Laporan dari Deloitte Global 2026 Gen Z and Millenial Survei menunjukkan anak muda kini punya cara pandang karier yang berbeda. Mereka sudah tak melihat jabatan tinggi sebagai sesuatu yang menggiurkan, tapi lebih suka pertumbuhan yang bertahap.
Dengan kata lain, mereka mereka tidak keberatan menunda promosi jabatan guna memperbanyak pengalaman yang membawanya pada kesuksesan jangka panjang. Intinya, mereka lebih mengutamakan stabilitas, keterampilan, dan kesejahteraan dalam hidup daripada kemajuan karier.
“Temuan tahun ini menunjukkan bahwa generasi ini mudah beradaptasi, pragmatis, dan memiliki tujuan yang jelas dalam mencapai kemajuan, bahkan ketika ekonomi dan perubahan teknologi yang pesat membuat tantangan hidup jadi semakin berat,” ujar Chief People & Purpose Officer Global Deloitte, Elizabeth Faber dikutip Senin (18/5/2026).
Bukan tanpa alasan, laporan Deloitte menjelaskan kalau tren ‘mungkin nanti’—termasuk naik jabatan pada anak muda dipengaruhi oleh tekanan biaya hidup. Dari 22.500 responden yang terdiri dari generasi Z dan milenial di 44 negara, hanya 6 persen dari Gen Z dan milenial yang mau mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan dari karier.
Sementara itu, sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial memilih menunda keputusan penting dalam hidup, seperti memulai keluarga, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena situasi keuangan mereka.
Anak muda pilih side job daripada naik jabatan
Fani Brahmantio (26) adalah salah satu orang yang memilih stabilitas dan kesejahteraan dalam hidup. Alumnus Universitas Sriwijaya (UNSRI) ini memutuskan buka toko kelontong dekat rumahnya, alih-alih melanjutkan kariernya sebagai pegawai bank di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Pada dasarnya aku orang yang suka berbisnis dan tipikal orang yang nggak bisa stuck di satu tempat. Kemudian aku sadar, dunia bisnis memang tempatku dan aku juga menyukai dunia kreatif,” kata Fani.
Seperti yang dilaporkan Deloitte, selain pragmatis, anak muda cenderung ambisius dan realistis memikirkan keuangannya. Alih-alih terpatok pada gaji bulanan yang pasti serta karier yang berjenjang, Fani justru mencari penghasilan lain.
Dengan membuka toko kelontong, ia dapat fleksibel mengambil tugas lain seperti kerja remote. Salah satunya menjadi social media manager dan influencer outreach dari sebuah brand di luar negeri.
Lewat side hustle seperti sekarang, tak pelak, penghasilannya pun jadi lebih besar ketimbang pegawai bank dulu. Pada akhirnya, Fani pun termakan oleh kalimat anak muda sekarang: mending banyakin side job daripada naik jabatan karena tanggung jawabnya pasti ikut nambah.
Anak muda tolak tanggung jawab berlebih
Begitu pula Abdi Nastiar (23), salah satu anak muda yang melepaskan promosi jabatannya di perusahaan Kereta Api Indonesia (KAI). Abdi yang awalnya bekerja sebagai pramugara jalur Solo-Jakarta, setahun kemudian diangkat sebagai ketua tim.
Namun, baru beberapa bulan menjabat, pemuda asal Solo itu memutuskan resign. Selain karena tanggung jawabnya yang berat, Abdi berujar lingkungan kerjanya juga kurang nyaman.
“Sebenarnya kalau soal gaji lumayan, malah lebih besar dari yang sebelumnya. Sekitar Rp5 juta, tapi fisik dan mental jadi tak karuan. Seringkali aku harus menginap di Jakarta dengan biaya hidup yang mahal. Bukannya cepat kaya, tabunganku malah sering minus dan harus nombok karena kerjanya harus bolak-balik Solo-Jakarta,” jelas Abdi.
Pada akhirnya, Abdi memutuskan resign dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. Ia memilih menjaga kesehatan mentalnya ketimbang naik jabatan.
“Aku merasa jenuh dan nggak berkembang, seperti hampa dan kehilangan sesuatu dalam diri sejak dari Jakarta,” ujar Abdi.
Kini, Abdi justru menemukan jalan lain dengan bekerja sebagai fotografer di Bali. Bahkan ia mendapat income yang lumayan, yakni sekitar Rp15 juta dalam sebulan dari satu proyek yang ia peroleh. Ini belum pekerjaan lainnya, seperti editor atau content creator.
Efek dari tekanan ekonomi dan perubahan teknologi
Kejadian yang dialami oleh Fani dan Abdi juga membuktikan temuan Deloitte, bahwa sebagian anak muda lebih memprioritaskan kemajuan yang stabil daripada promosi cepat. 21 persen Gen Z dan 20 persen milenial bahkan bersedia untuk pindah posisi atau mundur selangkah untuk menemukan peran yang tepat.
Sebab anak muda alias Gen Z dan milenial kini tak mau menanggung stres dan tanggung jawab yang berlebihan. Mereka khawatir tugas seorang pemimpin bikin mereka kelelahan, sehingga tidak bisa mewujudkan work life balance walaupun kehadiran AI sebenarnya dinilai sudah cukup membantu.
Masalahnya diperparah dengan fenomena kelelahan digital akibat penggunaan teknologi yang dipakai terus-menerus, pergantian tools dan beragam platform yang punya karakter masing-masing.
Kejadian ini dialami langsung oleh Dewi Apriani (30). Lulusan S2 yang pernah kerja di sebuah perusahaan IT itu, kini menyibukkan diri menjadi peternak ayam di Kabupaten Bogor.
Dewi berujar pernah berdiskusi dengan atasannya soal masa depan teknologi dan energi listrik di tengah maraknya kasus PHK. Saat itulah dia berpikir, pekerjaan apa yang sekiranya tidak bisa digantikan oleh robot maupun AI tapi tetap dibutuhkan manusia yakni sektor pangan.
Anak muda pilih bergerak maju dengan bijaksana
Apa yang dilakukan Dewi bukan tanpa alasan. Ia mengaku sudah mempertimbangkan betul pilihannya. Bahkan menurutnya, sekarang ia lebih bahagia dengan beternak dan mendirikan DeW Farm—usaha urban farming yang turut mengintegrasikan budidaya sayur dan buah.
“Segala sesuatu yang hidup tidak akan punah. Maka saya memilih fokus pada hal yang berkelanjutan: pangan,” ucap lulusan S2 IT tersebut.
Prinsip Dewi senada dengan apa yang dikatakan Elizabeth Faber, bahwa anak muda cenderung beradaptasi dengan menuntut ketahanan sejak dini dan terus menerus. Generasi ini, kata dia, memilih bergerak maju dengan bijaksana, selektif, dan sesuai keinginan mereka sendiri.
“Ini menggarisbawahi realitas yang lebih luas: apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan diharapkan dari pekerjaan oleh generasi, akan terus berkembang. Dan organisasi yang mampu mengikuti perkembangan tersebut adalah organisasi yang bersedia berkembang bersama mereka,” tegas Elizabeth.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














