Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Fragmen

Prabowo dan Pejabat Negara Kita Perlu “Kuliah Komunikasi” agar Tak Arogan dan Nirempati terhadap Tuntutan Rakyat

Khatibul Azizy Alfairuz oleh Khatibul Azizy Alfairuz
2 September 2025
A A
Presiden Prabowo tak mau minta maaf. Komunikasi publik dinilai buruk. MOJOK.CO

ilustrasi - Presiden Prabowo "jogat-joget". (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Komunikasi pejabat publik tak mampu meredam amarah publik, justru menimbulkan demo yang menjalar ke berbagai daerah. Lebih-lebih, Presiden Prabowo tak meminta maaf atas kerusuhan yang terjadi. Pengamat komunikasi publik mengimbau keterampilan komunikasi para pejabat negara harus dibenahi.

***

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Suko Widodo menyayangkan buruknya komunikasi pejabat negara di Indonesia. Alih-alih mengajak berdialog, masyarakat justru merasa digurui. Tak ayal, buruknya komunikasi pejabat menjadi salah satu faktor meletupnya demonstrasi di berbagai daerah.

Menurut informasi yang Mojok rangkum dari berbagai media massa, demo besar diawali pada Senin (25/8/2025) oleh berbagai kalangan masyarakat. Mulanya, demo itu sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kenaikan tunjangan anggota DPR. Kenaikan tersebut berbanding terbalik dengan ucapan Presiden Prabowo yang terus-menerus mengatakan adanya efisiensi anggaran.

Buruknya komunikasi pejabat publik

Alih-alih menjelaskan kepada publik mengapa terjadi kenaikan, para anggota DPR RI malah menyampaikan pernyataan yang tak masuk akal dan nirempati. Sebut saja, Wakil Ketua DPR Adies Kadir yang menilai tunjangan rumah bagi anggota dewan sebesar Rp50 juta per bulan masih wajar. Ia bahkan menjelaskan hitung-hitungan yang tak masuk akal. 

Selain itu, komentar bernada sama juga dilontarkan oleh anggota DPR fraksi Nasdem Ahmad Sahroni. Ia mengomentari gaji dan tunjangan anggota DPR sebagai sesuatu yang nantinya akan kembali ke masyarakat, alih-alih minta maaf.

“Kami Anggota DPR sangat menyadari merupakan pejabat publik yang digaji oleh masyarakat dan pada akhirnya uang tersebut akan kembali ke masyarakat. Melalui apa? Salah satunya program kerja dan berbagai bantuan sesuai aspirasi masyarakat di dapil,” ujar Sahroni dikutip dari tvonenews, Rabu (27/08/2025).

Amarah publik pun makin tak terhindarkan usai mendengar respons para pejabat. Maka, unjuk rasa dilakukan lagi pada Kamis (17/8/2025) di depan Gedung DPR. Aksi tersebut mulai ricuh saat malam hari dimana sejumlah orang merusak fasilitas dan melemparkan batu maupun botol ke arah dalam gedung.

Beberapa waktu kemudian, kendaraan taktis milik Brimob mencoba membubarkan massa dan melindas seorang driver ojol Affan Kurniawan hingga tewas. Tak hanya itu, setidaknya tercatat ada 6 korban selain Affan yang meninggal dalam rangkaian aksi massa hingga Minggu (31/8/2025).

Sementara itu, Prabowo sama sekali tak memberikan pernyataan maaf atas kericuhan yang terjadi akibat kebijakannya yang dinilai merugikan rakyat. Dan justru memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk menindak tegas massa yang anarkis.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Presiden Republik Indonesia (@presidenrepublikindonesia)

Iklan

“…Apsirasi dapat disampaikan secara damai. Namun jika ada aktivitas anarkis, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan, itu pelanggaran hukum dan negara wajib hadir untuk melindungi rakyatnya,” ucap Prabowo dikutip dari akun Instagram resminya, Selasa (2/9/2025).

Mengapa Prabowo enggan minta maaf?

Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa komunikasi pejabat publik di Indonesia masih jauh dari ideal. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Suko Widodo mengatakan komunikasi pejabat seperti di atas lebih banyak menggunakan gaya komunikasi elitis, normatif, bahkan arogan.

“Padahal dalam demokrasi, komunikasi pejabat publik mestinya menekankan transparansi, empati, dan partisipasi. Jika ini diabaikan, kepercayaan publik terhadap pemerintah melemah,” ujar Suko dalam keterangan tertulis, Rabu (27/8/2025).

Tak pelak, masyarakat jadi tersulut amarah karena kurangnya keterampilan komunikasi dari pejabat negara. Di sisi lain, sikap minta maaf atau mengundurkan diri belum menjadi budaya di Indonesia. Padahal, di negara maju sikap seperti itu adalah bentuk tanggung jawab moral.

“Sayangnya, di Indonesia, mundur dianggap kelemahan. Padahal, langkah ini justru menjaga kehormatan pribadi sekaligus martabat lembaga,” jelas Suko.

Lebih dari itu, Suko menyebut akar dari permasalahan ini berhubungan dengan kultur politik feodal yang masih berkutat pada pola relasi “atasan-bawahan”. Pejabat merasa dalam posisi superior, sehingga komunikasi berlangsung satu arah.

Selain itu, budaya patrimonial dan oligarkis masih mengakar kuat di Indonesia. Dalam tradisi ini, jabatan sering dipandang sebagai privilese, bukan amanah. Akibatnya, pejabat lebih berperan sebagai penguasa ketimbang pelayan publik, sehingga akuntabilitas pun ikut melemah. Hal itu juga terlihat dari sikap Prabowo.

“Latar belakang sosial politik mereka yang sering kali dibesarkan dalam tradisi feodal, patronase, dan pragmatisme politik, membentuk habitus komunikasi yang jauh dari empati,” ucap Suko.

Komunikasi pejabat negara perlu dibenahi

Suko mengimbau agar pejabat memperbaiki komunikasi publik mereka. Pertama, melatih keterampilan komunikasi dalam hal listening skill dan crisis communication. Sehingga, komunikasi dapat berjalan dua arah. 

Kedua, membangun budaya akuntabilitas. Pejabat perlu memahami bahwa sikap minta maaf atau mundur bukan berarti lemah. Ketiga, memanfaatkan media digital untuk dialog dan transparansi, bukan sekadar pencitraan. 

Keempat, memberikan teladan komunikasi empatik dari pimpinan tertinggi agar nilai tersebut mengalir ke seluruh lapisan birokrasi.

“Jika empat hal ini dijalankan secara konsisten, pejabat publik bisa lebih dipercaya dan dekat dengan masyarakat. Komunikasi yang baik bukan hanya etika, tetapi juga kunci keberhasilan tata kelola pemerintahan,” kata Suko.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Mojok periode Juli-September 2025. 

Penulis: Khatibul Azizy Alfairuz

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Prabowo Nangis Saat Umumkan Kenaikan Gaji Guru, Guru Honorer Lebih Nangis karena Tetap Terpinggirkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2025 oleh

Tags: ahmad sahroniDemo ricuhDosen Unairkomunikasi publikprabowoPrabowo Subiantotunjangan dpr
Khatibul Azizy Alfairuz

Khatibul Azizy Alfairuz

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO
Esai

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.