Sulitnya mencari kerja di negara +62 sudah bukan hal yang tabu. Setelah lulus dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Firli Khoirul (28) menjadi salah satu orang yang mempertanyakan janji kampanye 19 juta lapangan kerja itu. Hingga mencari peluang kerja di Australia dengan Working Holiday Visa (WHV).
Sialnya, jurusan kuliah yang ia ambil tergolong di bidang pendidikan. Selain merasa tak bakat mengajar, Firli juga sanksi mengenai kesejahteraan guru di Indonesia. Kalut dengan rasa pesimisnya, Firli sempat menganggur hampir satu tahun.
Ia pun melamar kerja sana-sini sambil membantu ibunya jualan gado-gado dan lotek di teras rumah. Sampai akhirnya ia diterima kerja sebagai pegawai outsourcing di Surakarta, tapi Firli merasa belum puas mengingat gajinya yang kecil.
Sebagai anak pertama yang baru kehilangan bapak di tahun 2019, Firli merasa peran tersebut sudah berpindah sepenuhnya. Namun dengan gaji yang kecil, Firli berpikir tak akan mampu menghidupi ibu, kedua adiknya yang masih sekolah, serta keluarga kecilnya di masa depan.
“Jika hanya mengandalkan upah bulananku waktu itu, rasanya nggak mungkin bisa menghidupi anak istriku dengan layak kelak,” kata Firli dihubungi Mojok, Jumat (1/5/2026).
Di tengah kegalauannya tersebut, Firli mendapat informasi dari temannya bahwa ada pekerjaan di luar negeri. Gajinya pun lumayan, Rp40 juta per bulan. Kerjanya pun tak susah, kata temannya, hanya jadi kuli alias pekerja lepas dengan bayaran upah minimum Australia. Nyatanya, kerja di sana tak semudah yang dibayangkan Firli.
Sulitnya dapat WHV ke Australia
Firli akhirnya mendaftar Working Holiday Visa (WHV) batch pertama pada Agustus 2023, meski awalnya sempat ragu karena merasa tak punya kemampuan Bahasa Inggris yang bagus. Namun bukannya mundur setelah mengetahui kekurangan tersebut, Firli justru getol belajar secara mandiri.
Pemuda asal Surakarta itu pun sempat mengambil kursus berbayar, tapi menurutnya kurang efektif karena harus ada pertemuan tatap muka setidaknya 8 kali. Alhasil, ia memanfaatkan layanan online secara gratis.
“Yang penting tekadku kuat dan konsisten belajar selama 1-2 jam setiap hari,” ujar Firli.
Sembari melatih kemampuan bahasa asingnya, Firli juga menyiapkan segala berkas guna memperoleh Surat Dukungan untuk Work and Holiday Visa (SDUWHV). Sebetulnya, berkas yang dikumpulkan sederhana seperti bukti kualifikasi pendidikan hingga sertifikat kemampuan bahasa Inggris.
Namun, kata Firli, SDUWHV sulit didapat karena biasanya, permintaannya jauh lebih tinggi daripada kuota yang tersedia. Perbandingannya bisa 1:10. Artinya, banyak orang Indonesia yang minat ke Australia.
Beruntung, Firli menjadi orang yang lolos di percobaan pertamanya mendaftar. Ia pun berangkat ke Australia pada November 2023 dan mulai bekerja di perkebunan apel. Dari pekerjaan pertamanya itulah Firli sadar bahwa menjadi kerja lepas di luar negeri pun tak mudah.
Penerima WHV harus segera adaptasi
Baru 2 hari bekerja, ia dan teman-temannya kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Firli maklum karena hasil kerjanya tidak memenuhi target dan dinilai lelet. Ia pun tak protes tapi kemudian sadar, WHV di Australia rupanya harus beradaptasi dengan cepat.
“Untungnya, kami mendapatkan pekerjaan baru seminggu setelahnya,” kata Firli.
Pajak vs gaji pekerja WHV














