Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
25 Maret 2026
A A
Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO

ilustrasi - tren foto newspaper photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ramainya foto ala newspaper di Jalan Tunjungan milik Snoera iPad Booth tidak terjadi secara kebetulan. Kesuksesannya berasal dari ide dan jerih payah Farah Nur Jihan (29) sejak November 2025. Perempuan asal Surabaya yang kini bekerja sebagai guru Bahasa Inggris ini pun tidak menyangka bisnisnya akan ramai seperti sekarang.

***

Setelah berkunjung dan bercengkerama ke rumah teman lama pada Sabtu (21/3/2026) malam, saya dan 2 orang teman saya memutuskan pergi ke Jalan Tunjungan sekadar untuk photobooth, setelah itu langsung pulang.

Kami pun baru sadar, terakhir kali foto bersama di photobooth ialah saat kelas 1 SMP. Padahal, semasa SD dulu kami sering menghabiskan waktu di mal dan mencoba photobooth. Tidak terasa, waktu cepat berlalu sehingga saya harus merantau ke Jogja dan satu orang teman lainnya harus pindah rumah.

Oleh karena itu, Lebaran tahun 2026 ini amatlah berkesan bagi kami karena bisa berkumpul lagi di Surabaya. Karena tak ingin menyia-nyiakan momen tersebut, kami rela mengantre untuk mencoba iPad Booth di depan Hotel Majapahit pakai jasa dari Snoera.

“Silakan ambil nomor antrean di sini kak,” ujar salah satu petugas menunjuk sebuah kotak di samping mesin printer. 

Jujur, saya cukup syok saat mengambil nomor antrean yakni 164. Untungnya saat itu, kami hanya perlu menunggu 2 rombongan lagi yang ingin berfoto. Jika satu antrean membutuhkan waktu sekitar 10 menit, maka saya dan teman-teman harus menunggu waktu 20 menit.

2 sahabat saya pun menunggu dalam diam, sementara saya mengamati 2 sampai 3 orang petugas yang kewalahan melayani pengunjung. Sampai-sampai pengambilan nomor antrean harus dihentikan sejenak agar pengunjung tidak membludak. Di sanalah saya berkenalan dengan salah satu pegawai Farah Nur Jihan, yang kemudian mempertemukan saya untuk mengobrol langsung dengan Farah. 

Buka iPadbooth di Jalan Tunjungan sembari jadi guru

Farah, sapaan akrabnya adalah alumnus Universitas Terbuka (UT) yang menempuh S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Surabaya. Setelah lulus S1, ia melanjutkan karier sebagai guru Bahasa Inggris dan juga asisten dosen di salah satu sekolah tinggi.

Di sela-sela kesibukannya itu, Farah melanjutkan S2 sambil membuka iPad Booth di acara car free day seperti di Taman Bungkul dan Jalan Tunjungan.

“Aku memang hobi foto dan photobooth. Cuman aku selalu kecewa atau kurang puas sama frame di photobooth yang warnanya monoton dan hanya itu-itu saja. Jadi aku suka buat frame sendiri, sekarang malah buka bisnis begini hehe,” tutur Farah.

Sebelum Snoera iPad Booth milik Farah ramai seperti sekarang, perempuan asal Surabaya ini tak luput dari jatuh bangun. Pertama kali membuka iPad Booth di Jalan Tunjungan, Surabaya, pengunjung yang datang hanya 1-3 orang.

“Aku buka sore sekitar jam 17.00 WIB sampai malam, tapi kadang cuma dapat beberapa pelanggan, bahkan pernah hanya ada 1 orang. Mungkin waktu itu belum banyak yang notice,” jelas Farah. 

Akhirnya, Farah pun pindah tempat di Taman Bungkul dan ternyata respons masyarakat jauh lebih tertarik. Setidaknya, Farah bisa mendapat sekitar 20 orang pelanggan dalam satu hari. Dari situlah kepercayaan diri Farah muncul kembali.

Iklan

Tren foto ala newspaper mengundang massa

Tak berhenti sampai di situ, Farah pun mencari ide lain untuk mengembangkan bisnisnya lewat tren di TikTok. Dari sanalah ia menemukan konsep foto newspaper. Alih-alih menjiplak desain frame, Farah melakukan inovasi dengan penataan frame berisi 4 foto serta latar belakang ikon bangunan di Surabaya. Siapa sangka, peminatnya makin pesat, terutama dari kalangan anak muda.

@snoera.ipadbooth thankyou for this week 💗 see you next weekend ✨ 📍sebelah @ILEGAL bloc ( Jalan Tunjungan) #photobooth #photoboothtrend #surabaya #ilegalbloc #tunjungan ♬ RUDE! – Hearts2Hearts

“Bahkan pelangganku bisa sampai 100 orang di pagi hari saja. Banyak yang bilang konsepnya lucu, unik, dan beda dari yang lain. Sampai akhirnya aku balik ke Tunjungan dan responsnya makin gila, dari jam 17.00 WIB sampai 23.00 WIB antreannya ramai,” kata Farah.

Menurut Farah, banyak yang penasaran dan FOMO untuk foto ala newspaper. Terlebih, ia hanya mematok harga Rp5 ribu untuk satu cetakan foto mini (4R) tanpa batas orang. Ada yang pakai kertas biasa dan ada yang pakai kertas kraft coklat.

“Terus nanti dimasukkan plastik dan dikasih tali biar bisa dibawa kayak tas,” kata Farah.

Untuk kertas foto, Farah mematok harga Rp10 ribu dengan ukuran yang sama. Sementara, untuk ukuran besar, harganya lebih tinggi. Dalam sehari, Farah bisa mendapat total 160 antrean pengunjung. Jika satu pengunjung membeli satu cetak foto seharga Rp5 ribu, Farah bisa mendapat sekitar Rp800 ribu lebih dalam sehari.

Bayangkan, dalam satu antrean biasanya pengunjung tak hanya mencetak 1, tapi bisa puluhan. Bukan tidak mungkin, Farah bisa mendapat Rp1 juta dalam sehari. Apalagi, di momen-momen tertentu seperti Lebaran tahun ini.

Mencari berkah di Jalan Tunjungan sampai malam

Farah tak mengelak, karena ramainya pengunjung ia sempat kewalahan khususnya di bagian operasional. Waktu cetak yang lama berdampak pula dengan antrean yang panjang. Belum lagi konsepnya berada di jalanan Surabaya yang panas meski malam hari. 

“Karena kita masih pakai printer rumahan. Jadi pas lagi ramai banget, pelanggan harus nunggu cukup lama buat ambil hasil foto. Kami juga merasa perlu improve dari segi set up biar lebih siap sama cuaca, entah itu panas atau hujan, supaya tetap nyaman buat pelanggan,” ujarnya.

Agar tak terlalu lama antre, Farah sudah menggunakan 2 iPad. Ke depannya, ia ingin menambah alat lain atau membuat sistem yang lebih rapi agar alur transaksi pelanggan lebih cepat, serta menyiapkan konsep baru yang lebih segar dan kekinian.

“Supaya nggak cuma ikut tren, tapi juga terus bikin sesuatu yang beda,” ujarnya.

Meski banyak kekurangan, Farah bersyukur masih banyak pelanggan yang puas dengan hasil foto iPad Booth di tempatnya. Ia juga merasa terbantu dengan sejumlah kawan yang membantunya secara part time dan sekaligus ingin menambah pengalaman.

“Banyak pelanggan yang bilang kakak-kakaknya ramah, jadi orang tetap enjoy walaupun harus antre,” kata Farah.

Saya pun merasakannya sendiri dan melihat langsung cara kerja teman-teman Farah di iPad Booth-nya. Mereka saling membantu meski itu bukan job desk utama mereka. Sesekali mereka juga menimpali obrolan pengunjung di Jalan Tunjungan dengan bercanda. 

Sampai kemudian, sekitar 15 menit berselang cetakan foto dan teman-teman saya jadi. Untuk meminta soft file-nya, saya cukup mengirim pesan ke akun Instagram @snoera.ipadbooth.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: Gen ZiPad Boothjalan tunjunganphotoboxphotobox di SurabayaSurabayatunjunganuniversitas terbukaUT
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle
Urban

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.