Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Sering Dikira Montir sampai Petugas Pertamina, Lulusan Unpad Ini Sebetulnya Punya Perpustakaan Gratis di Pinggiran Sungai Jakarta Timur

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
10 Juni 2026
A A
Edi Dimyati, alumnus Unpad yang mendirikan perpustakaan di Jakarta Timur. MOJOK.CO

ilustrasi - Edi Dimyati, pustakawan yang mendirikan Taman Baca Kampung Buku. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat mengayuh sepeda kargo dengan muatan buku seberat 40 kilogram, Edi Dimyati sering menjadi sorotan warga di sekitaran Jakarta Timur. Apalagi, baju yang dia pakai tampak mencolok dengan warna oranye dan model coverall. Tak pelak, pemuda lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) itu sering dikira petugas PLN, pekerja konstruksi, montir, sampai pegawai Pertamina.

Kenangan bersama Majalah Bobo dan komik karya Tatang S

Menepis dugaan di atas, Edi adalah pegiat literasi sekaligus pustakawan yang tinggal di kawasan pinggir Jakarta Timur. Ia berujar kecintaannya terhadap buku sudah ada sejak kecil. Melihat Edi yang tahan membaca buku berlama-lama, bikin orang tuanya langganan majalah Bobo tiap minggunya. Dari sana, Edi dapat menyerap berbagai pengetahuan umum baik berupa komik maupun kuis.

“Nah, biasanya di halaman tengah itu ada kuis pelajaran kelas 1-6 SD dan diselesaikan bersama-sama dengan orang tua. Jadi ada pendampingan juga,” kata Edi. 

Lewat kebiasaan tersebut, Edi punya keinginan untuk membuat perpustakaan pribadi. Ide itu muncul saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar (SD). Edi bahkan sering menyewakan buku-bukunya di sekolah. Selain berbagi ilmu, Edi juga dapat uang jajan dari sana. 

Edi Dimyati lulusan Unpad. MOJOK.CO
Edi Dimyati, pegiat literasi dan kargo baca pakai sepeda. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dulu, yang paling banyak disewa itu seperti komik karya Tatang Suhenra,” ujar Edi mengenang masa kecilnya.

Keberadaan perpustakaan umum untuk mengakses buku gratis, kata Edi, dulu masih langka. Tak pelak, jasa sewanya pun diminati banyak orang. Bahkan, upahnya bisa ditabung kembali untuk membeli buku baru.

“Kalaupun ada, cuma satu dan itu jauh dari tempat tinggal saya di Kampung Melayu, Jakarta Timur atau saya harus pergi ke Gramedia Matraman yang sudah cukup populer,” ucap Edi.

Akses baca buku gratis di Jakarta Timur masih terbatas

Kebiasaan membaca itu tetap berlanjut saat Edi duduk di bangku SMA, Jakarta Timur. Bahkan, ia sering nongkrong di sebuah perpustakaan swasembada tempat pamannya bekerja. Dari situlah Edi berpikir, betapa nikmatnya bisa kerja di perpustakaan dan membaca buku secara gratis.

“Berkaca dari latar belakang paman saya yang kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan, saya pun mengikuti jejaknya,” kata Edi yang akhirnya diterima di Universitas Padjadjaran (Unpad) tahun 1996.

Tapi sebetulnya, Jurusan Ilmu Perpustakaan adalah pilihan ketiganya. Edi yang tergolong siswa jurusan IPA itu awalnya memilih Jurusan Kimia dan Penerbangan di Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Seorang ibu dan anak membaca buku di Jakarta Timur. MOJOK.CO
Pengunjung umum di Taman Baca Kampung Buku, Jakarta Timur. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Namun, ia malah diterima di Jurusan Ilmu Perpustakaan Unpad yang notabenenya masuk peminatan IPS. Meski ada sedikit rasa kecewa, Edi tetap bersyukur karena jurusan itu masih dalam kategori ilmu yang ia sukai. 

“Saat kuliah, saya kira cuma diajari menyampul buku, bikin label dan katalog, sama tata cara menata buku di rak. Eh ternyata dengan baca buku itu kami seperti memegang informasi penting dan mahal. Ketika orang masih bingung mau mencari informasi dan nggak ada, kami yang jual,” ujar Edi bangga.

“Oleh karena itu, bagi saya, tugas pustakawan ibarat mengurai benang kusut. Setelah terurai, kami merasa menang dan menjual informasi mahal yang akan dibeli orang,” jelas lulusan Unpad tahun 2001 itu yang kemudian kembali ke tempat tinggalnya di Jakarta Timur.

Buka perpustakaan dan les gratis di Jakarta Timur

Setelah lulus kuliah dari Unpad, Edi berharap bisa bekerja di media, karena ia yakin banyak lulusan dari Jurusan Ilmu Perpustakaan yang akan memadati bidang tersebut. Apalagi, mereka punya ilmu pengetahuan yang lebih banyak.

Iklan

“Bahkan seandainya kalau saya diterima jadi office boy pun saya mau, asal kerjanya di media yang ada perpustakaannya. Yang penting, bisa mengakses buku secara gratis,” tegas Edi.

Tapi pada akhirnya, tepat di tahun 2010, Edi memilih jalan lain. Sesuatu yang jarang orang pikirkan sekaligus mimpi yang sebenarnya sudah ada sejak dia kecil, yakni membuat perpustakaan pribadi yang dapat diakses oleh umum.

Taman Baca di Jakarta Timur. MOJOK.CO
Taman Baca Kampung Buku di Jakarta Timur. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Edi pun mendirikan Taman Baca Kampung Buku di rumahnya, Jalan Abdulrahman, Gang Rukun RT 15 RW No.56, Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur, yang diapit oleh dua aliran sungai. Setidaknya, ada 4 ribu lebih buku bacaan mulai dari anak-anak hingga dewasa yang Edi sediakan.

“Mereka bisa baca di tempat atau meminjam secara gratis dengan jangka waktu 2 minggu. Nggak perlu pakai kartu anggota, nanti malah ribet,” jelas Edi yang tidak takut jika bukunya hilang tak kembali.

Selain meminjamkan buku secara gratis, Edi dan istrinya juga membuka ruang diskusi dan tempat belajar non formal tanpa biaya sepeser pun, “anak-anak biasanya ke sini sore saat weekdays,” kata Edi membeberkan fungsi ruangan di lantai 2.

Sesekali Edi juga jemput bola ke sekolah-sekolah untuk menanamkan budaya literasi ke para siswa. Kegiatan itu ia lakoni bersama sepeda yang ia sulap menjadi sepeda kargo baca pada tahun 2017. Sembari gowes dan membawa ratusan buku, Edi siap menghibur anak-anak dengan buku.

Mengalahkan kemalasan dalam diri

Tak bisa dipungkiri, sejak 2010 hingga sekarang, Edi pernah mengalami masa pasang surut, khususnya dalam menghadapi dirinya sendiri. Sesekali, Edi pernah merasa lelah dan ingin menyerah. Bahkan ibunya pun bertanya-tanya untuk apa Edi melakukan semua ini? 

Namun Edi tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses gratis oleh semua orang. Jangan sampai ada orang yang merasa terbebani untuk membeli buku bacaan karena mahal.

Sepeda kargo baca. MOJOK.CO
Sepeda kargo baca milik Edi Dimyati yang dipakai dia berkeliling ke sekitaran Jakarta Timur. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Pemerintah mau meningkatkan minat baca, tapi buku-bukunya mahal karena pajak, harga kertas, dan faktor lainnya. Makanya sebagai pemustaka sekaligus pembaca, saya memberi pilihan lain bahwa mengakses buku bisa dilakukan dengan pergi ke perpustakaan atau ke tempat saya (Taman Baca Kampung Buku),”

“Walaupun tetap harus bayar ongkos perjalanan kalau pakai transportasi umum,” kelakar Edi.

Perlahan-lahan, masyarakat pun mulai mengenal Edi baik dari Taman Baca Kampung Buku miliknya di Jakarta Timur dan aktivitasnya menggunakan sepeda kargo bacanya dengan baju khas coverall-nya. Rumahnya pun mulai ramai dikunjungi masyarakat umum, tak terkecuali oleh emak-emak, teman dari ibunya yang sempat ragu dengan niatnya. Kini, Edi bisa tersenyum sumringah.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2026 oleh

Tags: alumnus UnpadEdi Dimyatiilmu perpustakaanjakarta timurliterasipegiat literasiprofil Edi Dimyatisepeda kargo bacaTaman Baca Kampung Bukuunpad
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Edi Dimyati. MOJOK.CO
Bidikan

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
fresh graduate dari UNPAD kerja di Jakarta. MOJOK.CO
Liputan

Sering Ditolak Magang di Jakarta meski Bermodal Kampus Top, Ternyata “Life After Graduation” Memang Seberat Itu

28 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Pesta Literasi Mojok.co
Kilas

Kupas Kreativitas di Era Teknologi, Magdalene.co dan Alitra Gelar Pesta Literasi 5.0

21 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Ide Usaha Minyak Jelantah: Kotor, tapi Untung Jutaan per Bulan MOJOK.CO

Bisnis Pengepul Minyak Jelantah: Ide Usaha yang Nggak Populer tapi Bisa Untung Jutaan per Bulan

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.