hari dari kos lamanya di pinggiran kota.
“Dulu saya stres berat sebelum sampai kantor. Harus bangun jam lima pagi, langsung hadapi macet di jalan raya. Sekarang pas pindah ngekos di daerah Kebayoran Baru, meski kamarnya sempit dan agak berisik kalau malam, saya bisa bangun jam tujuh pagi. Fisik dan pikiran jauh lebih segar,” ujar Andin, Rabu (1/6/2026).
Pengakuan Andin nyatanya sejalan dengan realitas lalu lintas ibu kota. Berdasarkan laporan riset global TomTom Traffic Index, Jakarta masuk dalam jajaran kota termacet di dunia.
Pengemudi di Jakarta rata-rata kehilangan waktu sekitar 125 jam per tahun hanya karena terjebak kemacetan pada jam sibuk pagi dan sore.
Tinggal di dalam kawasan Kebayoran Baru memangkas jarak tempuh secara drastis, sehingga para perantau seperti Andin tidak perlu membayar mahal kelelahan mereka dengan waktu istirahat yang terbuang percuma di jalan.
Akses transportasi publik bikin kantong nyaman
Selain menghemat waktu dan tenaga, masalah besar kedua yang diselesaikan oleh kos murah di Kebayoran Baru adalah tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Memiliki sepeda motor atau mobil di Jakarta Selatan sering kali diikuti oleh serangkaian biaya bulanan yang membengkak, mulai dari cicilan kendaraan, anggaran bahan bakar, hingga biaya parkir gedung perkantoran yang sangat mahal.
Menurut Andin, keputusan tinggal di Kebayoran Baru membuatnya berani mengambil langkah ekstrem untuk menghemat pengeluaran bulanannya. Ia memilih untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi sama sekali.
“Kebayoran Baru itu pusat transportasi umum. Dari gang kos, saya cukup jalan kaki beberapa ratus meter sudah sampai di stasiun MRT atau halte Transjakarta. Bahkan untuk liputan atau pergi ke area gang kecil, ada armada JakLingko yang bisa naik gratis,” ungkap Andin.
Kebayoran Baru memang dikelilingi oleh hub transportasi utama seperti Stasiun MRT Blok M BCA, ASEAN, hingga Terminal Blok M. Jaringan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sendiri telah menjadi tulang punggung mobilitas warga dengan jumlah penumpang harian mencapai puluhan ribu orang, menawarkan ketepatan waktu tinggi tanpa hambatan kemacetan.
Keberadaan ekosistem transportasi publik yang lengkap ini membuat perantau seperti Andin bebas bergerak ke seluruh penjuru Jakarta dengan biaya murah, membebaskan gaji bulanan mereka dari beban pengeluaran perawatan kendaraan bermotor.
Di Kebayoran Baru kuliner enak dan murah masih melimpah
Masalah ketiga sekaligus yang paling sering membuat dompet perantau jebol adalah biaya makan. Anggapan umum yang beredar di masyarakat adalah Jakarta Selatan merupakan kawasan serba mahal.
Dikelilingi oleh deretan kafe estetis dan restoran mewah di kawasan Senopati atau Gunawarman, perantau baru yang belum paham medan sering kali terperangkap dalam pengeluaran konsumsi yang tidak terkontrol.
Namun, realitas di lapangan ternyata jauh berbeda dari mitos tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Ola (26), seorang perantau muda yang memiliki hobi berburu kuliner.
Saat dihubungi secara terpisah, Ola menepis anggapan bahwa tinggal di tengah pusat gaya hidup Jakarta Selatan otomatis membuat pengeluaran harian menjadi boros.
“Banyak yang kira tinggal di Kebayoran Baru harus selalu makan di kafe mahal. Padahal sebaliknya, kawasan ini adalah surga makanan rakyat,” kata Ola, Kamis (2/7/2026).
“Di belakang gedung perkantoran atau di gang-gang pemukiman dekat kos, harga makanan malah murah meriah,” imbuhnya.
Ola menyebutkan sejumlah kantong kuliner legendaris yang bersahabat untuk ukuran dompet perantau. Mulai dari pusat jajanan serba ada di Pujasera Blok S, deretan warung tegal di kawasan Melawai dan Cipete yang buka 24 jam, hingga beragam kuliner kaki lima di sekitar Blok M Square.
Keberadaan akses kuliner murah di dekat tempat tinggal ini memungkinkan perantau menyiasati pengeluaran makan tanpa harus mengisolasi diri dari pergaulan anak muda Jakarta Selatan.
“Semua ya balik lagi ke prioritas. Buat perantau dengan gaji pas-pasan seperti saya, tinggal di kos sempit dan berisik di Kebayoran Baru itu adalah pilihan paling masuk akal. Saya tetap bisa makan enak, tabungan tetap aman, dan hidup saya jauh lebih praktis,” tutup Ola.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














