Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
28 April 2026
A A
Pesan untuk Perempuan usai Tragedi KRL dan Daycare Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - tantangan perempuan di tengah stigma. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kasus kekerasan anak di daycare Jogja dan kecelakaan yang menyebabkan ringseknya gerbong khusus wanita (KKW) pada commuterline (KRL) Cikarang Line, bikin saya merenung seharian ini. Serangkaian berita duka yang sekilas tak ada hubungannya ini, sebenarnya punya benang merah yang jelas. Korban adalah kelompok rentan yang melibatkan perempuan. 

Sayangnya, di tengah chaos tersebut, berbagai komentar negatif terhadap perempuan terus muncul bertebaran. Dalam konteks daycare di Jogja, ibu sekaligus perempuan yang harus bekerja dan menitipkan anaknya malah disalahkan. Mereka disangka tak becus memberikan pola asuh kepada anak bahkan lepas tanggung jawab. 

Padahal, banyak ibu pekerja yang sejatinya tak tega meninggalkan anak-anak mereka di penitipan. Namun, kondisi ekonomi menuntutnya untuk tetap bekerja sambil mengurus rumah. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, menjadi ibu di era modern ini makin sulit karena harus lelah secara fisik dan mental.

Perempuan yang harus bekerja dan mengurus rumah

“Dulu sebelum resign, aku memang memutuskan kerja di Jogja karena faktor ekonomi. Jadi setelah baru melahirkan selama 18 bulan, aku harus bantu suami karena kondisi lagi Covid juga,” kata Intan (36).

Karena Intan dan sang suami bekerja, mereka pun menitipkan anaknya ke sebuah daycare. Waktu itu, ia meyakini bahwa daycare yang baik akan membantu stimulasi dan cara bersosialisasi anak dibandingkan menyewa pengasuh yang hanya tinggal berdua dengan bayinya.

“Kebetulan dulu anakku juga speech delay, jadi sama dokter disarankan agar anakku masuk daycare saja agar membantu tumbuh kembangnya,” jelas Intan. 

Alih-alih mengetahui perjuangan ibu pekerja yang harus menitipkan anaknya, beberapa komentar negatif justru muncul setelah kasus kekerasan anak di daycare Jogja terjadi.

“Saya rela nggak punya pekerjaan, nggak punya gaji, makan seadanya, hidup seadanya asal anak tenang, senang, dan terurus. Kudampingi anakku dari bangun tidur sampai tidur lagi daripada dititipin orang lain,” kata salah satu akun @has91156 di Threads.

“Kalau bisa jangan egois Bu, jualan di rumah kek walau untung nggak seberapa atau cukup untuk makan sehari-hari. Tunggu anak besaran,” kata @awan_biru22222.

“Lagian kenapa sih harus dititipin ke orang lain kalau masih bayi? Salah keduanya sih, orang tua dan daycare-nya,” kata @nonaname077.

Namun, setelah mendengar dan melihat kejadian kecelakaan KRL Cikarang Line yang videonya mudah dilihat di mana-mana, masihkah ada yang tega untuk menuding sang ibu, menjadikannya ‘samsak’ bahwa segala pilihan yang perempuan buat adalah keputusan yang salah. 

Korban kecelakaan KRL Cikarang Line seluruhnya perempuan

Menjawab nyinyiran tadi, tragedi KRL Cikarang Line yang terjadi pada Senin malam (27/04/2026) seharusnya menjadi tamparan keras untuk kita. Alih-alih menuding siapa, bukankah alangkah baiknya jika pertanyaan pertama yang diganti adalah bagaimana?

Dalam kecelakaan KRL yang menewaskan 15 orang itu (update: Selasa (28/4/2026 pukul 14.00), ada keluarga yang sedang menunggu anggotanya pulang ke rumah dengan selamat senantiasa memanjatkan doa yang tak pernah putus—semoga aman, semoga mereka baik-baik saja di sana. Ada pula seorang ibu pekerja yang berharap pulang sebelum anaknya terlelap.

Melansir dari Pikiran Rakyat, salah satu perempuan yang tewas dalam tragedi tersebut adalah Nurlaela (37), seorang guru PNS yang kini telah meninggalkan anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD untuk selama-lamanya. 

Iklan

Saban hari, Nurlaela memang menggunakan KRL sebagai transportasi utama untuk berangkat dari rumahnya di Kabupaten Bekasi dan mengajar di salah satu SD wilayah Jakarta Timur. 

Untuk perempuan, jangan pernah kehilangan empati di tengah tragedi

Oleh karena itu, wajar jika para perempuan kini ikut menyerukan bentuk bela sungkawa mereka, alih-alih memberikan komentar negatif atau menghakimi perempuan di situasi duka seperti sekarang. Entah hanya dalam bentuk kiriman doa maupun empati yang ditujukan kepada korban. 

Safira Firdaus misalnya, seorang ibu pekerja ini berharap kasus daycare di Jogja dan kecelakaan KRL membuka mata semua orang tentang perjuangan berat seorang perempuan.

“Bukan cuma karena tanggung jawabnya, tapi karena dunia seolah punya stok ‘penghakiman’ tanpa batas untuk setiap pilihan yang kita buat. Saat musibah terjadi–entah itu di daycare atau kecelakaan KRL, pertanyaan pertama yang muncul seringkali begini, siapa penjahatnya? Bukan bagaimana kondisinya?”

“Padahal, Ibu yang bekerja itu pejuang, ibu rumah tangga itu pejuang, ibu yang menitipkan anak karena tuntutan ekonomi itu pejuang. Jadi stop nirempati,” tegas Safira. 

Badan Pusat Statistika (BPS) bahkan mencatat sebanyak 14,37 persen pekerja di Indonesia merupakan female breadwinners, yakni perempuan yang bekerja dan memiliki penghasilan paling dominan di antara anggota keluarga. Menariknya, 40,77 persen berstatus sebagai istri. 

Women support women yang diperlukan saat ini

Istilah female breadwinners sendiri muncul karena fenomena perempuan yang bertanggungjawab atas kesejahteraan finansial keluarga di tengah kesibukannya menjalankan tanggung jawab domestik di rumah.

“Dulu waktu aku kerja kantoran selama 5 tahun, rasanya capek banget. Berangkat pagi, terus pulangnya sore langsung masakin anak dan beres-beres rumah. Makanya aku sedih banget pas dengar berita duka yang bertubi-tubi ini,” kata Intan.

“Nggak kebayang ada ibu yang pulang kerja di dalam gerbong itu dan jadi korban. Sedih banget,” lanjutnya. 

Oleh karena itu, tragedi kecelakaan KRL maupun kasus daycare ini seharusnya menjadi potret nyata dari cerita hidup, perjuangan, dan kenangan baik korban untuk keluarga yang ditinggalkan. Mari berdoa untuk korban yang meninggal supaya mereka mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Juga keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan penghiburan. Serta korban yang luka segera diberi kesembuhan sehingga bisa beraktivitas lagi. Peluk erat untuk ibu dan perempuan yang sedang berjuang. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 April 2026 oleh

Tags: daycare jogjaibu pekerjakecelakaan KRL bekasikecelakaan KRL Cikarang Linekekerasan anakperempuan pekerja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja
Aktual

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO
Catatan

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Pesan untuk Perempuan usai Tragedi KRL dan Daycare Jogja. MOJOK.CO

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

28 April 2026
Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”, Definisi Rindu Itu Bersifat Universal.MOJOK.CO

YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal

28 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.