Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Mei 2026
A A
buku remy sylado.MOJOK.CO

Ilustrasi Remy Sylado (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Buku Remy Sylado, Inani Keke dan Trabar Batalla, menjadi angin segar di tengah gempuran fiksi sejarah Jawa-sentris di skena perbukuan kita. Uniknya, ia sempat dianggap budaya rendah oleh sebagian elitis di masanya.

***

Sejujurnya, ada satu titik di mana saya sering merasa jenuh saat menatap deretan novel fiksi sejarah di rak buku saya. Bukannya saya tidak menyukai sejarah. Saya sangat menyukainya, bahkan pernah kuliah di jurusan Ilmu Sejarah.

Masalahnya, hampir semua narasi besar yang kita miliki seolah-olah memiliki satu “kiblat” yang sangat kaku: Pulau Jawa di abad ke-19 atau ke-20. Kita seolah dipaksa untuk terus-menerus mengunyah ingatan tentang pedihnya era Hindia Belanda, urusan tanam paksa, atau heroisme melawan Jepang dalam latar sosiokultural yang sangat Jawa-sentris.

Novel-novel dari penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer, lewat Tetralogi Buru, memang sudah menjadi standard karya yang dianggap luar biasa. Begitu juga dengan karya-karya Y.B. Mangunwijaya, atau belakangan Dido Michielsen dengan Lebih Putih Dariku. 

Namun, sehebat apa pun karya-karya itu, mereka tetap bermain di zona waktu dan lokasi yang sudah sangat “akrab” dan bahkan mungkin terlalu sering dieksplorasi. Ada ruang kosong dalam memori literatur sejarah kita yang membuat saya sering bertanya: di mana cerita tentang kepulauan lain sebelum Belanda menjadi penguasa tunggal?

Angin segar dari Minahasa

Kejenuhan itu mendadak hilang saat saya menemukan dua karya lama dari mendiang Remy Sylado. Inani Keke (1966) dan Trabar Batalla (1968).

Membaca kedua buku ini rasanya seperti ditarik paksa keluar dari zona nyaman sejarah. Bayangkan saja, di saat banyak penulis fiksi sejarah kita sibuk mengurus birokrasi kolonial abad ke-19, Remy, yang saat itu baru berusia 20-an, sudah mengajak kita melesat jauh ke belakang. Yakni ke abad ke-16 di pesisir Teluk Minahasa.

Jujur, ada rasa terkejut ketika saya menyadari bahwa sejarah kolonial kita ternyata punya sisi lain yang sangat jarang dibahas secara populer: kehadiran bangsa Spanyol. 

Suasananya bukan lagi soal kantor-kantor di Batavia. Melalui dua karya itu, Remy menggambarkan suasana pesisir yang liar di Uwuran; di sebuah benteng bernama El Amoran, tempat aroma laut dan asap mesiu bertemu.

Di sinilah Remy meletakkan ceritanya, di sebuah era yang bagi banyak orang dianggap sebagai “titik buta”. Namun di tangan Remy, masa itu menjadi panggung yang sangat hidup.

Krisis identitas kaum Mestizo dalam novel Remy Sylado

Hal pertama yang paling membuat saya termenung lama adalah cara Remy mengolah isu identitas. Jika dalam novel sejarah era Belanda kita sering bertemu dengan istilah “Indo”, yang lahir dari institusi per-Nyai-an, dalam Inani Keke dan Trabar Batalla, kita diperkenalkan dengan kaum Mestizo. 

Mestizo adalah sebutan bagi keturunan campuran Spanyol dan pribumi di Minahasa abad ke-16.

Melalui tokoh utama bernama Pepito (Josefito Ranoyapo Panda), saya melihat sebuah potret krisis identitas yang terasa sangat modern sekaligus purba. 

Iklan

Pepito adalah personifikasi dari manusia yang “terjepit”. Sebagai seorang Mestizo, dia bukan siapa-siapa di mata orang kulit putih Eropa yang congkak, seperti tokoh Fidel atau ayah tirinya yang kejam, Durant (Jesus Garcia). Baginya, darah pribumi yang mengalir di tubuhnya adalah cacat permanen di mata kolonial Spanyol. 

Namun, di saat yang sama, dia tidak sepenuhnya bisa melebur dengan penduduk lokal yang memandangnya dengan rasa curiga dan sentimen rasial.

Penindasan yang melampaui batas ras

Posisi terjepit ini membuat saya langsung teringat dengan karakter-karakter Indo dalam karya Pramoedya. Bedanya, jika di era Belanda konfliknya sangat bersifat hukum dan administratif, seperti urusan hak asuh anak atau status kewarganegaraan, di Minahasa abad ke-16 ini, konfliknya jauh lebih personal, fisik, dan berdarah-darah.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah peran para ibu dalam cerita ini. Saya melihat kontras yang menarik jika menyandingkan Nyai Ontosoroh dengan sosok Isabella, ibu Pepito. 

Jika Ontosoroh adalah simbol ketegaran perempuan pribumi yang melawan sistem, Isabella adalah perempuan Spanyol tulen yang justru menjadi korban kekejaman bangsanya sendiri setelah menikah dengan pria Minahasa (Wai Ranoyapo). 

Nasib Isabella yang nestapa di tangan Durant menunjukkan bahwa dalam sejarah kolonial ala Remy, penderitaan tidak mengenal warna kulit. Siapa pun yang mencoba melintasi batas ras akan dihancurkan oleh sistem yang ada.

Penyelipan idiom-idiom Jawa yang agak absurd

Hal unik lainnya yang sangat “Remy Sylado” adalah soal bahasa. Ceritanya terjadi di Minahasa tahun 1500-an. Akan tetapi, Remy dengan sangat berani (atau mungkin mbeling) mencampurkan dialog berbahasa Spanyol dan Melayu-Manado dengan idiom-idiom bahasa Jawa seperti “nrimo”, “dijawil”, atau “menggèh-menggèh”. 

Bagi pembaca yang mengejar akurasi sejarah (yang kaku), ini mungkin dianggap sebagai sebuah kesalahan teknis. Namun, bagi saya, ini adalah cara cerdas Remy untuk menunjukkan hibriditas atau percampuran budaya kita yang memang tidak pernah rapi. 

Dia seolah ingin bilang bahwa identitas kita ini memang berantakan dan campur aduk sejak lama. Dan bahasa adalah bukti paling nyata dari kekacauan yang indah itu.

Penyelesaian konflik yang lebih maskulin versi Remy Sylado

Resolusi konflik yang ditawarkan Remy pun sangat maskulin dan berbeda dari novel sejarah biasanya. Jika Minke melawan lewat tulisan di koran, Pepito menyelesaikan dendam atas kematian ayahnya lewat jalur yang lebih purba: Trabar Batalla atau perang tanding.

Di sini, saya seperti melihat adegan film perang yang begitu kolosal. Bayangkan suasana malam yang mencekam di Pantai Uwuran, di mana pasir laut yang kering beradu dengan langkah kuda dalam kegelapan. 

Suara deburan ombak yang di Teluk Minahasa digambarkan Remy, seolah menjadi musik latar bagi kilatan pedang sondang yang saling beradu.

Remy menggambarkan duel ini tak sekadar menjadi adegan film action. Ia menggambarkannya sebagai “pengadilan” terakhir bagi manusia yang tidak punya tempat dalam hukum formal. 

Pepito bukan Minke, ia tidak punya koran untuk mengadu. Ia juga dia tidak punya pengadilan yang adil untuk menuntut Durant. Yang dia punya hanyalah kehormatan untuk berhadapan satu lawan satu di medan laga. 

Ini adalah perlawanan purba seorang pemuda yang identitasnya dirampas. Sebuah cara menyelesaikan masalah yang sangat maskulin, dan sesuai dengan napas zaman kolonisasi awal yang masih sangat keras dan tanpa ampun.

Harta karun yang sempat dianggap “budaya rendah”

Puncak keunikan buku ini tentu ada pada bentuk fisik bukunya. Di sini saya harus sepakat dengan Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang menulis kata pengantarnya. 

Kata SGA, Remy muda benar-benar seorang pelopor sastra multimodal yang mendahului zamannya. Sebelum industri buku mengenal istilah ilustrasi digital, Remy sudah berani menyelipkan “foto-drama” ke dalam novelnya. 

Dia menyutradarai adegan, mengajak aktor sungguhan (seperti Rima Melati muda), lalu memasukkan foto-fotonya ke halaman buku agar pembaca punya gambaran visual yang nyata.

Namun, di sinilah letak–meminjam kata SGA–”pemberontakan estetikanya” yang paling jenius. Meskipun latar ceritanya abad ke-16, tokoh Pepito di dalam foto itu justru tampil dengan rambut jambul pompadour ala Elvis Presley.

Kalau kata SGA, ini bukan karena Remy malas riset, tapi karena dia sedang bermain-main. Dia menjadikan sejarah sebagai taman bermain budaya pop. Dia tidak mau tunduk pada aturan realisme yang kaku dan membosankan. Inilah bibit awal semangat “mbeling” yang kemudian membesarkan namanya di majalah Aktuil.

Sayangnya, karya yang begitu visioner ini sempat terlupakan karena dianggap sebagai “budaya rendah” atau roman picisan oleh kritikus sastra yang elitis pada masanya, hanya karena format bukunya yang kecil dan beredar di taman bacaan kumuh. Padahal, jika kita membacanya hari ini, Inani Keke dan Trabar Batalla adalah harta karun yang luar biasa.

Per hari ini, Jumat, 15 Mei 2026, Shira Media resmi merilis ulang cetakan mahakarya Remy Sylado ini. Bagi kamu yang ingin melengkapi koleksi dan menyelami kisahnya, pemesanan dapat dilakukan melalui tautan berikut: PESAN BUKU.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2026 oleh

Tags: Bukubuku fiksi sejarahbuku remy syladofiksi sejarahinani kekejawa-sentrisnovelnovel remy syladopilihan redaksiprofil remy syladoremy syladoseno gumira ajidarmashira mediatrabar batalla
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO
Esai

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

burung migrasi.MOJOK.CO

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026
Joki UTBK SNBT di Surabaya raup cuan Rp700 juta demi kebutuhan hidup. Kedokteran jadi incaran MOJOK.CO

Joki UTBK SNBT Bisa Raup Rp700 Juta: Buat Kebutuhan Hidup karena Keterbatasan, Cuan Gede dari Jurusan Kedokteran

10 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.