Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
22 April 2026
A A
Beli produk hp Apple, iPhone

Ilustrasi - Beli produk hp Apple, iPhone (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nilai iPhone sebagai ponsel yang dianggap paling “mewah” tampaknya tidak mudah digeser. Produk Apple ini tidak hanya bisa mempertahankan penggunanya untuk setia, tetapi juga menarik user baru dengan bujukan naik level melalui produknya. Padahal, gaya elite pengguna berbanding terbalik dengan ekonomi, yang bisa jadi sulit.

***

SQ Magazine mencatat Apple dapat mempertahankan kesetiaan penggunaanya di atas 90 persen selama beberapa tahun. Loyalitas pengguna ini, secara spesifik, dilaporkan mencapai angka 92 persen.

Survei yang sama menunjukkan 92 persen tercatat sebagai pengguna iPhone, dengan 48 persen di antaranya mengatakan tidak akan beralih dari ponsel berlogo apel ini.

Dibandingkan dengan pengguna Android, misal Samsung, pengguna iPhone masih lebih unggul pada 92 persen, sedang Samsung hanya 77 persen. Hal ini menunjukkan kesan berbeda dari iPhone sebagai ponsel yang lebih bergengsi.

Tak ayal, mereka yang belum memilikinya berbondong-bondong untuk membeli. Padahal, soal naik kelas, harga iPhone keluaran terbaru pun tidak bisa membelinya.

Beli iPhone karena gengsi ingin naik kelas

Fenomena ini menuntun pembelian iPhone meningkat. Berdasarkan data Business of Apps, pendapatan Apple meningkat 6,4 persen dari tahun sebelumnya, menjadi 416 miliar dolar AS pada tahun 2025. 

Penjualan ponsel keluaran Apple ini tercatat menyumbangkan 50 persen dari total pendapatan Apple pada tahun 2025.Penjualan diperkirakan mencapai 247 juta unit.

Hingga tahun 2025, lebih dari 1,5 miliar unit iPhone tercatat aktif di seluruh dunia.

Meski sebenarnya, tidak ada yang salah dengan membeli iPhone. Akan tetapi, pembelian ponsel ini mulai disalahartikan bukan untuk spesifikasinya yang unggul. Melainkan, untuk nilai “gengsi” yang tidak didapatkan dari ponsel lainnya.

Hauntzer (27) mengaku, mulai muak melihat fenomena ini dari orang-orang di sekelilingnya. Bekerja sebagai barista di coffee shop, pemuda ini mengatakan, mayoritas orang yang ditemuinya membeli iPhone untuk mengamankan status. 

Fitur-fitur unggulan yang ditawarkan ponsel itu dikesampingkan.

“Mayoritas orang beli iPhone itu bukan cuma soal spek, tapi soal rasa aman dan status,” kata dia kepada Mojok, Kamis (16/4/2026).

Menurut dia, alasan ini mengacu kepada rasa aman sebab ekosistem Apple yang terbilang rapi. Dilihat dari fitur kamera, misal, kualitasnya jarang mengalami penurunan sebagaimana pada ponsel Android. 

Iklan

Sementara itu, keamanan status merupakan hasil dari kesalahan tujuan sebagian orang yang menganggap iPhone sebagai ponsel bergengsi. Karena itu, membelinya dipahami sebagai kesempatan naik kelas. Artinya, mereka bisa dipandang menempati status sosial yang lebih tinggi daripada sebelumnya hanya dengan memiliki ponsel ini.

“Aman karena ekosistemnya rapi, kamera konsisten, jarang aneh-aneh. Status karena ya, di mata banyak orang, iPhone masih kebaca ‘naik level’,” ujar dia.

Muak dengan pengguna iPhone haus validasi

Pemuda asal Semarang ini mengatakan, alasan yang kedua adalah kekeliruan terbesar pengguna iPhone. Ia menilai, alasan ini mengarah pada kebutuhan akan validasi.  Mereka ingin terlihat lebih baik, meskipun kenyataannya justru sebaliknya.

“Yang agak keliru itu ketika alasannya cuma buat validasi,” kata dia.

“Kalau beli karena kebutuhan dan cocok, sah, tapi kalau beli biar ‘kelihatan’, padahal kondisi belum siap, itu yang sering jadi masalah HP-nya flagship, hidupnya masih buffering,” kata dia menambahkan.

Ketidaksesuaian ini memunculkan ironi tersendiri. Menurut dia, iPhone tidak serta-merta dapat dijadikan simbol naik kelas. Meski memang, sebagai salah satu dari barang yang selalu dibawa dan diperlihatkan lebih dulu, sebagian orang akan lebih mudah menilai orang lain melalui penampilannya.

Salah satunya, melalui ponsel yang digunakan.

Bagi pengguna iPhone, ini menjadi kesempatan tersendiri untuk tampil.

“Soal simbol naik kelas, karena di realita sosial kita, barang masih sering jadi shortcut penilaian. Orang belum kenal kita, yang dilihat duluan ya yang kelihatan HP, outfit, tempat nongkrong. Jadi wajar kalau iPhone kebawa jadi simbol,” kata dia. 

Namun begitu, Hauntzer bilang, simbol ini tidak menjadi bukti konkret kelas seseorang. Justru, sebagian orang yang menggunakan iPhone masih tertatih-tatih untuk bertahan hidup dari hari ke hari. 

Ia menilai, inilah yang menyebabkan ponsel tidak bisa menjadi jalan cepat untuk dianggap lebih berkelas.

“Bisa jadi simbol, tapi bukan bukti. Naik kelas itu harusnya keliatan dari cara mikir, cara ngatur uang, cara bawa diri. iPhone bisa bantu ‘first impression’, tapi yang bikin orang stay respect itu isi kepalanya, bukan logo di belakang HP,” kata dia.

Menyaksikan langsung tingkah user ponsel elite, dompet sulit di coffee shop

Sebagai barista yang bertemu banyak orang di coffee shop, Hauntzer juga menemukan langsung fenomena ini. Ia menyaksikan bagaimana tidak semua pengguna iPhone bersifat bijak, justru menjadikan ponselnya sebagai “tameng” sosial semata.

Dari para pengunjung yang silih berdatangan ke coffee shop tempatnya bekerja di Semarang, ia mengamati para pengguna iPhone yang tidak menunjukkan kelas yang sesuai.

Artinya, katakanlah pengguna iPhone keluaran terbaru, yakni iPhone 17 dengan harga saat ini yang dibanderol sekitar Rp17 juta. Dengan kemampuan membeli ponsel harga tersebut, Hauntzer mengasumsikan, seseorang sudah berada dalam kapasitas ekonomi yang mampu.

Namun kenyataannya, mereka tidak jarang tidak mencerminkan hal tersebut. Bahkan, sebagian yang ditemuinya menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik. 

“Kalau dari sudut pandang barista, jujur keliatan banget. Ada yang pegang iPhone terus duduk lama, kerja, meeting itu kelihatan value-nya. Tapi, ada juga yang pegang iPhone cuma buat foto kopi 10 menit terus cabut, bahkan kadang lebih ribet bayar,” kata dia.

“Jadi ya, iPhone bisa bikin first impression naik, tapi setelah itu kelihatan kok mana yang beneran ‘naik kelas’, mana yang cuma kelihatan doang,” tambahnya.

Ini juga yang membuat Hauntzer tidak termakan bujuk rayu menjadi salah satu pengguna iPhone. Ia tidak menganggap penting untuk memiliki ponsel yang bergengsi, sebab ada kebutuhan hidup yang perlu diprioritaskan.

Ponsel keluaran Amerika Serikat ini, kata dia, memang tampak keren. Tidak heran juga, ia bisa memberi kesan pertama yang meningkatkan kelas penggunanya. Akan tetapi, Hauntzer lebih memilih untuk tidak mengesampingkan kebutuhan hidup hanya untuk bergaya,

“Aku pribadi bukan user iPhone, bukan karena gak suka lebih ke prioritas aja. Selama kerjaan masih bisa jalan, kamera cukup, dan dompet gak ngos-ngosan, itu udah cukup. iPhone keren, tapi buat aku sekarang masih nice to have, belum must have,” tutup dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: AppleApple iPhonebeli iPhonebeli iPhone tunaicara pilih iphonecicilan iPhonehape appleiPhoneproduk apple
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z
Catatan

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android
Catatan

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO
Sehari-hari

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026
Pertamax Turbo Naik, Curiga Pertamax dan Pertalite Langka Stres

Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka

19 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.