Resign demi Work Life Balance bukan jalan keluar
Belakangan, Meisha menemukan banyak narasi di media sosial maupun media massa perihal pilihan hidup gen Z: ambil risiko resign demi Work Life Balance.
Anehnya, Meisha sama sekali tidak “termakan”: tidak lantas mempengaruhi pilihannya untuk resign dari kantornya di Kebayoran Baru, Jaksel.
“Capek, nangis, ya udah akhirnya cuma kuanggap bagian dari konsekuensi aja,” beber Meisha.
Alih-alih berpikir untuk resign, Meisha sekarang justru berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan (side hustle), sebagaimana yang dilakukan oleh sejumlah temannya. Sebab, di situasi seperti sekarang, belum kena PHK saja sudah untung. Maka, strategi selanjutnya untuk mengamankan hidup adalah mencari pegangan lain (side hustle).
“Kalau ada narasi, ‘Kerja ngoyo-ngoyo ngejar apa, sih?’, aku sih merasa nggak relate ya. Karena emang situasinya menuntut kita buat gini kalau mau survive. Harga yang harus dibayar ya nggak bisa Worl Life Balance,” beber Meisha.
Mitos yang diromantisasi
Obrolan kami terputus ketika Meisha menyadari ternyata sudah menjelang jam 8 malam. Sebelum membayar semangkuk bakso malangnya, ia sempat mengecek ponsel.
Pertama-tama yang ia cek adalah grup kantor, kemudian baru membuka pesan-pesan lain yang masuk dan belum terbaca. Tangisnya sudah benar-benar mereda, lalu ia kembali menyusuri trotoar untuk menuju stasiun MRT.
Dari arah belakang, tampak ia berjalan sembari menundukkan kepala, sembari dua tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Lalu aku terngiang ucapannya sebelum berpamitan: “Work Life Balance itu mitos bagi pekerja urban yang saat ini sedang diromantisasi..”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














