Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
27 Februari 2026
A A
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Ilustrasi - Gen Z photobox di Tugu Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ibadah tidak terbatas pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Bagi anak muda yang tergolong gen Z, kata “ibadah” juga digunakan untuk kegiatan yang dilakukan dengan sepenuh hati, seperti mengantre giliran photobox di Tugu Jogja setelah sahur.

***

Melalui konten yang berseliweran di TikTok, bisa dilihat ada tren baru yang ramai belakangan ini di Jogja. Tren yang tidak habis pikir akan dilakukan oleh siapapun, termasuk saya, yang sudah berdiam di Jogja selama tiga tahun.

Saya memahami kalau Tugu punya daya tarik tersendiri sebagai ikon Jogja. Akan tetapi, yang tidak saya pahami adalah kerelaan orang-orang untuk mengantre panjang demi foto berlatarkan Tugu Jogja pada waktu dini hari (setelah sahur) saat saya akan lebih memilih kembali tidur.

Keheranan ini juga diutarakan Ifroh (23) yang melihat tren ini bersama saya. “Seumur-umur di Jogja, kayaknya aku nggak kepikiran bakal foto di Tugu begitu,” katanya, Kamis (26/2/2026).

“Menurutku, Tugu oke. Turis banget, tapi pergi sendiri buat foto di Tugu, aku nggak,” tambahnya.

Tapi, Ifroh hanyalah segelintir yang berpikir begitu. Di mata sebagian lainnya, terutama gen Z, tren berfoto dengan photobox di Tugu Jogja saat sahur tetap punya daya tariknya sendiri, sekalipun harus menunggu berjam-jam dan menahan kantuk.

@fathur.azhari gen z slalu ada aja gebra gebrak nya 🧠 #ramadhan ♬ Marhaban Ya Ramadhan (feat. Anti) (Album Version) – Haddad Alwi

  

Ibadah photobox setelah sahur, rela menunggu setengah jam demi sekali foto

Awa (20) adalah salah satu yang tetap tertarik untuk mengambil foto melalui photobox di Tugu Jogja. Ia rela datang setelah sahur ke Monumen Tugu Jogja bersama teman-temannya demi photobox ini.

Fotonya dilakukan secara otomatis dengan kamera yang disiapkan dalam photobox. Namun yang menarik, bukan latar polos yang digunakan dalam foto ini. Letaknya yang berada persis di sebelah barat Tugu Jogja membuat Monumen Tugu menjadi latar foto.

Hasil photobox dapat langsung dicetak dan dikirim melalui website. Tetapi masalahnya, photobox yang buka 24 jam ini punya antrean panjang yang bahkan membuat Awa dan teman-temannya harus menunggu cukup lama  demi sekali foto.

Padahal, Awa sudah bersiasat untuk tidak datang tepat setelah sahur, melainkan menunggu waktu subuh sekaligus, karena melihat orang-orang di medsos yang meramaikan persis setelah sahur. Ia kira, mengulur waktu akan memotong antrean, tapi ternyata tidak berpengaruh sama sekali.

 

View this post on Instagram

 

Iklan

A post shared by KULINERAN JOGJA-SOLO & SEKITARNYA (@makandiluaryuk_)

“Sekitar jam 5 pagi setelah subuh, kami ke sana naik motor dengan ekspektasi photobox-nya masih sepi karena datang setelah subuh,” kata Awa, Selasa (24/2/2026).

“Ternyata, sudah sangat ramai orang mengantre untuk foto,” tambahnya.

Dilihat dari hasil foto dan video yang merekam perjuangannya saja, testimoni Awa terbukti dengan antrean yang mengular dari orang-orang yang ingin melakukan hal yang sama sepertinya, yaitu beribadah photobox.

Oleh karena itu, Awa bilang, dirinya menghabiskan tidak sampai setengah jam—terbilang sudah cukup cepat menurutnya dibanding biasanya. “Kalau setelah subuh itu mungkin nggak selama biasanya ya,” katanya mengingat-ingat durasi tunggunya saat itu.

Namun, menurutnya, tidak terlalu lama seperti ketika ibadah ini semakin viral.

“Soalnya, kalau biasanya sekitar 30 menit lebih lah,” kata dia. 

Semua karena FOMO, tetapi bisa abadikan momen hanya dengan Rp35 ribu

Alasan Awa dan teman-temannya sanggup menunggu hampir 30 menit—yang masih dianggap lebih baik daripada durasi tunggu biasanya selama lebih dari 30 menit—adalah fear of missing out atau biasa dikenali sebagai FOMO.

@spotingjogja Kegiatan Gen Z abis sahur adalah antri photobox😭🔥 #gen z #photobox #jogja #fyp ♬ SUBWAY SURFERS (Main Theme) – Subway Surfers

 

FOMO bisa membuat seseorang punya perasaan cemas, takut, atau gelisah karena tertinggal dari tren semacam ini. Biasanya, disebabkan juga melihat orang-orang yang di media sosial yang terlihat menyenangkan melakukannya.

Alasan lain, seseorang bisa FOMO, adalah ingin terus mengikuti tren agar tetap keren. 

Itulah kira-kira yang Awa katakan. Sebagai gen Z, Awa tidak ingin ketinggalan.

“Aku dan teman-teman tuh juga kaum FOMO yang pengin ikut tren sekarang gitu,” katanya.

“Kita tertarik tuh karena emang sekarang kan sedang tren ya photobox di anak-anak remaja, terus nggak sengaja lewat FYP photobox latar Tugu sepi kalau habis subuh. Makanya, kita ikut-ikutan gitu,” jelasnya menambahkan. 

Selain itu, Indonesia Expat melihat tren photobox sebagai kegiatan sosial yang menyenangkan dan terjangkau. Seperti halnya photobox di Tugu yang hanya merogoh kocek Rap35 ribu per foto.

Tidak hanya memotret foto sebagaimana umumnya, photobox ini juga mengabadikan momen dalam visual yang menjadi salah satu kecintaan gen Z sebagai generasi media sosial. Hasilnya setelah itu juga dapat dikembalikan ke media sosial untuk “memberi makan” konten.

Photobox di Tugu Jogja saat Ramadan, meracuni turis sampai akamsi

Terlebih lagi, menurut Awa, tren ini bukan hanya berhasil membuatnya keluar rumah bersama teman-teman dan ikut-ikutan. Perempuan asal Jogja ini bilang, sebagai akamsi (anak kampung sini), ibadah photobox di Monumen Tugu bisa menarik banyak orang.

Perkiraan Awa sebagai akamsi Jogja yang sudah sehari-hari melalui Tugu, bahkan tidak pernah terlintas pikiran bahwa berfoto di Tugu setelah sahur saat Ramadan akan menjadi sebuah tren, sebab hadirnya photobox ini cukup unik.

Memang, bukan satu dua kali ada photobox di Tugu. Sebelumnya, juga ada photobox yang dicetak dalam bentuk koran sebagai nilai uniknya. Namun kali ini, bukan hanya Tugu yang menjadi nilai “jual”, nilai kebersamaan dan perjuangan saat Ramadan juga yang membuatnya semakin meriah dan diminati.

“Unik aja sih, dan juga bisa buat kenang-kenangan sama teman-teman,” kata Awa.

Bagaimana tidak begitu, orang-orang yang datang untuk photobox ini tidak mengenakan pakaian rapi atau well-dressed seperti umumnya. Justru, mereka datang mengenakan baju ibadah: mukena atau koko seadanya. Makin menekankan konsep ibadah saat Ramadan.

@spotingjogja Kegiatan Gen Z abis sahur adalah antri photobox😭🔥 #gen z #photobox #jogja #fyp ♬ SUBWAY SURFERS (Main Theme) – Subway Surfers

 

Karena inilah, Awa bilang, dia sendiri tidak menduga antusiasme yang sama datang dari akamsi Jogja yang banyak ditemuinya dalam antrean—sebagai sesama warga, Awa bisa mengenali ini dengan mudah. 

Akan tetapi, orang-orang asal Jogja yang tidak mau ketinggalan bukan sesuatu yang biasa bagi Awa. Khususnya, gen Z di Jogja yang juga tidak sedikit jumlahnya. Ia bilang, mereka sebenarnya sering ingin mengikuti tren, tetapi terhambat rasa malas melihat keharusan menunggu lebih dulu.

“Antusiasme akamsi bener-bener di luar ekspektasi. Menurut aku ya, sebenarnya akamsi Jogja itu mau photobox di sana juga, cuma mungkin jikalau hari biasa kan sangat amat ramai ya. Bisa antre lama itu yang bikin males,” katanya.

Namun dengan tren ini yang meledak, tidak mungkin ada yang ingin ketinggalan. Dengan seluruh konsep yang sangat mendukung tema Ramadan, tren photobox setelah sahur di Tugu Jogja menjadi salah satu keharusan.“Nah, setelah tren itu muncul jadi sebuah kesempatan sih buat saya dan teman-teman, dan sangat pas timing-nya dengan Ramadan,” tandasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2026 oleh

Tags: cerita ramadanGen Zgen z jogjagen Z photoboxhobi gen zphotoboxphotobox di Jogjapilihan redaksirekomendasi photobox di JogjaSahur on The Roadtempat wisata di jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO
Eksplor

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) MOJOK.CO
Sehari-hari

Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji

3 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO
Esai

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Kisah pemilik Yamaha Fazzio hitam di Jogja. MOJOK.CO

Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat

30 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Inisiatif warga Dusun Kedungrong, Samigaluh, Kulon Progo, lewat PLTMH membuat dusun mereka tetap. Tak takut pemadaman listrik MOJOK.CO

Inisiatif dan Semangat Handarbeni Warga Kedungrong Kulon Progo, Bikin Dusun “Tak Terdampak” Pemadaman Listrik

2 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.