Harga mahal yang harus dibayar untuk disebut pelari kalcer
Kesempatan memamerkan lari menjadi penting apabila menggunakan sudut pandang pelari kalcer. Raufan mengatakan, pelari kalcer mengutamakan gengsi, utamanya dalam komunitas lari.
Ketika tergabung dalam komunitas pelari kalcer, kata dia, penampilan lari diperhatikan. Salah satunya, sepatu lari haruslah yang bernilai mahal dan “culture”.
“Menjadi penting itu karena gengsinya tinggi. Apalagi tergabung dalam komunitas dengan teman-teman yang menggunakan sepatu mahal dan bagus, kalcer,” kata Raufan.
Dia merincikan, rata-rata outfit yang digunakan oleh pelari kalcer antara lain brand Asics, Adidas, dan New Balance untuk sepatu. Manta Liberta, SUVS, Duraking, Aspro, dan Asics untuk baju. Oakley dan Goodr untuk kacamata.
Namun demikian, outfit yang disebutkan tidak bersifat mutlak. Merek ini bersumber dari pengamatan Raufan dalam komunitas pelari kalcer. Pemuda asal Sumatra ini juga mengatakan, standar tersebut tidak diwajibkan dalam klub lari.
Hanya saja, pembahasan seputar itu tentu ada.
“Sebenarnya nggak ada peraturan kayak gitu yang tertulis. Cuma ketika ngumpul after lari, obrolan nggak jauh-jauh dari pembahasan outfit lari,” kata dia.
Akibatnya, mau tidak mau, pelari kalcer menjaga penampilan yang sama dengan titelnya. Ini juga berpengaruh dalam rasa percaya diri, meski terkesan mengikuti tuntutan tren yang berkembang.
“Semisal kita nggak pakai outfit kalcer, kita jadi minder mau ngumpul bareng komunitas. Kayak mau nggak mau dituntut oleh tren yang sedang viral,” tambahnya.
Dosen Antropologi FISIP Universitas Airlangga (Unair), Rizky Sugianto Putri, menilai tren ini positif. Meskipun memunculkan kesan fear of missing out atau FOMO di kalangan generasi muda, dosen muda yang dipanggil Kiki ini menyorotinya sebagai FOMO yang berpengaruh baik.
“Jadi aku membuat istilah ‘FOMO positivity’ yang mana generasi muda menilai FOMO dalam konteks membawa pengaruh baik bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. FOMO dalam hal olahraga, tentu saja, adalah hal positif,” kata dia, dikutip dari laman Unair.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sempat “Ngangong” Saat Pertama Kali Nonton Olahraga Panahan, Ternyata Punya Teropong Sepenting Itu dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














