Peluang luas dalam bekerja, tapi harus rela mengorbankan ketenangan mental
Banyaknya pekerjaan yang tersedia di Jakarta menjadi alasan lain. Fatimah mengatakan, penawaran kerja di Jakarta yang bervariasi menjadi salah satu keunggulan, sekalipun kota tersebut menimbulkan tekanan tersendiri.
Bekerja di Jakarta yang hampir tidak pernah tidur, perempuan ini mengatakan dirinya memiliki kesempatan untuk mendapatkan lebih dari satu tawaran pekerjaan dalam satu waktu untuk memaksimalkan potensinya, juga penghasilan.
Side job, kata dia, menjadi mudah didapatkan asalkan memiliki kemampuan dasar sebagai pekerja.
“Lebih luas juga, dalam artian kalau kamu mau cari side job tuh sangat bisa kalau di sini apalagi kalau kamu punya skill basic,” kata dia.
Namun di balik keunggulan tersebut, Fatimah mengaku tidak serta-merta memilih Jakarta untuk menetap dalam waktu lama. Menurut dia, Jakarta hanya tepat dijadikan sebagai kota untuk bekerja.
Selain itu, Fatimah lebih memilih Jogja.
“Kalau kerja sih mungkin iya ya [Jakarta lebih baik], tapi kalau tinggal sih no,” kata dia.
Pasalnya, Jakarta juga memiliki kekurangan yang membuatnya harus menggadaikan kesehatan mental dalam berbagai kesempatan. Ambil contoh, kata dia, pekerja Jakarta yang serba sat set, ramah-tamah seakan-akan tidak tinggal bersama orang-orang di sana. Jauh berbeda dengan Jogja yang dikenal dengan keramahannya.
“Orang-orangnya,” kata Fatimah.
Dengan satu contoh itu saja, ia dapat mengatakan, kesempatan untuk berkarier ditukar dengan ketenangan dirinya yang lebih baik di Jogja. “Dan ketenangannya,” tutup dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













