ADVERTISEMENT

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Terjebak dalam pilihan menjadi orang kaya palsu, padahal dompet menjerit 

Pada akhirnya banyak orang, terutama di kalangan kelas menengah, terjebak dalam pilihan menjadi orang kaya palsu. Atau dalam istilah yang belakangan ramai diperbincangkan: fake rich middle class. 

Tanti menjelaskan, orang kaya palsu ini adalah kelompok masyarakat yang secara kasat mata terlihat mapan secara gaya hidup (sesuai standar sukses). 

Mereka mampu memiliki gawai terbaru, sering berlibur, atau aktif mengunjungi kafe dan pusat perbelanjaan. Ya wajar saja jika data menyebut adanya peningkatan daya beli masyarakat Indonesia. 

Akan tetapi, realitasnya mereka sebenarnya memiliki ketahanan finansial yang lemah karena minim tabungan, investasi, dan perlindungan keuangan. Sampai-sampai muncul proyeksi kalau 10 tahun nanti, akan ada ratusan WNI yang menua dalam keadaan miskin, seperti dalam tulisan, “Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara“.

Tanti mengakui, tuntutan sosial dan gengsi atas standar hidup sukses memang bukan satu-satunya faktor. Selain itu ada juga faktor pertumbuhan ekonomi. Lengkap sudah dorongan untuk menjadi orang kaya palsu: mengutamakan konsumsi dibandingkan pembentukan aset.

“Ketika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami lifestyle inflation, yaitu peningkatan standar hidup yang mengikuti kenaikan pendapatan,” ujar Tanti. Hanya saja tidak diikuti dengan kesadaran bahwa mereka butuh jaring pengaman di masa tua. 

“Di sisi lain, akses terhadap kredit konsumsi seperti kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay-later semakin mudah,” sambung Tanti.

Orang kaya palsu nggak mikirin tabungan?

Masalah lain di balik munculnya kelompok orang kaya palsu, kata Tanti, adalah rendahnya literasi keuangan.Banyak masyarakat belum memiliki pemahaman memadai mengenai pentingnya dana darurat, tabungan, pengelolaan utang, maupun investasi jangka menengah maupun jangka panjang.

“Tanpa tabungan, investasi, atau kepemilikan aset produktif, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan,” tegas Tanti. 

Meski kenyataan tidak sepenuhnya demikian. Mojok menemukan fakta bahwa sebenarnya tidak sedikit masyarakat yang sudah mulai menyadari pentingnya dana darurat atau investasi jangka panjang. Misalnya dengan menyiapkan tabungan likuid. 

Akan tetapi, realitas yang dihadapi oleh sebagian banyak masyarakat Indonesia: uang yang dikumpulkan dari kerja saja masih hanya cukup atau bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Susah sekali bagi mereka untuk memiliki tabungan, seperti diuraikan dalam tulisan, “Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup“.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: IPB University

BACA JUGA: Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.